Wednesday, August 10, 2022

Keprok Mempesona di 20 Hektar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Hazairin tak henti-hentinya berdecak kagum menyaksikan dompolan buah siap panen bergelayutan di pohon setinggi 2 – 2,5 m itu. Beberapa cabang merunduk gara-gara tak kuasa menahan beban. Satu dompol berisi 6 – 8 buah. Dengan bobot 150 g/buah, sedompol setara 900 – 1.200 g. Artinya, setiap pohon dengan 4 – 5 dompol menghasilkan 3,6 – 6 kg buah. Itu belum menghitung dompolan buah muda yang siap panen 1 – 2 bulan mendatang.

Hazairin memetik sebuah berukuran sekepalan tangan orang dewasa. ‘Itu grade AA alias super,’ kata E Sartono SE alias Apheng, pemilik kebun. Diameter keprok terigas itu 7,6 cm dan berbobot 300 g. Menurutnya sebanyak 20% dari total panen berkualitas super. Sebanyak 35% di antaranya termasuk grade A (berdiameter 7 cm), 25% grade B (diameter 6,4 cm), dan 20% grade C (diameter 5,8 cm).

Mirip siem

Namun, Hazairin tak langsung mengupas keprok jumbo itu. Ia tertegun sebentar, ‘Kok mirip siem ya,’ ujarnya. Penampilan keprok terigas itu memang menyerupai siem. Poripori yang biasanya tampak jelas pada kulit keprok nyaris tak terlihat. Ciri khas keprok seperti benjolan pada pangkal tangkai buah juga tak kentara.

Begitu dikupas barulah Hazairin yakin jeruk dalam genggamannya adalah keprok. Ciri keprok meski kulitnya tebal, tetapi regas sehingga mudah dikupas. Sedangkan kulit siem tipis, liat, dan lengket dengan daging buah. Aroma khas keprok pun menguar begitu kulit terkelupas. Ir Arry Supriyanto MS, mantan kepala Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropis yang kini menjabat kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat, menduga keprok terigas adalah hasil persilangan keprok dan siem.

Trubus pun mencicip sebuah. Begitu daging buah digigit, rasa manis menyegarkan tercecap di ujung lidah. Berbeda dengan siem yang biasanya bercampur pahit bila buah baru dipetik. Tingkat kemanisan buah pada kematangan 80% mencapai 13 – 14o briks. Rasa manis itu berkat genangan air laut saat pasang. Setiap 2 pekan lahan yang berketinggian 1 m dpl itu tergenang air laut pasang selama 3 hari.

Menurut Ir Wijaya MS, ahli buah di Bogor, air laut yang mengandung garam alias NaCl sebetulnya tidak dibutuhkan tanaman. NaCl berperan secara tidak langsung dengan memutus ikatan senyawa-senyawa seperti potasium oksida (K2O) dan fosfat (P2O5) dan bertukar kation dengan keduanya. Dengan begitu tanaman mudah menyerap ion K dan P yang berperan mengatur transportasi karbohidrat sehingga buah menjadi lebih manis. Namun, bila terlalu lama tergenang justru bisa mematikan tanaman. ‘Tanah menjadi kekurangan oksigen,’ ujar mantan peneliti di kebun percobaan Departemen Pertanian di Cipaku itu.

Laris manis

Buah bongsor dan rasa manis membuat terigas laris manis saat dipamerkan pada Simposium Internasional Buah Tropis dan Subtropis di Bogor. Nama terigas yang dalam bahasa Sambas berarti mempesona memang layak disematkan pada jeruk asal Malaysia itu. Apheng pun diminta memasok 2 pasar swalayan terkemuka di Jakarta: Hypermart dan Ranchmarket.

Mereka berani membeli dengan harga tinggi, Rp10.500/kg untuk grade AA dan A. Maklum, di ibukota terigas menjadi jeruk lokal paling top yang dijual dengan harga fantastis: Rp25.000 – Rp30.000/kg! Sejak April – Desember 2008 Apheng menjual 13,8 ton keprok terigas ke kedua pasar swalayan itu. Ia juga memasok 5.266 kg keprok terigas ke Pasar Induk Kramatjati.

Permintaan tinggi juga mengalir dari Surabaya dan Kuching, Malaysia. Mereka minta pasokan masing-masing 2 ton/minggu. Namun, Apheng terpaksa menolak permintaan itu karena hanya sanggup memasok 1,5 ton/minggu. Maklum, dari 10.000 pohon baru 6.000 pohon yang berbuah.

Keprok berumur 4 tahun itu pun sebagian besar baru belajar berbuah. Meski demikian keprok terigas tergolong produktif. Panen perdana sejak April – Desember 2008 rata-rata produktivitas tanaman mencapai 20 kg/pohon. Bandingkan dengan siem madu tanahkaro yang hanya 10 kg/pohon.

Sejatinya Apheng tak menyangka bila keputusannya mengebunkan keprok terigas bakal menuai sukses. Maklum, meski jeruk asal jiran itu telah dikenal sejak 1999, tapi hanya sedikit pekebun yang berani membudidayakan. Itu pun cuma skala kecil, kurang dari 100 pohon.

Pecah buah

Keraguan pekebun itu disebabkan pecah buah yang kerap menghadang. Buah muda seukuran bola pingpong atau berumur 3 bulan pascaberbunga pecah kulit dan akhirnya membusuk. Pekebun rugi karena hanya memanen 30% dari potensi hasil.

Menurut Arry, pecah buah akibat perubahan temperatur yang ekstrim. Ketika matahari terik tanaman menyerap air dari dalam tanah. Namun, saat cuaca tiba-tiba mendung atau hujan, proses evapotranspirasi (penguapan dari jaringan tanaman, red) terhambat. Akibatnya kadar air buah berlebih sehingga mendorong kulit dan akhirnya pecah. Apalagi kulit keprok tak sekuat siem.

Namun, kendala itu tak menyurutkan Apheng mengebunkan keprok terigas. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Panca Bhakti Pontianak itu bersikukuh membudidayakan secara intensif. Pecah buah diatasi dengan memberikan pupuk tambahan organik yang mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap. Pupuk disemprotkan pada buah sejak pentil dengan interval sekali sepekan.

Pupuk lengkap – yang mengandung Ca – memperkuat dinding sel sehingga kulit tidak mudah pecah. Upaya itu mengurangi jumlah buah pecah. Dari setiap pohon hanya 2 – 3 pentil yang pecah. Karena kendala itu sudah diatasi, Apheng berencana memperluas area tanam menjadi 25 ha. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img