Sunday, August 14, 2022

Kentang Sakti dari Priangan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Nadia bukan anak kesayangan Chaeruddin, tapi jenis kentang yang ditanam lelaki 40 tahun itu. Pada November 2008, dari lahan 2 ha, Chaeruddin, pekebun di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu memanen 46 ton umbi kentang. Nadia yang ditanam pada ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut itu berproduksi 3 ton lebih tinggi per hektar dibanding jenis granola. ‘Di sini, produksi granola hanya 20 ton sehektar,’ ungkap Chaeruddin

Dengan tambahan produksi 6 ton per 2 hektar, Chaeruddin mendapat peningkatan omzet Rp18-juta saat harga jual kentang Rp3.000/kg. Menurut pekebun yang sudah berpengalaman menanam kentang 15 tahun itu, nadia disukai pasar karena penampilannya cukup bagus. ‘Kulit umbi lebih mulus,’ tambahnya. Pekebun pun senang karena tahan gempuran busuk daun akibat serangan Phytophthora infestans.

Keturunan granola

Pekebun granola bukan Chaeruddin semata. Wahyono, pekebun di Brebes, juga menanam nadia. Produktivitasnya sama persis dengan pengalaman Chaeruddin. Umur panen nadia memang lebih lama 10-20 hari ketimbang granola. Jika pekebun memanen granola saat berumur 90 hari; nadia, 110 hari. Itulah sebabnya penyemprotan pestisida untuk nadia hingga hari ke-85 usai tanam; granola berhenti pada hari ke-75.

Meski begitu, total frekuensi penyemprotan nadia lebih sedikit, hanya 15 kali, sementara granola hingga 20 kali. Interval penyemprotan nadia lebih lama, 5 hari; granola 3 hari. Artinya, pekebun hemat biaya pestisida hingga 25%. Pekebun granola mengeluarkan biaya pestisida Rp15-juta, sedangkan pekebun nadia cukup Rp11,5-juta.

Nadia dirilis oleh Departemen Pertanian pada Januari 2009. Sebelum dilepas, beberapa pekebun di Pangalengan dan Ciwidey-keduanya di Kabupaten Bandung-serta Brebes sudah menanam nadia. Varietas itu hasil seleksi dari granola yang dilakukan Ir Wildan Mustofa, pekebun di Pangalengan. Pada 2003 Wildan menemukan 8 bibit G3 granola di dalam greenhouse yang tumbuh mencolok.

Ke-8 tanaman itu lebih kekar, resistan serangan hama dan penyakit, serta produksi lebih tinggi. Wildan memilih 2 terbaik dari 8 tanaman itu. Sebanyak 14 umbi dari kedua tanaman itu ia tanam ulang hingga diperoleh 1 tanaman terbaik. Hasil uji pollymeration chain reaction (PCR) membuktikan umbi dari tanaman terbaik itu berbeda dengan umbi granola, tetuanya.

Umbi tanaman terbaik itulah yang akhirnya dilepas sebagai varietas baru bernama nadia. Dengan uji PCR, nadia mempunyai 3 band gen berbeda ketimbang granola. Setelah varietas baru itu diuji multilokasi di Bandung, Garut, dan Majalengka pada 2007-2008, nadia dilepas. Hasil uji multilokasi menunjukkan rata-rata produktivitas nadia 30 ton; granola, 28 ton per ha.

Merah muda

Selain nadia, varietas kentang baru unggul lainnya adalah GM-05, GM-08, dan Ping-06. Ketiganya hasil silangan granola dan michigan pink yang dibawa Dr Eri Sofiari-peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa)-dari Amerika Serikat pada 2002. Michigan pink tahan Phytophthora infestans dan berproduksi tinggi. Sedang granola dipilih karena banyak ditanam pekebun, produktivitasnya tinggi, dan tahan virus. Namun, granola rentan Phytophthora infestans.

Dari hasil persilangan dan seleksi akhirnya terpilih 3 klon unggul yang memiliki karakter berbeda, tetapi semuanya tahan busuk daun. ‘Jika granola perlu 20 kali semprot dalam satu musim tanam, klon baru ini hanya perlu 10 kali semprot,’ kata Ir Kusmana, peneliti Balitsa. GM-05 cocok sebagai kentang sayur layaknya granola. Kulit dan daging umbi berwarna kuning mirip granola.

Dari uji multilokasi, produktivitas GM-05 rata-rata 30 ton, sedangkan granola 20 ton/ha pada musim hujan. Pada musim kemarau produktivitas GM-05 hanya 16 ton dan granola 17 ton/ha. Itu karena serangan Phytophthora infestans memuncak pada musim hujan. Granola tak tahan busuk daun sehingga produksi jauh di bawah GM-05 yang tahan busuk daun.

Ping-06 dan GM-08 pun memiliki ketahanan dan tingkat produktivitas mirip GM-05. Ping-06 berkulit merah muda dan berdaging kuning. Itu mirip kentang varietas desire dari Belanda. Warna kulit yang menarik itu membuatnya cocok untuk pasar swalayan sebagai bahan kentang rebus atau kentang kukus. Sedangkan GM-08 berkulit kuning dan berdaging putih. ‘GM 08 cocok untuk bahan keripik seperti varietas atlantik,’ kata Kusmana.

Varietas baru tahan busuk daun yang juga cocok untuk keripik adalah dea. Varietas itu hasil silangan varietas astarte dan DTO 28 yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor. Varietas yang diuji multilokasi bersama nadia itu berdaging putih mirip atlantik. Produktivitas rata-rata saat uji multilokasi 30 ton, padahal atlantik hanya 24 ton/ha. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img