Friday, May 8, 2026

Kecipir Berpotensi Jadi Bahan Pakan Gurami, Kecernaan Protein Tembus 70%

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deisi Heptarina, bersama tim mengembangkan formulasi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) berbasis biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus). Tanaman legum tropis ini dikenal kaya protein dan memiliki komposisi asam amino yang baik. Kecipir juga tumbuh luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan hampir seluruh bagian bernilai ekonomi.

“Biji kecipir berpotensi menjadi bahan baku pakan lokal pengganti sebagian bahan impor karena kandungan nutrisinya yang cukup baik,” ujar Deisi melansir pada laman BRIN. Menurut dia, pemanfaatan bahan lokal dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi pakan.

Dalam penelitian tersebut, tim menguji tiga jenis perlakuan tepung biji kecipir. Perlakuan itu meliputi tepung utuh tanpa pengolahan, tepung rendah lemak hasil pengepresan minyak, serta tepung rendah lemak yang diperkaya enzim non-starch polysaccharide (NSP). Uji coba dilakukan pada benih gurami selama 60 hari dalam sistem pemeliharaan terkontrol.

Hasil penelitian menunjukkan pakan berbasis tepung biji kecipir rendah lemak dengan tambahan enzim NSP memberikan performa terbaik. Formula itu menghasilkan kecernaan protein hingga 70,01% dan kecernaan energi mencapai 72,64%. Artinya, nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan lebih optimal oleh ikan.

Deisi menjelaskan, penambahan enzim NSP berperan penting dalam meningkatkan kualitas pakan. Enzim membantu memecah komponen serat dan senyawa kompleks. Dengan begitu, nutrien lebih mudah dicerna dan diserap oleh ikan.

Dari sisi pertumbuhan, ikan gurami yang diberi pakan tersebut menunjukkan hasil yang baik. Laju pertumbuhan spesifik mencapai 1,99% per hari dengan rasio konversi pakan 1,67. Nilai itu menandakan efisiensi pemanfaatan pakan yang tinggi.

Selain itu, retensi protein tercatat sebesar 50,64% dan retensi lemak mencapai 88,84%. Kondisi ini menunjukkan nutrien pakan terserap optimal untuk mendukung pertumbuhan ikan. Kinerja pakan dinilai mampu menunjang performa budidaya secara keseluruhan.

Menariknya, tingkat kelangsungan hidup ikan pada seluruh perlakuan mencapai 100%. Hal itu menegaskan bahwa pakan berbasis kecipir aman dan mendukung kesehatan ikan. Peningkatan aktivitas enzim pencernaan dan kondisi usus ikan yang lebih baik juga teramati pada perlakuan pakan olahan.

Deisi menekankan bahwa proses pengolahan bahan baku menjadi kunci peningkatan kualitas kecipir. Tahapan seperti perendaman, pemanasan, pengepresan minyak, dan penambahan enzim terbukti menekan kandungan zat antinutrien. Senyawa seperti tanin, asam fitat, dan serat kasar dapat dikurangi sehingga tidak menghambat penyerapan nutrien.

“Inovasi ini membuka peluang besar dalam pengembangan pakan berbasis sumber daya lokal,” ujarnya. Selain menekan biaya produksi, pemanfaatan kecipir dinilai mampu memperkuat ketahanan sektor perikanan nasional dengan mengurangi ketergantungan impor.

Ke depan, inovasi pakan lokal diharapkan dapat dikembangkan lebih luas untuk berbagai komoditas budidaya. Dukungan riset berkelanjutan menjadi kunci pengembangan tersebut. Dengan begitu, Indonesia berpeluang membangun industri akuakultur yang mandiri, efisien, dan berdaya saing.


Artikel Terbaru

Para Guru Berjibaku

Guru-guru dari berbagai pelosok Barito Utara menempuh perjalanan “tak biasa” ke Muarateweh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Erni Iris menempuh...

More Articles Like This