Sunday, July 14, 2024

Kentang Katineung : Panen Melonjak 100%

Rekomendasi
- Advertisement -

Kentang baru berproduksi tinggi hingga 42 ton per hektare dan adaptif di dataran menengah.

Kentang katineung yang berkulit ungu. (Dok. Dr Awang Maharijaya)

Trubus — Muhammad Chudori gembira karena memanen 127,5 ton umbi kentang di lahan 3 hektare. Artinya produksi rata-rata mencapai 42,5 ton per hektare. Padahal, sebelumnya petani di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya menuai 20—25 ton kentang per hektare. Nun di Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Dede Hermawan, mengalami lonjakan produksi signifikan.

Dr. Awang Maharijaya,
peneliti kentang katineung
sekaligus ketua Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB. (Dok. Trubus)

Peningkatan produksi di lahan Chudori dan Dede itu lantaran mereka menanam kentang varietas terbaru bernama PKHT-06. PKHT akronim dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika—pemulia kentang itu. Para petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyebut kentang anyar itu katineung yang berarti kesayangan dalam bahasa Sunda. Tanaman kerabat tomat itu memang menjadi kesayangan para petani kentang karena berproduktivitas tinggi.

Dataran menengah

Peneliti kentang katineung, Dr. Awang Maharijaya, mengatakan, “Hasil percobaan menggunakan benih umbi utuh menghasilkan 39 ton kentang per hektare. Terdapat sekitar 23 umbi berbobot total 2 kilogram per tanaman.” Sementara penggunaan benih dari setek batang menghasilkan 18—24 ton kentang per hektare. Produksi itu sama dengan volume panen kentang nasional yang berasal dari umbi utuh.

Chudori menuturkan kebutuhan bibit katineung relatif sedikit yakni 20.000—25.000 per hektare. Alasannya umbi kentang hasil penelitian dengan pembiayaan insentif beberapa program dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yaitu insentif riset sistem inovasi nasional, strategi nasional, dan penelitian unggulan strategi nasional itu banyak dan besar. Sosok tanaman katineung pun besar, hingga 2 meter. Bandingkan dengan granola yang memerlukan 30.000 umbi per hektare. Dengan demikian petani katineung menghemat bibit.

Hamparan tanaman kentang katineung di lahan Dede Hermawan di Desa Margamulya, Kecamatan
Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Dok. Dede Hermawan)

Menurut Awang bahkan potensi hasil katineung 60—80 ton per hektare jika jarak tanam lebih longgar 25 cm x 150 cm plus pemberian pupuk maksimal. Keistimewaan lain kentang itu yakni berdaya tahan lebih tinggi terhadap penyakit akibat cendawan seperti busuk umbi yang disebabkan Phytophthora infestans dan layu bakteri oleh Ralstonia solanacearum. Buktinya Chudori hanya menyemprotkan pestisida empat kali dalam tiga bulan. Lazimnya 25 kali.

“Musim hujan pun katineung tahan penyakit,” kata pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, itu. Berkurangnya frekuensi penggunaan pestisida menghemat ongkos produksi. Semula Chudori menghabiskan Rp120 juta per hektare sebagai modal menanam kentang. Setelah menggunakan katineung biaya produksi Rp 84 juta per hektare atau terpangkas 30%. Petani pun tidak memerlukan ajir meski tinggi tanaman hingga 2 meter.

Chudori mengatakan batang katineung mirip batang cabai yang agak berkayu sehingga lebih kokoh daripada kentang lainnya. Dede dan Chudori menanam katineung di dataran tinggi berelevasi lebih dari 1.200 m di atas permukaan laut (dpl). Yang istimewa katineung adaptif di lahan berelevasi kurang dari 1.000 m dpl. “Kentang itu juga tahan suhu tinggi hingga 32°C, sedangkan kentang jenis lain menghendaki suhu 26°C,” kata Awang.

Sunarti petani pertama di Blitar, Jawa Timur, yang menanam kentang katineung. (Dok. Sunarti)

Harga tinggi

Petani di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Sunarti, membudidayakan katineung di lahan berketinggian 800—960 m dpl. Sunarti menanam katineung pada akhir Desember 2018. Jarak tanam 25 cm x 25 cm sehingga dalam guludan berukuran 5 m x 1 m berisi 75 benih kentang.

Jika lancar ia memanen kentang anyar itu pada Medio 2019. Kentang komoditas baru bagi Sunarti sehingga belum bisa memprediksi hasil panen. Sebelumnya ia dan warga lainnya menanam cengkih.

Hasil pengujian Awang dan tim menunjukkan produktivitas katineung di lahan 700 m dpl mencapai 507 gram per tanaman. Adapun jarak tanam 75 cm x 45 cm dan menggunakan 30 bibit setek. Artinya potensi hasil panen mencapai 15 ton per hektare. Semua keunggulan katineung itu sesuai harapan Awang. Ia memperoleh katineung dari hasil seleksi klon kentang milik The International Potato Center.

Keripik kentang katineung berwarna kuning cerah dan tidak berubah menjadi cokelat. (Dok. Trubus)

Awang berharap katineung dapat bersaing dengan kentang industri. Hasil uji karakteristik cukup memuaskan. Katineung hampir setara kentang atlantik, tidak browning pada suhu tinggi, serta kerenyahan dan kekerasan sesuai keinginan konsumen. Trubus mencicipi keripik katineung produksi Chudori yang bercita rasa mirip keripik kentang di pasaran. “Katineung juga bisa diolah menjadi tepung dan konsumsi rumahan,” kata Awang.

Sayangnya masyarakat belum akrab dengan katineung yang berwarna ungu kemerahan. Padahal warna daging kentang ini tetap krem-kekuningan seperti kentang yang lazim masyarakat konsumsi. Namun justru itulah kelebihan lain katineung karena bisa berharga lebih tinggi daripada produk sejenis. Harga katineung Rp14.000 per kg di Pulau Sumatera. Jumlah itu dua kali lipat harga normal Rp7.000 per kg. Dengan begitu masa depan kentang yang diteliti sejak 2013 itu semenarik kelirnya. (Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Presiden dan Mentan Kunjungi Kebun Kopi di Lampung Barat, Pacu Produksi Demi Kesejahteraan Petani

Trubus.id—Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau perkebunan kopi di Desa Kambahang, Kecamatan Batubrak,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img