Thursday, August 18, 2022

Kelapa Kopyor Kini Dicari Orang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Hari itu ia menotok kelapa di kebun H Ahmad Fadhlan Asyhari di Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Setelah naik turun di lebih dari 60 pohon, ia berhasil menemukan 90 butir kopyor. Uang sejumlah Rp720.000 pun langsung diserahkan ke H Fadhlan. Setelah 90 kelapa itu menipis, ia akan keluar masuk kampung di seputar Pati. Tujuannya ya itu tadi, menotok kelapa mencari kopyor. Selang 2 minggu kemudian ia akan melongok lagi kebun H Fadhlan.

Kesibukan melayani tukang totok seperti Diran dialami juga oleh H Hasan Mataraja di Kalianda, Lampung Selatan. Setiap bulan, kebun seluas kurang dari 1,5 ha disambangi pedagang pengumpul yang mencari kopyor. Di kebun itu ada 150 pohon berumur 17 tahun. Tiap bulan dari pohon-pohon itu terpetik minimal 200 kopyor

Dari kebun-kebun di Pati, Lampung, dan Yogyakarta, kelapa kopyor mengalir ke pasar swalayan, restoran, hotel, dan toko buah segar. Sekedar menyebut contoh, di Toko Buah Segar milik Rudy Sendjaja, setiap minggu tertampung 100—200 kelapa kopyor. Ia membanderol harga Rp 15.000/butir, dan itu ludes diserbu pembeli. Apalagi jika musim hujan tiba. Saat itu pasokan kelapa kopyor seret dari daerah sentra. Para p e d a g ang pun menjadi p e m b e l i dadakan di toko itu. “Berapa pun mereka terima asal mendapat pasokan,” lanjut Rudy. Banjir permintaan itu berlangsung selama 4 bulan, kemudian permintaan kembali normal.

Nikmatnya menjual kelapa kopyor juga terasa oleh Kinahwati, pengepul di Pati. “Makro Yogya butuh 200 butir kelapa setiap 2 minggu. Saya hanya sanggup pasok 100 butir,” keluhnya. Belum lagi kewajiban mengirim kopyor ke Solo, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Semarang. Tiga kota besar yang disebutkan terakhir itu meminta minimal 50 butir kelapa kopyor per minggu sejak 2002.

Hiruk pikuk yang dialami pekebun maupun pengumpul itu lantaran pasar kelapa kopyor kian luas. Wajar sebab buah Cocos nucifera itu banyak peminat. Rasanya lezat. Ia segar diminum tengah hari, dicampur sirup dan es. Malah di Yogya ada restoran khusus es kopyor.

Tinggi

Pantas bila kebun-kebun kelapa kopyor bermunculan. Contohnya seperti di tanah H Fadhlan di Pati dan H Hasan di Kalianda, Lampung. Pemerintah daerah Lampung pun mulai serius mengebunkan. Itu ditandai akan dibukanya areal seluas 1 ha untuk kelapa kopyor. Saat ini bibit telah dipesan dari pembibit di Bogor. Jauh dari Lampung, di Pati, sejak 8 tahun lalu kebun-kebun kelapa kopyor seperti milik H Fadhlan kian banyak. Data menunjukkan, luas areal kebun kelapa kopyor pada 2002 tercatat 311,5 ha. Luas lahan itu bertambah menjadi 378,09 ha pada 2004.

Potensi dan prospek kelapa kopyor di Pati sangat bagus. “Berdasarkan Surat Edaran Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pati Nomor 500/6.667, tanggal 25 November 1997 tentang Rencana Pengembangan Komoditi Unggulan, Andalan, dan Potensial, kelapa kopyor menjadi salah satu komoditi unggulan di Kabupaten Pati”, ujar Ir Muljono, Kasubdin Produksi dan Peredaran Hasil di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pati. Perluasan areal hingga 500 ha pun sedang dipacu perkembangannya agar Pati menjadi sentra produksi kelapa kopyor.

Di Jawa Barat, Lembaga Bioteknologi Perkebunan, Bogor bekerja sama dengan PTPN VIII, Jawa Barat mengisi lahan seluas 4 ha dengan kopyor. Kebun yang berlokasi di Perkebunan Cikumpay, Kecamatan Campaka, Purwakarta itu kini berisi pohon kelapa berusia 4 tahun.

Gairah bisnis kelapa kopyor dipacu oleh harga yang bagus. Dibandingkan kelapa muda biasa yang cuma Rp500—Rp700 per butir di petani, harga kopyor di kebun sungguh menggiurkan, Rp7.500—Rp8.000/butir. Berapa pun pasokan yang dimiliki pekebun, selalu habis. Itu ditandai dengan langsung datangnya pengumpul ke kebun petani.

Kendala

Munculnya jurang lebar yang terbentang antara permintaan dan penawaran itu gara-gara bibit yang luar biasa langka. Penyebabnya lantaran teknik pemilihan kelapa tua yang akan dibibitkan. Salah memilih, bukan kopyor yang muncul, tetapi hanya kelapa muda normal.

Kelangkaan kopyor tersebut terdapat pada kendala menghasilkan kopyor. Selama ini produksi kelapa kopyor hanya 25% saja dari satu pohon/tahun. Selain itu bibit yang ditanam pun hanya memiliki kemungkinan sekitar 1%—5% saja untuk mendapatkan buah kopyor.

Selain cara seperti yang dilakukan H Hasan Mataraja (baca: Kelapa Kopyor: Dari Normal Jadi Abnormal, red), dari balik dinding laboratorium ditemukan metoda penghasil bibit kopyor. Itulah jasa Dr Jimy Tahardi dan rekan-rekan dari Bioteknologi Perkebunan Bogor. Mereka memperbanyak kelapa kopyor melalui teknik kultur embrio. Terobosan itu sudah terbukti tokcer sehingga diharapkan dapat menjadi solusi rendahnya kopyor nasional.

Sayang, bibit kopyor dengan kultur embrio itu relatif mahal. Bibit umur 2 tahun ditawarkan Rp300.000 per bibit. Bandingkan dengan bibit kelapa kopyor konvensional yang dijual Rp7.500—Rp10.000 per butir. Bibit kopyor konvensional itulah yang mulai beredar di pelosok nusantara.

Bakal bibit datang dari kelapa tua yang diseleksi dari setiap janjang. Buah yang dijadikan bibit kopyor adalah buah normal dari janjang buah kopyor. Dengan cara itu 70% bibit yang ditanam akan menghasilkan pohon sumber kopyor. Pengalaman menunjukkan, tanaman asal bibit tersebut dapat menghasilkan kopyor sebanyak 1—25% seperti pohon induknya. Jika bibit asal kultur embrio yang dipilih, 95% kopyor akan bergelantungan di janjang kelapa. Bukti keberhasilan itu ada di Kebun Percobaan Ciomas, Bogor.

Jual bibit

Kelangkaan itu memunculkan prospek usaha. Bibit kelapa kopyor pasti diserbu pembeli. Ambil contoh pengalaman Mubin Usman, penangkar buah di Depok. Setiap bulan minimal 20 bibit seharga Rp50.000—Rp100.000 dipesan pembeli.

Pengalaman serupa dialami H Fadhlan, contohnya. Selain menjual kelapa kopyor, ia juga menyediakan bibit. Sebuah pilihan yang tepat. Terbukti permintaan bagai air bah. Dinas Perkebunan Jepara saja memesan 4.000 bibit kopyor lewat ayah 3 anak itu.

Kopyor memang buah abnormal. Namun, abnormalnya itu justru menguntungkan pekebun dan pedagang. Berkat kelapa kopyor, Diran dan rekan-rekan seprofesinya dapat mempertahanan gelar yang disandang, tukang totok! (Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img