Thursday, February 9, 2023

Kemasan Pengganti Plastik dari Pelepah Pinang, Terurai dalam 60 Hari

Rekomendasi

Trubus.id — Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Pelepah yang semula limbah menjadi berguna, ramah lingkungan, sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Rengkuh Banyu Mahandaru, S.Ds., mengolah pelepah pinang menjadi wadah makanan dan piring yang bermanfaat.

Kemasan pelepah pinang itu tahan dalam oven bersuhu 200°C selama 45 menit. Sementara itu, dalam lemari pendingin, kemasan tahan suhu hingga minus 3°C. Wadah itu juga tahan bocor. Menurut Rengkuh, embun dari makanan panas akan terserap dengan baik oleh wadah sehingga makanan pun tidak cepat basi.

Sebetulnya, konsumen bisa menggunakan kemasan itu 2–3 kali, dengan catatan makanan kering. Namun, jika mengonsumsi penganan berkuah, sebaiknya hanya sekalil pakai. Beragam produk seperti boks dan piring bikinan Rengkuh, mudah terurai dalam waktu 60 hari sejak dibuang ke tanah.

Bandingkan dengan kemasan plastik yang terurai dalam 50–100 tahun. Bahkan, stirofoam susah terurai dan tidak bisa terdegradasi secara alami dalam tanah. Proses produksi kemasan dilakukan di pabrik di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Proses produksi relatif singkat menggunakan mesin. Mula-mula pemotongan pelepah pinang sesuai ukuran, pencucian, pengeringan, kemudian pencetakan dalam suhu 150–200°C. Rengkuh merancang semua mesin itu. Kapasitas produksi 20.000 kemasan.

Proses produksi itu nyaris tidak menyisakan limbah. Jika produk afkir pun, akan diolah kembali menjadi papan komposit. “Ujung-ujungnya semua limbah bisa diproses,” tutur Rengkuh yang bekerja sama dengan 100 kepala keluarga pemasok pelepah.

Sebelum pengemasan, Rengkuh mensterilkan produk menggunakan sinar ultraviolet. Menurut Almira Zulfikar, Chief Operating Officer Plepah, produksi wadah penganan itu menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Bagaimana menggabungkan riset dan bisnis, sehingga produk bermanfaat, tidak hanya berakhir di atas kertas,” tutur Almira.

Dhiasyifa Fajrin dari Divisi Pemasaran Plepah menuturkan, kemasan ini ketika sampai ke pasar disambut dengan hangat. Pada Oktober 2022, Hiroki Matsuo, Wakil Menteri Pendidikan, Teknologi, dan Inovasi Jepang, mengunjungi tempat produksi Plepah. Hiroki tertarik dengan konsep yang selalu berkaitan dengan pengembangan masyarakat. Selain itu, ia melihat skema dari riset sampai produksi sudah baik.

“Hiroki berharap pertumbuhan Plepah semakin cepat,” papar Rengkuh.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img