Wednesday, August 10, 2022

“Kembalilah ke Minyak Kelapa!”

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ia pun getol mendebat opini yang selama ini berkembang di masyarakat. “Tidak benar minyak kelapa penyebab kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Justru dengan mengkonsumsi minyak kelapa, kadar kolesterol terjaga dan jantung menjadi sehat,” tegasnya.

Ahli naturopati itu bukan sembarang bicara. Studi pada masyarakat di Kepulauan Pasifi k yang sehari-hari mengkonsumsi minyak kelapa sebagai diet utama menunjukkan, penduduk di sana justru memiliki tingkat kesehatan lebih baik. Berikut uraian pengarang buku Th e Coconut Oil Miracle dan Coconut Cures itu yang disampaikan dalam seminar sehari tentang Peran Diet Minyak Kelapa Terhadap Kesehatan Jantung, Diabetes, Kanker, Obesitas, dan Penyakit Degeneratif Lain di Jakarta.

Sejak beberapa tahun terakhir penyakit jantung dinobatkan sebagai pembunuh nomor satu di negara-negara maju. Konsumsi minyak kelapa yang mengandung asam lemak jenuh disebut-sebut sebagai penyebab penyakit itu. Pantas bila kemudian kedudukan minyak kelapa digantikan oleh minyak sayur asal kedelai, jagung, biji bunga matahari, dan canola. Itu jelas pendapat yang salah. Banyak bukti empiris dan riset yang menunjukkan sebaliknya.

Yang paling mudah adalah dengan menelusuri bukti-bukti empiris pada masyarakat tropis yang notabene konsumen minyak kelapa sejak ribuan tahun lalu. Sebuah riset yang dilakukan selama 10 tahun di Pulau Pukapuka dan Pulau Tokelau—berada di bawah pemerintahan Selandia Baru—menyebutkan sebanyak 60% sumber energi penduduk setempat berasal dari lemak.

Itu jelas bertentangan dengan anjuran American Heart Association untuk membatasi konsumsi lemak hanya 30% dari total kalori. Standar itu dikeluarkan untuk menghindari penyakitpenyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, kanker, dan arthtritis. Pada kenyataannya penduduk di dua kepulauan itu justru sehatsehat. Sebaliknya penduduk Amerika Serikat yang lebih sedikit konsumsi minyak kelapa—mereka banyak menggunakan minyak kedelai dan jagung—justru menghadapi keluhan penyakit jantung yang membabibuta.

Pelindung jantung

Usut punya usut, rahasia kesehatan penduduk Pulau Pukapuka dan Pulau Tokelau justru terletak pada konsumsi lemak dari minyak kelapa. Kenyataan itu didukung oleh bukti-bukti ilmiah. Minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh rantai sedang alias medium-chaid fatty acids (MCFA), mencapai 92%. Di dalam tubuh asam lemak jenuh langsung diubah menjadi energi, bukan lemak. Makanya mengkonsumsi kelapa—termasuk minyak dan santan kelapa—tidak menyebabkan masalah kegemukan. Pun peningkatan kolesterol jahat (LDL). Sebaliknya minyak kelapa mendorong peningkatan kolesterol baik (HDL) yang berperan sebagai pelindung jantung.

Seseorang berisiko jantung tinggi bila nilai rasio kolesterol di atas 5,1 mg/dL. Ambang normal 5,0 mg/dL; yang berisiko rendah nilai rasio kolesterolnya 3,2 mg/dL. Sebuah studi di Srilanka membandingkan kasus mereka yang menjadikan minyak kelapa sebagai diet utama, dengan minyak jagung. Hasilnya, kelompok pertama memiliki nilai total kolesterol 179,6 mg/dL; LDL (131); dan HDL (43,4). Pada kelompok kedua, nilai itu masingmasing 146; 100,3; dan 25, 4. Itu berarti rasio kolesterol kelompok pertama hanya 4,14 mg/dL; kelompok kedua, 5,75.

Pada 1960-an Prof Dr John Kabara dari Departement of Chemistry and Pharmacology, Michigan State University, menemukan asam laurat pada minyak kelapa. Kadarnya mencapai 48%—hanya kalah sedikit dibanding pada air susu ibu. Asam laurat terbukti mampu membunuh berbagai jenis mikroba yang membran selnya berupa asam lemak, seperti infl uensa hingga hepatitis C dan HIV/AIDS. Seorang pasien saya penderita gangguan lever selama bertahuntahun sembuh setelah mengkonsumsi minyak kelapa selama 6 bulan.

Penelitian-penelitian terbaru pun menunjukkan minyak kelapa efektif menekan laju pertumbuhan sel kanker. Sebuah riset in-vitro pada tikus percobaan yang diberi sel kanker usus menunjukkan sel kanker berhenti tumbuh pada tikus yang diberi asupan minyak kelapa. Studi lain, beberapa tikus percobaan dipapar dengan sel kanker kulit. Ternyata sel kanker urung kembang pada tikus yang sebelumnya diolesi minyak kelapa.

Ketakutan bahwa pemanasan minyak kelapa menyebabkan risiko kanker meningkat pun tidak benar. Kandungan MCFA membuat minyak kelapa tidak mudah teroksidasi bila terkena panas tinggi. Ia baru terurai bila pemanasan mencapai suhu 300oC. Sebaliknya struktur asam lemak tak jenuh pada minyak sayur sangat peka panas. Dengan pemanasan tinggi terjadi penggumpalan dengan jelantah kental. Jelantah mengandung lemak trans yang dikenal radikal bebas dan karsinogenik.

Dengan berbagai bukti itu wajar bila Food and Drug Assocition di Amerika Serikat menyebutkan minyak kelapa sebagai minyak tersehat dan teraman di dunia. Ketakutan akan dampak pemanasan dapat diredam dengan ditemukannya metoda pembuatan minyak tanpa pemanasan: metoda pemancingan, enzim, dan teknik sentrifugal. Hasilnya, virgin coconut oil (VCO) yang kini tengah menjadi fenomena. Tidak ada perbedaan khasiat antara minyak kelapa dengan pemanasan dan VCO. Hanya saja pada proses pemanasan mungkin ada beberapa vitamin yang hilang. Jadi, mari kembali pada konsumsi minyak kelapa!***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img