Sunday, August 14, 2022

Kembalinya sang Pertapa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Arabicum setinggi 2 m itu memang perkasa. Batang dan kaki terlihat kokoh meski sosoknya jangkung. ‘Tak ada akar yang saling menyilang. Cabang dan perantingan juga sudah terarah,’ kata Yusniar Basuki, juri asal Yogyakarta. Tiga juri-Supriyanto, Yusniar Basuki, dan Wahyu-pun sepakat mengganjar dengan nilai 65,7. Koleksi H Rosyidi asal Klaten itu mengalahkan 2 pesaing terberatnya: jawara RCN milik Andy Budi Pratama dari Klaten (62,83) dan kampiun total performance milik Felik asal Kediri (61,83).

Pertarungan yang tak kalah seru terjadi di kelas utama nonbunga. Tiga besar di kelas itu merupakan adenium yang memang dipersiapkan secara matang oleh para pemiliknya. ‘Ketiganya mempunyai perakaran yang baik. Percabangan pun sudah diselaraskan,’ ujar Supriyanto, juri asal Ponorogo. Akhirnya, tiga juri menetapkan adenium milik Andy Budi Pratama asal Klaten sebagai yang terbaik. Ia menumbangkan adenium koleksi Herman dan saudara selubuknya-juga milik Andy-dari Klaten.

Meriah

Kontes yang digelar di bekas Hotel Ambarukmo itu meriah. Sebanyak 101 adenium dari Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur beradu kekuatan. ‘Ini kontes pertama kali di Yogyakarta yang mampu menjaring peserta terbanyak,’ kata Willy Purnawanto SE, ketua panitia kontes. Maklum, meski Yogyakarta dikenal sebagai wilayah pertama yang memicu tren adenium berkarakter, peserta kontes sepanjang 2005-2007 hanya puluhan peserta. Kontes itu kian istimewa karena diikuti peserta-peserta berkualitas.

Hajatan yang digelar oleh komunitas sansevieria dan adenium di Yogyakarta itu juga menampilkan kontes sansevieria. Sebanyak 80 peserta bersaing ketat di 8 kategori. Sebut saja kelas daun pipih, daun bulat, mini, dan unik. Pesertanya berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di kontes itu Sansevieria patens milik Yusack dari Solo dinobatkan sebagai best in show dengan total nilai 72,83. Ia mengalahkan 2 pesaing terberatnya: S. aethiopica koleksi nurseri Watu Putih, juara di kelas daun pipih majemuk dan S. suffruticosa milik Soejatno Soebekti, kampiun di kelas daun bulat tunggal.

Semarang

Ingar-bingar perang sansevieria pun berlangsung di Semarang, Jawa Tengah. Di kontes bertajuk Flora Fauna Fair III 2008 itu bertarung 47 lidah mertua. Pada penghujung Agustus itu nama Soejatno Soebekti asal Temanggung berkibar karena menang di 2 kelas: daun bulat dan pipih. ‘Kesan pertama keduanya memang paling menarik,’ kata Ir Irwan Riyanto, koordinator kontes yang juga menjabat ketua Aspeni Jawa Tengah itu.

Ajang yang digagas oleh Perkumpulan Flora dan Fauna Semarang itu juga menggelar kontes puring dan anthurium. Tercatat 60 anthurium dan 32 puring menyemarakkan kontes tersebut. Kolektor asal Temanggung, Ny Sasra Handaka, berkibar di kontes anthurium. Di kelas jenmanii ia memborong posisi 4 besar. Ia pun merebut posisi 2-5 di kelas nonjenmanii. Posisi pertama diraih oleh Lux’s Flora. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img