Thursday, August 18, 2022

Kelinci Hias: Libur Tiba, Panen Raya

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sejatinya silangan mini polish dan kelinci mini liar itu beredar di tanahair sejak 2000. Sayang, jumlahnya terbatas dan jarang dilirik hobiis. Maklum, netherland dwarf mirip kelinci pedaging: berbulu pendek; kelinci hias dominan berbulu panjang. Namun, setelah terpilih menjadi juara kontes, kondisi itu berbalik 180o. ‘Kontes langsung menaikkan pamor jenis kelinci juara,’ kata Goentoer.

Pascakontes Goentoer rutin menjual 10 ekor/minggu netherland dwarf seharga Rp650.000/ekor. Dari jumlah itu 4 – 5 ekor di antaranya rutin dibeli hobiis di Yogyakarta. Sisanya, masuk pasar Jakarta. ‘Berapa pun produksinya diserap pasar,’ katanya. Namun apa daya, induk netherland dwarf hanya menghasilkan sedikit anak: sekitar 2 – 3 ekor per 3 – 4 bulan. Pantas untuk mendapatkannya harus inden.

Tanda sayang

Meski Netherland dwarf menjadi favorit, jenis-jenis lama berbulu tebal seperti english angora dan fuzzy lop tetap diburu hobiis. Dari sekadar klangenan keduanya kini menjadi buah tangan. Itulah yang dialami Yanti Dwimaryanti, peternak di Kalimalang, Jakarta Timur.

‘Pada September 2008 seorang hobiis di Cipete, Jakarta Selatan, memesan english angora dan fuzzy lop sebanyak 70 ekor,’ kenang Yanti. Semua kelinci yang dibeli berikut kandangnya itu bukan untuk dipelihara, tetapi dibagikan kepada tamu undangan di acara ulang tahun anaknya sebagai suvenir. Kedua jenis itu dipilih karena lucu. Bulu tebal english angora seperti wool, fuzzy lop imut-imut dengan telinga turun.

Hal yang sama dialami Gusti Merdeka Putra, peternak di Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat. Dari 30 kelinci turunan angora – angora lop dan english angora – serta fuzzy lop yang terjual setiap pekannya, 50% di antaranya dibeli untuk hadiah. ‘Biasanya diberikan sebagai hadiah ulang tahun, kenaikan kelas, dan tanda kasih sayang kepada pacar,’ ucap Gusti. Maklum, kini penggemar kelinci meluas hingga remaja dan orang dewasa.

Liburan

Tingginya permintaan kelinci terjadi saat musim liburan. Lihatlah pada liburan anak sekolah akhir 2008, Sinto, peternak di Ciomas, Bogor, menjual 189 ekor mini lop, angora, dan fuzzy lop, dari 349 ekor koleksinya. ‘Saya sebetulnya belum mau jual, tapi banyak pembeli memaksa,’ katanya.

Selain kelinci hias, kelinci pedaging seperti rex kini dijual sebagai klangenan. Yang dipilih kelinci berumur kurang dari 5 bulan. Saat masih kecil, kelinci ini sosok dan tingkahnya lucu. Lebih dari umur itu tubuhnya terlalu besar untuk ditimang-timang atau diajak bermain. Dari kelinci pedaging itu, Vero, pedagang kelinci di Pasar Ngasem, Yogyakarta, bisa menjual 30 ekor per hari. Itu terjadi, lagi-lagi saat libur anak sekolah.

‘Hari-hari biasanya hanya laku 5 ekor per hari,’ ucap Vero. Di Pasar Anyar, Bogor, pun demikian. Awal 2009 Goentoer rutin memasok 200 – 300 ekor/minggu ke pasar di dekat Istana Bogor itu. Pada Mei 2009 permintaan naik menjadi 1.000 ekor/minggu menjelang musim berlibur.

Soal harga? Di Pasar Ngasem harga kelinci berubah-ubah tergantung daya beli masyarakat. Pada awal bulan yang notabene banyak orang baru gajian, harga kelinci berumur 2 bulan dipatok Rp35.000 per ekor; akhir bulan Rp25.000/ekor. Namun itu hanya berlaku pada kelinci pedaging untuk hias di pasar tradisional. Sementara harga jual kelinci hias ‘asli’ relatif stabil. English angora ajek di harga Rp80.000 – Rp150.000 per ekor.

Luar Jawa

Menurut Goentoer tren memelihara kelinci tak melulu di Pulau Jawa, tapi juga meluas ke luar Jawa. Goentoer mengirim english angora, rex, fuzzy lop, dan dutch ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Volumenya 100 ekor sekali kirim. Pun Gusti beberapa kali memasok ke hobiis di Samarinda, Kalimantan Timur, walau volumenya lebih kecil, 20 ekor sekali kirim.

Beberapa pelaku bisnis kelinci mengaku, kelinci hias menguntungkan. ‘Modalnya hanya beli indukan, sedangkan pakannya murah,’ kata Priyo Adiprasetyo, peternak di Jakarta Timur. Priyo membeli sepasang angora seharga Rp1-juta per ekor. Setelah dikawinkan, seekor induk menghasilkan 6 anak.

Dengan harga jual anakan Rp150.000 per ekor maka dalam 3 bulan diperoleh pendapatan Rp900.000. Betina itu dapat dikawinkan kembali setelah 3 – 4 bulan kemudian, Artinya dalam setahun minimal peternak menjual 12 anakan. Nah, Pasar terbentang, apalagi jika jenis itu menang di kontes seperti dialami Goentoer. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img