Monday, August 8, 2022

Keladi Tengah Kejar Popularitas

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pada Trubus Agro Expo Desember 2005 keyakinannya pun berbuah manis. Sebanyak 50 pot keladi asal Thailand seharga Rp50-ribu?Rp200-ribu terjual. Tiga bulan kemudian di ajang sama angka itu terlewati meski pameran belum usai.

Manisnya penjualan keladi di arena pameran juga dirasakan oleh Very A Sulaeman, pemilik Vertin Flora. Sebanyak 500 keladi yang dipajang di pameran Bandung Orchid Show ludes berpindah ke tangan hobiis. Pada waktu hampir bersamaan, anggota famili Araceae yang dijajakan di Trubus Agro Expo 2006 pun laris. ?Dalam 3 hari pertama, 500 pot sudah habis,? kata Endang Hermawan, bagian pemasaran Vertin Flora. Pada pameran di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta Timur, itu keladi terlihat mulai menyeruak pasar. Minimal 10 stan memamerkan kerabat aglaonema itu.

Fenomenal

Tak hanya di ajang pameran, penjualan kaladium di beberapa nurseri pun mulai menanjak. Sebut saja Abdul Kadir. Dalam 4 bulan terakhir 100 pot keladi terjual di nurserinya di Yogyakarta. Padahal 4 tahun lalu kala Abdul Kadir mendatangkan jenis baru dari Forida, keladi dilirik pun tidak.

Nun di Semarang 10.000 caladium dalam bentuk tanaman dan umbi di kebun Flora Kita ludes dalam 6 bulan. Kini 5.000 tanaman tengah dipersiapkan untuk memenuhi permintaan konsumen.

Para pemain menduga, ramainya perniagaan caladium dipicu oleh tren aglaonema sejak 2 tahun terakhir. ?Corak dan warna keladi tak kalah menarik dibanding aglaonema. Harganya pun relatif terjangkau,? kata Abdul Kadir, pemilik Pesona Nurseri di Yogyakarta.

Kehadiran kerabat alokasia asal Thailand, Amerika Serikat, dan Malaysia pun turut andil. Keladi-keladi impor itu memperkaya corak dan warna keladi yang ada. Tak hanya bermotif hijau dengan bintik merah dan putih seperti jenis lokal, tapi ada yang merah pekat, merah kecokelatan, hijau berpadu merah muda, dan banyak lagi. Pantas konsumen pun kepincut. ?Ternyata keladi bagus-bagus ya,? tutur H Asman Yunus SH yang hobi mengumpulkan keladi sejak setahun silam.

Tak heran para importir kian getol mendatangkan caladium asal mancanegara. Sebut saja Lanny Lingga, pemilik nurseri Seederama, di Cisarua, Bogor. Setahun silam ia mendatangkan 200 jenis caladium dalam bentuk umbi dari Thailand. Setelah dirawat, tanaman beranak pinak. Dalam 6 bulan semua ludes dibeli. Konsumen datang dari Yogjakarta, Semarang, Medan, dan beberapa daerah di Jawa Timur.

?Caladium itu unik. Satu jenis yang ditanam, anakan yang muncul bervariasi corak warnanya,? kata Lanny. Di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja, juga mendatangkan 1.000?1.500 tanaman dari Thailand setiap 3 bulan sekali. Dari nurserinya setiap bulan keluar 200? 300 pot caladium sejak 4 bulan terakhir.

Apalagi menurut Chandra Gunawan, pemilik Godongijo Nursery?importir tanaman hias?keladi sempat ngetren di Negeri Siam. Th ailand selama ini jadi barometer bisnis tanaman hias di tanahair. Biasanya tanaman hias yang pernah tren di sana akan menular ke tanahair. ?Makanya peluang keladi ngetren di Indonesia besar sekali,? kata Chandra.
Selain Thailand, caladium juga didatangkan dari Malaysia dan Amerika Serikat. Dua ratus pot yang didatangkan Hermanto, di Jakarta, dari Malaysia langsung habis dalam 2 bulan. Kini 1.000 pot yang didatangkan belakangan, sudah terjual 70%.

Hobiis bermunculan

Hobiis keladi pun bermunculan di berbagai daerah. Di Pekanbaru, Drs Wan Abubakar, Msi, wakil Gubernur Provinsi Riau keranjingan keladi sejak setahun silam. Di kediamannya Wan Abubakar mengoleksi beberapa pot sebagai penghias halaman. ?Rasa penat selepas bertugas seperti hilang ketika memandang keladi,? kata mantan ketua umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Provinsi Riau itu.

Di Bumi Lancang Kuning itu juga ada H Asman Yunus SH. Pengacara terkenal dan budayawan di Riau itu sejak setahun silam kerap berburu kerabat alokasia itu ke Sumatera Utara dan Sumatera Barat. ?Yang lokal dan impor saya suka. Ternyata warna keduanya sama-sama beragam,? katanya.

Di Kalimantan, hobiis keladi pun mulai bermunculan. Sebut saja Lily Salman di Pontianak, Kalimantan Barat. ?Tadinya saya tak suka, tapi melihat warnanya baru dan berbeda dengan lokal, maka saya beli,? katanya. Trubus melihat lebih dari 10 pot keladi asal Thailand dengan beragam ukuran menghias kediamannya. Bergeser ke Utara ada Adi Surya di Singkawang, Kalimantan Barat. Adi tidak mengoleksi keladi impor, tapi jenis lokal. ?Ternyata yang lokal juga beragam warna, saya jadi kepincut,? ujar Adi.

Siapa mengira tanaman yang semula diabaikan kini tengah menapak jalan menuju popularitas. Keladi impor atau lokal kini sama-sama tengah menjadi incaran. (Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa, Laksita Wijayanti, Lastioro Anmi Tambunan, Rosy Nur Apriyanti, dan Syalita Fauwnia)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img