Wednesday, September 28, 2022

Keprok Batu Juara Satu

Rekomendasi

Jeruk juara yang manis, berair, dan berdaging lembut hasil budidaya intensif.

Jeruk keprok batu
Jeruk keprok batu

Sosoknya bulat dan berwarna jingga mempesona. Rasanya manis. Banyak yang menduga itu jeruk impor. “Saya sempat kaget kalau itu jeruk keprok. Karena untuk mendapatkan rasa semanis itu susah, apalagi saat itu musim hujan,” ujar pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim. Itulah jeruk keprok batu 55 hasil budidaya Eko Susanto. Pekebun jeruk di Desa Selorejo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu piawai menghasilkan jeruk bermutu tinggi.

“Yang paling menonjol dibandingkan dengan keprok lain yaitu pada kulit ari buah yang nyaris tidak ada alotnya. Lalu manisnya bagus, tekstur daging berair, plus warna yang menarik,” ujar Tatang Halim. Pada Lomba Buah Unggul Nusantara 2016 jeruk keprok milik Eko meraih juara ke-1 kelas jeruk manis. Keprok batu 55 meraih poin 92,06 dan meninggalkan pesaing utamanya juara ke-2 dengan poin 89,74.

Substitusi impor
Tatang yang menjadi juri Lomba Buah Unggul Nusantara 2016 menuturkan, jeruk keprok batu 55 itu sangat layak dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia. “Sebaiknya jeruk itu dikembangkan lebih luas lagi,” ujarnya. Juri dari Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Ir Elnizar Zainal, MSi mengungkapkan jeruk-jeruk yang mengikuti LBUN sudah berkualitas bagus terutama dari tingkat kematangannya yang sempurna.

“Para jeruk juara yang sudah matang sempurna layak menjadi jeruk unggulan nasional,” ujar Elnizar. Menurut Elnizar jeruk keprok hasil budidaya Eko layak menjadi subtitusi jeruk impor. Itu bukti jeruk keprok dalam negeri tidak kalah dengan jeruk impor. “Kita kalah dari segi penampilan, tetapi dari segi rasa kita menang dibanding jeruk impor. Jeruk kita lebih segar karena tempat panennya lebih dekat,” ujar peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropis (Balitjestro), Ir Agus Sugiyatno MP.

Selain itu potensi jeruk keprok dalam negeri juga tinggi. Sentra utama keprok batu 55 di Kota Batu seluas 200 hektare dan Kabupaten Malang (365 ha). Menurut Agus hanya tinggal sentuhan teknologi agar kualitas dan produktivitas buah bagus. Eko Susanto mengebunkan 400 pohon jeruk keprok batu 55 di lahan 0,5 hektare. Orang tuanya menanam jeruk itu pada 1999. Bibit hasil perbanyakan grafting berasal dari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika.

569_ 32Eko kemudian juga menanam 200 bibit. Harga jual menjadi daya tarik bagi Eko mengebunkan jeruk keprok batu 55. Di tingkat petani harga keprok batu 55 Rp10.000 per kg. Bandingkan dengan harga jeruk baby Rp4.000 per kg. Pria 29 tahun itu membudidayakan jeruk keprok batu 55 secara intensif. Menurut Agus Sugiyatno budidaya intensif menghasilkan jeruk yang berkualitas. Eko juga memanfaatkan asap cair untuk mencegah serangan hama.

Menurut Prof Anas Dinnurohman Susila dari Institut Pertanian Bogor, asap cair ampuh sebagai insektisida organik. “Pada kasus di sayuran, aroma asap cair itu tak disukai serangga sehingga hama bisa ditekan,” ujarnya. Selain ramah lingkungan, asap cair efektif untuk menjaga buah dari serangan hama ulat. Keprok batu 55 panen perdana pada umur 3 tahun dengan produktivitas hanya 10 kg per tanaman.

Tanpa seleksi
Eko menuai rata-rata 80 kg buah per pohon. Produksi meningkat menjadi 25 kg per pohon pada umur 4—5 tahun dan 80 kg per pohon berumur 20 tahun. Ia tak menyeleksi buah saat panen. Semua buah hasil budidayanya ia jual ke pemasok buah dengan harga sama dengan kisaran Rp8.000—Rp17.000 per kg.

569_ 33“Saya jual borongan ke pemasok buah, sehingga buah yang kecil dan besar semuanya sama,” ujarnya. Namun ketika harga kurang bagus, ia harus menahannya di pohon. Itu menjadi kendala karenan daya tahan jeruk keprok batu 55 di pohon hanya sebulan. Setelahnya buah menjadi kurang berair. “Kalau jeruk baby bisa kuat sampai 4 bulan di pohon,” kata anak kedua dari tiga bersaudara itu. (Bondan Setyawan)

Previous articleJuara dari Tengah
Next articleJambu Manis Asal Taiwan
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Radio Kayu dan Sepeda Bambu Kreasi Alumni ITB

Trubus.id — Singgih Susilo, alumni Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB 86) membuat kreasi unik berbahan dasar kayu dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img