Sunday, November 27, 2022

Kelor Akhiri Alergi

Rekomendasi

Sedikit saja menghirup debu, hidung Ilham Muttaqin-bukan nama sebenarnya-langsung basah.

Itulah penderitaan Ilham Muttaqin di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, selama 10 tahun belakangan. Sedikit saja ia menghirup debu jalanan atau debu ruangan, bersin diikuti hidung meler langsung mendera. “Hidup menjadi minder dan terasa tersiksa. Ke mana-mana saya selalu membawa tisu dan deksametason,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat itu.

Ilham mendapatkan golongan obat deksametason bila berobat ke dokter. “Berulang-ulang berobat, resepnya serupa,” kata kelahiran Banjarmasin 55 tahun silam itu. Pantas berikutnya Ilham langsung menenggak obat antialergi itu bila hidung meler. Obat diperoleh dari apotek meski tanpa resep dokter. Begitu terus-menerus hingga Ilham ketergantungan deksametason.

Alergi

Kini ketergantungan selama satu dasawarsa itu membuat derita yang lebih hebat. Kulit Ilham memerah dan gatal pascakonsumsi deksametason. Bila gatal menyerang pada malam hari, Ilham tak bisa tidur. Jika datang pada siang hari, pekerjaan menjadi terganggu. “Gatalnya tak tertahankan, kulit menjadi luka bila digaruk,” katanya.

Menurut Prof Dr Zullies Ikawati, pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, hidung meler yang dialami Ilham tergolong alergi. Istilah itu merujuk pada gangguan sistem imunitas atau kekebalan tubuh. “Ia tidak mematikan, tapi mengganggu kualitas hidup penderitanya,” kata Zullies. Pada tubuh sehat, sistem imunitas seimbang sehingga memberi perlindungan optimal terhadap gangguan benda asing dari luar tubuh.

Sistem itu juga meminimalkan reaksi tubuh yang berbahaya terhadap gangguan. Pada penderita alergi, terjadi ketidakseimbangan sistem imunitas, sehingga reaksi muncul berlebihan. “Tubuh menjadi hipersensitif. Oleh karena itu alergi disebut juga penyakit hipersensitivitas,” kata pengajar matakuliah Farmakoterapi Sistem Pernapasan itu. Pada kasus alergi saluran pernapasan, alergen-benda asing penyebab alergi-berupa debu, serbuksari bunga, kutu kucing, dan cendawan yang terhirup melalui udara.

Selaput lendir hidung menjadi bagian tubuh yang pertama kali kontak dengan alergen sehingga menderita. Zullies berpendapat sebagian besar alergi sulit disembuhkan karena obat hanya mengatasi reaksi tubuh setelah kontak dengan benda asing. Namun, sebagian lagi alergi dapat hilang permanen seiring perbaikan sistem imunitas tubuh. “Banyak yang waktu kecil alergi, tapi sudah dewasa hilang. Itu karena kekebalan tubuh membaik,” kata Zullies.

Efek samping

Pada kasus penderita yang tidak dapat sembuh, cara terbaik mencegah alergi dengan menghindari pemicu. Bila tidak, kasus alergi berulang bertahun-tahun. Pantas derita Ilham terus berulang sehingga deksametason bagai candu. Ia baru menghentikan deksametason atas saran dokter spesialis kulit dan kelamin di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, saat berobat. “Bila terus konsumsi, gatal Bapak tidak akan sembuh meski diobati berbagai macam obat kulit. Itu efek samping dari obat yang diminum jangka panjang,” kata Ilham menirukan ucapan dokter.

Ahli medis itu menyarankan mengobati alergi debu dengan herbal yang memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Ilham lantas menceritakan saran dokter pada beberapa kolega di kantor. Saat itulah sahabatnya menyodorkan sebotol kapsul daun kelor Moringa oleifera sebagai suplemen. Ia lalu meminum 6 kapsul daun kelor setiap hari. Meski tak secepat deksametason-pascakonsumsi daun kelor selama 7 hari-hidung meler yang biasa menyerang saat menghirup debu, berangsur-angsur menghilang.

“Dahulu meler baru hilang bila konsumsi deksametason. Sekarang hidung saya tak terlalu sensitif,” kata Ilham. Gatal yang biasa menyerang pun lambat-laun berkurang. Menurut dr Zainal Gani, dokter dan herbalis di Malang, Jawa Timur, daun kelor menstabilkan sistem kekebalan tubuh. Daun shobhanjan-sebutan daun kelor dalam kitab pengobatan ayurveda di India-itu tak mengobati hidung meler dan gatal-gatal secara langsung, tapi mengendalikan reaksi tubuh terhadap benda asing yang masuk.

Riset Anamika Gupta dari Divisi Farmakognosi dan Etnofarmakologi, Institut Riset Botani National,  India, melaporkan daun kelor mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh tikus putih yang disuntik obat kanker golongan chyclophospamide sebanyak 30 mg/kg. Umumnya kekebalan tubuh tikus menurun saat disuntik obat itu. Pengamatan Gupta, tikus yang drop karena disuntik chyclophospamide pulih kembali bila dibarengi pemberian ekstrak daun kelor 125 mg/kg, 250 mg/kg, dan 500 mg/kg.

Tiga dosis daun kelor itu secara signifikan meningkatkan jumlah sel darah putih dan persentase neutrofil tikus sehingga kekebalan tubuh membaik. Menurut Gupta, daun kelor mengandung vitamin A, vitamin B, kalsium, besi, kalium, saponin, dan beragam asam amino yang mendongkrak sistem imun. Sayang, riset in vivo itu tidak memastikan dan mengidentifikasi senyawa yang benar-benar bertanggungjawab memperbaiki kekebalan tubuh.

Riset lain menyebut daun kelor mengandung arginin, leusin, dan metionin. Menurut Dr Mien Karmini, ahli gizi dari Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, di Bogor, Jawa Barat, diduga arginin yang paling berperan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Zullies menduga kelor menstabilkan sel mast penghasil histamin. Jika stabil, sel sel tidak mudah melepas histamin yang memicu alergi. Untuk meyakinkan keampuhan daun kelor dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia, Zullies menyarankan dilakukan uji klinis. (Ridha YK)


Keterangan Foto :

  1. Shobhanjan atau daun kelor tertulis sebagai obat beragam penyakit dalam kitab pengobatan ayurveda
  2. Prof Dr Zullies  Ikawati, alergi muncul karena tubuh menjadi hipersensitif pada benda asing
  3. Ekstrak daun kelor dalam bentuk kapsul lebih praktis sehingga mudah dibawa pasien alergi untuk berjaga-jaga
  4. yang masuk ke dalam tubuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img