Thursday, February 9, 2023

Kendala Berkebun Matoa

Rekomendasi

Trubus.id — Siapa menanam pasti akan menuai. Ungkapan itu tidak berlaku bagi Purwo Hadi Subroto, S.P., pekebun matoa di Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai Barat, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Purwo gagal panen karena kebun matoa kepunyaannya diserang hama monyet.

Ia menanam 140 bibit matoa di lahan 2 hektare pada 2016. Namun, pada 2020 Purwo gagal menuai buah matoa. Sekumpulan kera yang justru memanen buah anggota famili Sapindaceae itu. Jumlahnya berkisar 80 ekor dan datang bersamaan memetik buah matoa.

Purwo mengatakan, satwa primata itu membuat habitat baru berjarak 200–300 meter dari kebun matoa Purwo. Hal ini karena di Pekanbaru habitat asli hewan itu banyak dijadikan perkebunan sawit. Serangan dimulai ketika umur buah matoa 1,5 bulan sejak fruitset (bunga menjadi bakal buah).

Purwo memperkirakan kerugian akibat serangan kera mencapai Rp100 juta. Saat itu harga jual matoa di Pekanbaru mencapai Rp40.000 per kg. Tentu saja, Purwo berupaya mengatasi pencurian matoa oleh satwa Macaca fascicularis itu, dengan memasang bunyi-bunyian memakai kaleng untuk mengusir kawanan kera.

Pada mulanya, cara itu efektif mencegah “pencurian” matoa. Namun, lambat laun kera tetap mengambil buah matoa. Akhirnya, Purwo memutuskan, menebang 130 pohon matoa berumur enam tahun pada Maret 2022. Saat ini, pohon matoa yang dipertahankan hanya 10 pohon dan letaknya cukup jauh dari habitat kera.

Pekebun lain, Kusyanto juga menghadapi kendala serangan hewan, bedanya yang menyerang adalah kalong. Kusyanto menanam 46 batang pada 2018. Pekebun di Desa Hidup Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, menuturkan, kalong menurunkan produksi hingga 30 persen.

Selain itu, hama lain yang menyerang matoa berupa ulat api Setothosea asigna. Ulat itu menyerang daun berumur 2–3 pekan. Kusyanto mengendalikan dengan membakar daun-daun itu.

Cara lain rutin memangkas atau pengurangan tunas menjelang tanaman berbunga. Tujuan pemangkasan agar tanaman mendapatkan sirkulasi sinar matahari dan pembentukan arah pertumbuhan. Makin sering dipangkas, makin bagus. Matoa akan bercabang lagi, bunga muncul dari cabang-cabang sekunder.

Menurut Prof. Ir. Sobir M.Si., Ph.D., ahli buah dari Institut Pertanian Bogor, penyakit lengkeng dan matoa kurang lebih sama. Pada lengkeng, burung dan kelelawar memakan buah. Pengendaliannya dengan memasang jaring atau pukat menyungkup buah.

Adapun lalat buah Bactrocera dorsalis betina bertelur dalam buah saat menjelang matang. Pengendaliannya dengan sanitasi lahan dan insektisida sesuai aturan. Pengendalian lalat buah jantan dengan metil eugenol.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img