Monday, August 8, 2022

Kelir Ungu Kecipir Baru

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Biji kecipir ungu lebih gelap. Selain untuk perbanyakan, biji kecipir menjadi bahan baku kecap.

Kecipir baru berwarna ungu bercita rasa renyah, produktif, dan bergizi tinggi.

Trubus — Penampilan kecipir baru itu mentereng. Warnanya ungu amat seronok. Produktivitas mencapai 40—50 polong per tanaman per musim panen. Jumlah itu setara 1 kg. Hasil panen berpeluang melonjak karena petani bisa merawat dan panen lagi hingga dua tahun. Produktivitas kecipir itu 15% lebih tinggi dibandingkan dengan kecipir lain pada umumnya. Namanya ub ungu. Nama ub singkatan dari Universitas Brawijaya.

Kecipir ungu hasil pemuliaan Prof. Dr. Kuswanto
bercita rasa renyah dan bergizi tinggi. (Dok. Izmi Yuliana)

Pemulia yang membidani kelahiran ub ungu adalah Prof. Dr. Ir. Kuswanto dari Universitas Brawijaya. Kuswanto mengembangkan kecipir ungu sebagai penganan lezat dan bergizi tinggi. Panjang polong mencapai 25 cm. Kecipir ungu itu renyah dan ada rasa khas kecipir. “Jenis lain ada yang muncul rasa sedikit manis, kalau kecipir ungu ini tidak ada rasa manis, tetapi muncul rasa khas kecipir yang enak,” ujar Kuswanto.

Kaya antosianin

Warna ungu menandakan kecipir itu kaya antosianin, antara lain bermanfaat untuk membangun kekebalan tubuh. Pengukuran kadar antosianin pada kecipir ungu masih dalam proses. Namun, menurut perkiraan Kuswanto kadar antosianin kecipir ungu tak jauh berbeda dengan kacang panjang ungu yang lebih dahulu dikembangkannya. “Saya perkirakan kadar antosianin kecipir ungu 35—50 ppm,” ujar Kuswanto.

Buah kecipir Psophocarpus tetragonolabus ungu dapat diolah menjadi sayuran siap saji. “Tinggal di kukus, bisa jadi campuran pecel,” ujar Kuswanto. Menurut anggota tim peneliti kecipir dari Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Brawijaya, Izmi Yuliana, S.P., MSi, kecipir ungu sangat prospek dikembangkan para petani. Akhir-akhir ini tren untuk hidup sehat meningkat. Kecipir ungu kaya antosianin yang berfaedah bagi kesehatan.

Bunga kecipir ungu. (Dok. Izmi Yuliana)

“Kecipir ungu punya prospek yang bagus,” ujar Izmi Yuliana. Selain itu protein kecipir ungu hampir menyamai kedelai yang merupakan tanaman subtropis. Sementara kecipir tanaman tropis, sehingga cocok untuk Indonesia. Botor atau biji kecipir juga berpotensi menggantikan kedelai sebagai bahan baku kecap. Selain itu, jika kecipir bisa mensubtitusi kedelai atau minimal mengurangi, impor kedelai dalam negeri ikut berkurang dan kedaulatan pangan Indonesia lebih kuat.

Namun, selama ini masyarakat memandang sayuran anggota famili Fabaceae itu dengan sebelah mata. Padahal, potensi pasarnya masih besar. Itu terbukti dari keberadaan kecipir di pasar-pasar tradisional. “Kecipir jarang saya jumpai di pasar tradisional, tetapi di pasar swalayan sudah banyak. Itu gambaran pasar kecipir secara umum,” ujar pengajar Agribisnis Universitas Brawijaya, Heptari Elita Dewi, S.P., M.P.

Izmi Yuliana SP MSi, pemulia tanaman dari Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. (Dok. Bondan Setyawan)

Produksi dan genjah

Kuswanto menuturkan, penelitian kecipir bermula dari masalah yang dihadapi petani. Masalah itu antara lain polong kecipir mudah rontok saat akan panen, sehingga produktivitasnya pun kurang maksimal. Itulah sebabnya ia berupaya menghasilkan kecipir yang produktif dan tidak mudah rontok. Kuswanto mulai mengumpulkan beragam gen kecipir dari berbagai daerah di tanah air pada 2016.

Dua tahun kemudian ia bersama tim mulai menyilangkan secara acak antartetua tanaman kecipir. “Akhirnya muncul kecipir dengan karakter ungu kuat dan produktif,” ujar Kuswanto. Menurut Kuswanto kecipir ub ungu merupakan hasil persilangan antara kecipir lokal dari Malang, Jawa Timur, dan kecipir unggul lain secara segregasi. “Semua tetua merupakan kecipir dalam negeri,” ujarnya. Kelebihannya adalah berpolong ungu, genjah, dan produktif.

Prof. Dr. Kuswanto
mulai meneliti kecipir sejak 2016.

Mereka mengawinsilangkan kecipir itu dengan kecipir-kecipir unggul dari sisi produktivitas dan berumur genjah. Hasilnya berupa kecipir ungu. Doktor Pemuliaan alumnus Universitas Brawijaya itu mengatakan, warna ungu merupakan warisan dari kecipir lokal asal Kabupaten Malang. Produktivitas tinggi sudah terpenuhi dengan lonjakan 15%.

Selain itu masalah lain, “Jarang ada petani yang menanam kecipir, karena umur panennya lama sampai 3 bulanan. Bandingakan dengan kacang panjang yang hanya sekitar 1,5 bulan,” kata Kuswanto. Dosen kelahiran Kediri 11 Juli 1963 itu juga berupaya menghasilkan kecipir berumur genjah. Umur panen kecipir ungu sekitar 3 bulan—relatif sama dengan kecipir hijau pada umumnya. Oleh karena itu, ia masih berupaya melahirkan kecipir ungu genjah.

Sebelumnya periset di Departemen Agronomi da Hortikulutra Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Muhammad Sykur, S.P., M.Si. merilis tiga varietas kecipir ungu, yakni sandi, melodi, dan fairuz. Bahkan, kecipir sandi berwarna ungu pekat, genjah karena magori atau panen perdana pada umur 80 hari. Produksi sandi 7 ton per hektare. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img