Saturday, May 9, 2026

Kelezatannya, Sembuhkan Jantung Koroner

Rekomendasi
- Advertisement -

Dokter memvonis umurnya hanya tersisa 2 bulan. Dengan mengkonsumsi daging dan minyak ikan fatmorgensia, ia mematahkan ramalan itu. Kini ia masih sehat dan bugar.

Lift sebuah gedung jangkung di Jakarta Pusat itu mati. Tak ada pilihan lain bagi Chandra Munir yang hendak ke lantai lima, kecuali naik tangga. Baru saja tiba di lantai kedua, napas tersengal-sengal dan dada terasa sesak. Pandangan kabur. Tulang belulangnya seperti terlepas hingga tak mampu menahan tubuh. Ia roboh tak sadarkan diri. Ingatannya pulih 4 jam berselang saat ia terbaring lemah di tempat tidur Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta.

Ia mencoba menyusun ingatannya. Saat itu ia ke lantai lima hendak menawarkan konsep pembuatan seragam olahraga sebuah departemen. Sebagai pemilik perusahaan garmen yang baru dirintis, tugas pemasaran itu tetap dikerjakannya. Tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang 17 Agustus departemen itu memang mempercayakan pembuatan seragam olahraga kepada Chandra Munir.

Divonis mati

Sayang, kali itu keberuntungan seperti menjauh dari Chandra. Jangankan mendapat pesanan, ke lantai lima pun ia tak sanggup. Lara itu kian lengkap ketika mengetahui diagnosis dokter yang menyebabkan pingsannya Chandra. Menurut dokter, pria 39 tahun itu mengalami iskemia atau penyakit jantung koroner.

Iskemia sebetulnya kekurangan darah setempat akibat minimnya pasokan. Pada jantung, iskemia terjadi lantaran penyempitan aterosklerotik sehingga arteri koroner mengeras. Selain itu Chandra juga mengidap kolesterol tinggi, diabetes mellitus, dan hipertensi.

Kolesterol umumnya dibentuk dalam jaringan binatang. Bahan makanan seperti usus, otak, hati mengandung banyak kolesterol. Namun, tubuh manusia juga memproduksi sendiri yang berlangsung di aorta, hati, usus, dan korteks adrenal. Komplikasi itulah yang mengantarkannya menginap 12 hari di rumah sakit.

Tubuh Chandra ketika itu adalah gudang penyakit. Dokter yang merawat memprediksi, tarikan napasnya tinggal 2 bulan lagi. “Saya takut mati karena anak satu-satunya masih kecil, 5 tahun,” tutur ayah dari Cika Yunindra itu mengenang peristiwa 12 tahun silam. Kejadian itu seperti prasasti yang tak lekang oleh perjalanan sang waktu. Ia terus mengingatnya hingga sekarang.

Sehari 5 bungkus

Semua berawal dari kebiasaan meniru orang Aztek mengisap gulungan daun tembakau. Hingga kejadian pingsan itu ia mengisap minimal 5 bungkus rokok per hari. “Saya istirahat merokok kalau sedang tidur,” ujar anak ke-4 dari 8 bersaudara itu. Malahan sejak duduk di bangku SMP di Jambi kenikmatan semu merokok dicicipinya.

Kebiasaan lainnya menyeruput the manis minimal 3 gelas per hari yang memicu diabetes mellitus. Gula darahnya mencapai 315 mg, idealnya bila tak berpuasa 120 mg. Konsumsi makanan berlemak tinggi seperti usus, limfa, atau babat bersantan kental menjadi santapan setiap hari. Wajar bila tekanan darahnya melambung hingga 200/110 mmHg. Total kadar kolesterol melonjak 600 mg%—yang normal 150—250 mg%.

Tak berlebihan, lantaran saat itu, “Selera makan hilang kalau makan-makanan tanpa lemak. Rasanya kurang enak,” kata kelahiran 1 September 1953. Kegemaran menikmati makanan berlemak ternyata dipupuk sejak belia. Celakanya Chandra enggan berolahraga hingga berbagai penyakit bersarang di tubuhnya

Dari lautan

Setelah berunding dengan kerabatdan keluarga, saran dokter untuk operasi ditolak. Selain biayanya mahal—saat itu mencapai Rp65-juta—, “Orang yang dioperasi tidak pernah sembuh. Ia harus minum obat seumur hidup. Selain itu juga banyak yang gagal,” katanya. Di tengah kebimbangan dan kepanikan itu ia disarankan oleh seorang dokter untuk mengonsumsi ikan laut.

Komoditas itu dipercaya mampu menurunkan kadar kolesterol dan mengatasi penyakit jantung koroner. Maka sejak 1993 ia rutin menyantap beragam ikan laut. Mula-mula bawal, tongkol, tuna, dan cucut. Iryuni, istrinya yang bekerja di sebuah lembaga riset perikanan laut, senantiasa membeli fi let—sayatan daging ikan—di Muarabaru, Jakarta Utara. Malahan di rumahnya di bilangan Cipayung, Jakarta Timur, ia menyediakan freezer khusus ikan laut.

Ikan-ikan itu ditim dan disantap setiap kali makan. Porsinya 2—5 ons untuk sekali makan. Jika bosan pada jenis tertentu, ia beralih ke ikan lain. Menurut Chandra setidaknya 30-an jenis ikan laut terus dikonsusmsi hingga akhirnya seorang rekan yang biasa berlayar menawarkan ikan fatmorgensia. Katanya ikan itu sangat cocok untuk penderita jantung koroner.

Seperti jenis sebelumnya ikan itu juga ditim dan dimakan rutin. Bersamaan dengan itu, Chandra menghentikan kebiasaan merokok, menyantap makanan berlemak, dan minum teh manis kental. Ia mengimbangi dengan olahraga jalan kaki sepekan sekali.

Minyak

Pantas bila semakin hari kondisi kesehatannya membaik. Buktinya, ia mampu berlari selama 0,5—1 jam setiap akhir pekan. Check up terakhir pada 25 September 2003 menunjukkan perubahan luar biasa. Penyakit yang semula diidap hilang tak berbekas. Kadar kolesterol 143 mg% (triglyserida 112 mg%, HDL 46 mg%, dan LDL 133 mg%).

Kadar gula darahnya 70—120 mmHg. Sedangkan kadar asam urat SGOT 11 U/L dan SGPT 14 U/L. Ambang batas untuk keduanya masing-masing 18 U/L dan 20 U/L. Dokter yang dulu merawat sempat heran melihat perubahan itu. Walau kesehatannya membaik, hingga hari ini Chandra tetap menyantap fatmorgensia. Malahan ia memanfaatkan minyak ikan itu. Sebab, jika mengolahnya keliru—misalnya terlampau panas—khasiatnya berkurang.

Dari 5—7 kg daging diperleh sekitar 100 cc minyak. Setiap hari 1—2 sendok makan minyak ikan itulah yang dikonsumsi. Warnanya bening dengan aroma khas ikan. Itu dilakukan rutin sejak 1996. Hasilnya, ia nikmati sekarang: sehat dan bugar. (Sardi Duryatmo)

Karena Omega 3

Fatmorgensia? Trubus melacak jenis ikan laut itu ke berbagai sumber. Balai Riset Perikanan Laut tak mengenal nama itu. Fransiskus Xaverius Dianto, direktur PT Dharma Samudera Fishing Industries, eksportir ikan laut, berujar nama itu kurang populer. Karena penasaran, sehari kemudian ia menyusuri Muarabaru, Jakarta Utara, tempat Chandra Munir rutin membeli fatmorgensia di kapal yang bersandar.

Menurut Dianto—demikian ia biasa disapa—dapat dipastikan yang dimaksud fatamorgensia adalah ikan gindara Lepidocymbium fl avobruneum. “Ikan itu memang berminyak. Rasanya sangat gurih,” kata pria murah senyum itu kepada Trubus. Itulah sebabnya ia disebut butterfi sh alias ikan mentega. Ada pula yang menjuluki oilfi sh lantaran kandungan minyak tinggi.

Ikan demersal—hidup di dasar laut—itu banyak dijumpai di Laut Jawa. Bobot ikan dewasa mencapai 6 kg. Kulit hitam, tetapi daging putih. Di pasar swalayan ia dijual dalam bentuk fi let atau dibuat steak. Menurut ahli gizi dari Insitut Pertanian Bogor, Dr Ali Khomsan, ikan laut kaya akan omega 3. Ia merupakan asam lemak tak jenuh yang sangat baik untuk mencegah penyumbatan akibat kolesterol. “Itu terbukti melalui beberapa riset yang sahih. Orang kutub yang konsumsi ikan lautnya tinggi, prevalensi jantung koroner sangat rendah,” ujar Ali.

Hasil uji laboratorium Pusat Penelitian Pengembangan Bioteknologi LIPI (Puslitbang Bioteknologi) menunjukkan, kandungan omega 3 fatmorgensia 53,35% (lihat tabel). Chandra memang menguji kandungan asam lemak fatmorgensia ke Puslitbang Bioteknologi pada 14 Juni 2002. “Saya penasaran sekali. Ikan ini kok bisa menyembuhkan. Apa sih kandungannya?” kata Chandra. (Sardi Duryatmo)

 


Artikel Terbaru

Hantavirus dan Ancaman Zoonosis Global, Ini Penjelasan Epidemiolog UNAIR

Trubus.id— Kasus gangguan pernapasan berat yang dialami sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius memunculkan dugaan infeksi hantavirus dan menjadi...

More Articles Like This