Wednesday, August 10, 2022

Kepiting Lunak Berkat Bayam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Mula-mula Yushinta meriset kandungan senyawa aktif dalam daun bayam Amaranthus tricolor. Di dalamnya doktor Biologi dari IPB itu menemukan ekdisteroid, hormon yang menyebabkan Popeye kuat. Hormon itu persis yang ditemukan dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar, pada kepiting bakau yang hendak moulting alias berganti kulit. Secara periodik anggota keluarga Crustaceae itu moulting untuk tumbuh menjadi besar.

Sayang, hormon ekdisteroid di tubuh Sylla sp jumlahnya sedikit, 500 nanogram per kg bobot tubuh. Sebab itu sebuah proses moulting memakan waktu lama hingga 30 hari. Andai hormon ekdisteroid cukup banyak, proses ganti kulit itu bakal lebih cepat. Sumbernya? Ya ekstrak bayam itu. Agar ekstrak bayam itu mengeluarkan ekdisteroid ia difraksinasi. Proses pemisahan senyawa itu diulang sampai 4 kali. Proses itu tuntas setelah senyawa aktif itu dipurifikasi alias dimurnikan supaya bebas zat pengotor. Dari 1 kg bayam diperoleh 250 mg ekdisteroid.

Pangkal kaki

Berikutnya Yushinta mendatangkan 200 bibit kepiting dari perairan Takalar, 2 jam perjalanan dari Makassar. Bibit berbobot 20 g per ekor itu dibesarkan ditambak dalam keranjang bambu berukuran 10 cm x 15 cm. Salinitas dijaga 30 ppm seperti habitat asli. Tiga bulan dipelihara, kepiting-kepiting itu diseleksi dan terpilih 100 ekor berbobot 80 – 100 g per ekor. Mereka lalu dipindah ke bak pembesaran 2 m x 2 m yang diberi sekat-sekat. Satu sekat untuk seekor kepiting.

Kepiting-kepiting itu disuntik ekstrak bayam. Yang diinjeksi adalah ruas-ruas di pangkal kaki dengan selaput lunak. Dosis injeksi 1/10 mg per kg bobot tubuh. Dari pangkal kaki itu ekdisteroid ekstrak bayam beredar ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Hasilnya, di hari ke-4 kepiting siap moulting. Menginjak hari ke-16 sekitar 70% kepiting moulting sempurna. ‘Uji di habitat asli memakai jumlah kepiting sama memberi hasil lebih baik. Sukses ganti kulit mencapai 80%,’ kata Yushinta.

Menurut Ir Sulaeman, Mphil, peneliti di Balai Riset Budidaya Air Payau Maros, apa yang dilakukan Yushinta itu logis. ‘Keluarga Crustaceae memiliki ekdisteroid yang diproduksi menjelang mereka berganti kulit atau bertelur. Tapi jumlahnya sedikit,’ katanya. Salah satu cara supaya cepat moulting selama ini dengan memberi ekdisteroid sintetis. ‘Tapi yang kimia itu mahal sehingga tidak ekonomis,’ tambahnya. Dosis 5 mg mencapai Rp3-juta. Namun, jika dipakai bayam, selain murah juga tersedia melimpah.

Paku-pakuan

Menurut Yushinta selain bayam, keluarga paku-pakuan juga potensial dijadikan sumber hormon ekdisteroid. ‘Jumlah senyawa aktif di dalamnya banyak,’ katanya. Sayang, paku-pakuan lebih sulit didapat karena mayoritas berada di daerah dataran tinggi. Sebab itu pula Yushinta lebih fokus memakai bayam.

‘Yang paling sulit menentukan dosis tepat hormon ekdisterod agar kepiting mau cepat berganti kulit,’ ucap Yushinta. Eksperimen yang berlangsung sejak 2007 itu seringkali terjegal. Jika jumlahnya kurang dari 1/10 mg per bobot tubuh, kepiting berganti kulit seperti di alam, selama 30 hari. Namun jika dosis di atasnya, kepiting pun mogok ganti kulit. ‘Batas toleransinya 10% dari 1/10 mg itu,’ kata ibu 2 putri itu.

Kendala lain, stres. Maklum kepiting yang telah disuntik setiap hari diangkat dari bak untuk ditimbang bobot tubuhnya. Kondisi itu juga terjadi kala pergantian air 100% setiap hari. Hasilnya kurang dari 5% yang berganti kulit. Namun setelah volume pergantian air hanya 10% per hari, kondisi itu berangsur membaik. ‘Persentase moulting mencapai 70%,’ ungkap Yushinta yang akan menerapkan teknik serupa untuk rajungan Porturus pelagicus.

Kabar baik

Keberhasilan penelitian Yushinta itu sesungguhnya menjadi kabar baik bagi peternak, kalangan industri kepiting, bahkan penikmat kuliner laut. Bagi peternak kepiting soka – kulit lunak – bisa dibuat sendiri, tanpa bergantung dari tangkapan alam. Maklum kepiting soka favorit karena harganya 2 kali lipat kepiting biasa yang di Makassar mencapai Rp150.000 per kg.

Industri kepiting untuk ekspor yang selama ini selalu kerepotan memisahkan daging dan kulit pun diuntungkan. ‘Dengan cara ini kami tidak usah memutilasi untuk mendapat kepiting soka,’ kata Hengky Yanto, eksportir kepiting di Makassar. Mutilasi dilakukan dengan memotong pangkal kaki kepiting. Menurut Yushinta cara seperti itu malah membuat bobot kepiting stagnan. ‘Bobot kepiting yang dibesarkan selama sebulan rata-rata 130 g. Dengan mutilasi tidak terjadi kenaikan bobot, hanya 100 g,’ ujarnya.

Nah, penikmat kepiting yang biasa disibukkan oleh aktivitas menyisihkan cangkang kini bisa lega. ‘Makan kepiting biasanya habis 10 menit hanya untuk mengupas kulitnya,’ kata Fachry, peternak bandeng di Sulawesi Selatan. Kehadiran Crustaceae yang bisa berganti kulit lunak menjanjikan begitu banyak keuntungan. Seperti Popeye yang selalu mengalahkan Brutus setelah mengkonsumsi bayam. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img