Monday, November 28, 2022

Kecil Pedas Dicari!

Rekomendasi

Pilihan baru pekebun cabai rawit: genjah dan produktif. Ada juga yang bisa dipanen bertahap.

Bagi Henhen Suhendi di Bandung, Provinsi Jawa Barat, menyantap gorengan terasa tak lengkap tanpa cabai rawit menemani. Sekali menyantap sepotong tahu isi Henhen menghabiskan 5-6 buah cabai rawit. Henhen memilih cabai rawit berukuran kecil dengan aroma menyengat. “Rasa cabai rawit kecil lebih pedas, cita rasa makanan jadi lebih kuat,” kata Henhen.

Henhen beruntung karena ke depan cabai rawit berukuran kecil kian mudah ditemukan di pasaran. PT East West Seed Indonesia (PT EWSI) meluncurkan nirmala dan santika; dua cabai rawit hibrida teranyar. Keduanya tergolong cabai rawit kecil dengan bobot per buah rata-rata 2 g. Bandingkan dengan hibrida lain yang bobotnya mencapai 3-4 g per buah.

Nirmala berukuran panjang 4 cm dengan diameter 0,8 cm dan berwarna hijau keputihan saat menjelang matang. Produktivitasnya mencapai 350-500 g per tanaman, setara 7-10 ton per ha dengan populasi 20.000 tanaman. Adapun cabai rawit santika yang berwarna hijau gelap berukuran lebih pendek, hanya 3,5 cm dengan diameter 1,1 cm. Produktivitas santika lebih tinggi, mencapai 400-650 g per tanaman, setara 8-13 ton per ha. Rata-rata produktivitas cabai rawit nasional hanya 6-9 ton per ha.

Adaptif

Hasil uji multilokasi di 3 tempat, yaitu Kecamatan Campaka dan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, serta Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menunjukkan keduanya tumbuh baik di dataran rendah sampai tinggi. Nirmala dan santika bisa panen pertama pada 85 hari setelah tanam (hst) sampai tanaman berumur 7 bulan. Itu 2 minggu lebih cepat ketimbang dewata atau pelita-keduanya varietas andalan PT EWSI terdahulu yang panen pertama pada 100 hst.

Menurut Wakrimin, manajer produksi PT EWSI, petani yang menanam nirmala dan santika tidak perlu khawatir serangan patek alias antraknosa akibat serangan cendawan Colletotrichum capsici. Dalam skala 1-5, nilai ketahanan nirmala mendapat poin 4 sedangkan santika memiliki nilai ketahanan 4,5. Sosok tanaman tegak setinggi 75 cm dengan percabangan rimbun memincut banyak petani. Efeknya, benih keduanya banyak dicari meski belum dilepas secara komersil.

Varietas unggul salah satu faktor penentu keberhasilan penanaman cabai. Menurut Ade Ismail SP MP, dosen di Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, pertumbuhan dan perkembangan individu tanaman terjadi akibat interaksi antara sifat genetik dan lingkungan. Lingkungan mengacu pada cara budidaya yang diterapkan. “Gen unggul pada individu tanaman tidak berarti apapun tanpa teknik budidaya yang baik,” kata Ade Ismail.

Sebelum PT EWSI melahirkan nirmala dan santika, PT Sang Hyang Seri lebih dulu menghadirkan comexio dan meteoxio. Buah comexio yang putih kehijauan mirip nirmala tapi bobot buah lebih berat rata-rata mencapai 3 g. Comexio berbuah lebat menggerombol dan berbunga pada umur 45 hari hst, lalu mulai panen pada 80 hst. Varietas itu berumur panjang hingga 1,5 tahun dan sangat produktif. Petani bisa 18 kali panen. Dengan populasi 20.000 tanaman per ha, potensi Capsicum chinensis itu 12-15 ton per ha.

Meteoxio berbunga pada 40 hari setelah tanam (hst), lalu mulai umur 70 hst petani memanen buah hijau dan merah cerah mengilap berujung meruncing. “Meteoxio cocok bagi penggemar cabai rawit segar,” kata Totok Priyono dari divisi pasar retail Sang Hyang Seri. Pasalnya, meteoxio yang panjang 2-3 cm dan berdiameter 2-3 mm sangat pedas. Meteoxio berproduksi hingga 1,5 tahun dengan 12 kali panen dan potensi hasil 6-7 ons per per tanaman atau 12-14 ton per ha jika populasi 15.000-20.000 tanaman.

Fase pembungaan meteoxio dan comexio bertahap sehingga buah dapat dipanen bertahap. Pekebun cabai rawit biasanya memanen setiap 15 hari secara sekaligus. Meteoxio dan comexio dapat dipanen dalam 3-4 kali pada masa panen per 15 hari karena tingkat kematangan buah berbeda. Menurut Totok, kelebihan lain meteoxio dan comexio adalah adaptif di dataran rendah maupun tinggi dan produksi tetap tinggi.

Meteoxio dan comexio menuntut pemupukan dan perawatan intensif agar berbuah maksimal. Pemupukan untuk lahan 1 ha dengan mengocorkan campuran masing-masing 200-300 g pupuk Urea, SP36, dan KCl dalam 50 l air ke setiap lubang tanam. Frekuensi pemupukan susulan setiap satu minggu sekali. Siramkan 0,2-0,3 l larutan per tanaman berumur kurang dari sebulan.

Saat tanaman berumur lebih dari sebulan, tingkatkan pemupukan menjadi 0,5 l larutan per tanaman. Lakukan pemupukan setiap pekan selama tanaman produktif, yakni berumur maksimal 1,5 tahun. Dengan demikian nutrisi tanaman anggota famili Solananceae itu tercukupi sehingga produksi optimal.

Menurut kepala Bagian Produksi Benih PT SHS, Ir Triturawan MS, meteoxio dan comexio dirilis pertama kali pada 2007 sebagai benih bersubsidi. Konsekuensinya pengemasan varietas itu kurang menarik sehingga petani kurang meminatinya. Maklum, kemasan benih yang sederhana itu kadang malah dianggap benih palsu. Itulah sebabnya pada 2 November 2012, PT SHS “merilis ulang” kedua varietas itu dengan kemasan yang lebih menarik.

Menurut Ir Kaharuddin MM, direktur umum PT SHS, peluncuran kemasan baru itu untuk menanggapi permintaan pasar. Maklum, pasar benih nasional sangat besar karena luas tanam nasional mencapai 13-juta ha dengan kebutuhan 325.000 ton benih. “Pada 2013 mendatang, PT SHS menargetkan produksi 200.000 ton benih,” kata Kaharuddin. Itu untuk menutup setidaknya 62% kebutuhan benih nasional. (Muhamad Khais Prayoga/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Rawit segar menjadi teman santap aneka gorengan
  2. Produktivitas varietas santika mencapai 300-650 gram per tanaman
  3. Varietas nirmala, berumur genjah
  4. Wakil Menteri Pertanian Dr Rusman Heriawan menandatangani kemasan baru benih disaksikan dirut PT SHS Ir Kaharuddin MM
  5. Pembungaan meteoxio tidak serempak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img