Kelor (Moringa oleifera) menjadi salah satu obat tanaman yang paling banyak diteliti. Alasannya karena senyawa bioaktif seperti isothiocyanate, flavonoid, dan fenolat yang terbukti memiliki efek farmakologis penting. Salah satu temuan kuat datang dari penelitian Sailaja dan rekan dalam jurnal PLoS ONE yang mengidentifikasi moringa isothiocyanate-1 (MIC-1) sebagai senyawa antiinflamasi. Cara kerjanya menekan aktivasi NF-κB serta mengaktifkan jalur Nrf2. Mekanisme ini menurunkan produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-1β. Hal itu makin memperkuat bukti ilmiah bahwa kelor memang memiliki aktivitas antiinflamasi yang signifikan.
Efek imunomodulator kelor juga didukung oleh penelitian Gumede dan rekan dalam Kemajuan Ilmu Hewan dan Kedokteran Hewan. Studi tersebut menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor meningkatkan fungsi fagosit, mengatur produksi sitokin, dan memperbaiki parameter hematologis. Aktivitas antioksidan yang tinggi, terutama dari quercetin dan kaempferol, berkontribusi pada stabilitas sistem imun sehingga tubuh lebih adaptif terhadap stres biologis.
Dalam bidang kardiovaskular, penelitian Aekthammarat dan rekan yang dipublikasikan di Phytomedicine menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor menurunkan tekanan darah pada model tikus hipertensi. Efek ini muncul melalui peningkatan produksi nitric oxide yang melebarkan pembuluh darah, penurunan stres oksidatif, serta potensi aktivitas penghambatan ACE.
Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah, daun kelor layak diposisikan sebagai tanaman obat modern yang potensinya sejalan dengan penelitian farmasi kontemporer. Kombinasi antara khasiat turun-temurun dan validasi ilmiah menjadikan kelor sebagai salah satu tanaman tropis paling menjanjikan di bidang kesehatan alami. (Naya Maura Denisa)
