Thursday, February 9, 2023

Keeksotisan Ratusan Pohon Trembesi di Banyuwangi

Rekomendasi

Trubus.id — Sebanyak 170 trembesi Samanea saman (nama Latin trembesi) di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu tampak gagah dan eksotis. Ratusan trembesi itu berdiri kokoh di lahan 9 hektare.

Atus Syahbudin, S.Hut., M. Agr., Ph. D., ahli dendrologi di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, menduga tinggi trembesi di sana mencapai 25–30 m dan keliling batang 3–4 m. Kemungkinan umur trembesi di tempat itu mencapai lebih dari seratus tahun.

Atus pernah mengunjugi lokasi seperti itu, tetapi tidak seluas di Desa Benculuk. Berjalan di bawah tegakan trembesi seolah berada di hutan hunian para Ents, tokoh pohon hutan yang bertingkah seperti manusia dalam film Lord of The Rings.

Wajar, trembesi di sana berukuran besar karena berumur tua. Apalagi, arsitektur pohon trembesi termasuk model troll dengan ciri batang simpodial. Batang utama bercabang menjadi dua cabang berukuran sama yang disebut simpodial. Dari dua cabang itu lalu masing-masing memiliki 2 cabang lagi.

Menurut Atus, genetikanya memang seperti itu. Cabang-cabang yang banyak itu menjadikan tajuk trembesi berbentuk seperti payung. Itulah salah satu ciri khas trembesi selain berbatang bulat dan simpodial.

Tajuk trembesi di Desa Benculuk mencapai 20–30 m. Terasa sejuk ketika berjalan memasuki hutan trembesi itu. Tidak hanya ukuran pohon yang memukau, batang tanaman yang ditumbuhi epifit berupa lumut dan paku-pakuan menjadi ciri hutan alam.

Kesan eksotis muncul dari batang trembesi itu. Sementara itu, kegagahan tercermin dari ukuran trembesi yang sangat besar. Tidak heran banyak warga dari Banyuwangi dan daerah lain yang mengunjungi De Djawatan Forest, nama tempat yang dihuni para trembesi raksasa itu.

Bagus Djoko Wahyudi, Manajer De Djawatan Forest, mengatakan, Belanda menjadikan hutan trembesi sebagai tempat penimbunan kayu (TPK) hasil penebangan hutan alam pada 1890-an.

“Setelah kayu dipotong-potong, kemudian diletakkan di sana. Jika tidak ternaungi, kayu mudah pecah dan rusak. Oleh karena itu, harus ada lokasi yang ditanami tanaman yang rindang,” kata Bagus.

Saat itu penjajah Belanda memilih trembesi sebagai tanaman penaung. Menurut Atus, trembesi memenuhi syarat sebagai tanaman penaung. Alasannya daun dan buah kihujan—sebutan trembesi di Jawa Barat—tidak membahayakan manusia dan bertajuk lebar.

Selain itu, hanya dibutuhkan sedikit tanaman pada luasan tertentu. Dengan kata lain, penanaman tidak rapat sehingga memudahkan perjalanan truk pengangkut kayu.

Lebih lanjut Atus mengatakan, fungsi trembesi tidak semata sebagai tanaman penaung. Tanaman anggota famili Fabacaea itu menciptakan iklim mikro di kawasan jika tumbuh bersama seperti di Desa Benculuk.

“Jika di tengah trembesi kita merasa sejuk, lalu keluar dari sana terasa panas berarti ada iklim mikro,” kata Atus.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img