Sunday, August 14, 2022

KERAGAMAN & HARGA PANGAN

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dia bilang beras solok, beras cianjur, delanggu, rojolele, pandanwangi, dan seterusnya sama saja. Cuma Elly Kasim saja yang membuat beras solok jadi terkenal. Padahal, katanya, baik hasil panen dari Solok Selatan maupun Solok Utara, sama saja. Saya katakan berbeda.

Kalau sama saja, mengapa ada beras bermacam-macam. Ada yang Rp3.000, tapi ada juga yang Rp8.000 per kilogram? Mengapa kita sering tidak peduli pada perbedaan dan keistimewaan? Karena dari kecil kita tidak dilatih membedakan rasa. Yang penting makan, yang penting kenyang. Anak-anak jarang diberi tahu, apakah rasa beras yang murah berbeda dengan yang mahal? Mungkin, kalau kita dilatih mengenali bermacam rasa nasi, mungkin kecermatan bangsa ini dapat ditingkatkan. Itulah awal dari pengembangan agrikultur.

Pada waktu makan opor ayam pun, penyadaran pada keragaman jenis dapat dilakukan. Apakah daging ayam kampung sama rasanya dengan ayam negeri atau ayam ras? Bagaimana memilih jenis ayam yang lebih mahal harganya? Coba kita bayangkan, kalau semua daging ayam dianggap sama rasanya, apa gunanya memelihara ayam arab, ayam cemani, ayam pelung, ayam merah, dan ayam putih. Sebaliknya, dengan merayakan keragaman ini, bukankah harga daging ayam, telur ayam, bahkan bulu ayam pun jadi bermacam-macam?

Perbedaan harga itulah yang membuat roda agribisnis berputar pesat. Dalam banyak kesempatan, kita perlu memperkenalkan harga, sebagai faktor ekonomi sekaligus sosial budaya. Sebagai contoh, mari kita renungkan harga beras.

Rencana impor 250.000 ton beras telah menyakitkan hati banyak orang. Para petani merasa terpukul, meskipun mungkin ada juga yang senang karena akan dapat beras murah. Terutama warga kota, memang selalu berharap harga beras murah lebih baik. Namun, saya tidak berpendapat demikian. Di mana-mana di dunia ini, harga beras sebagai makanan pokok tidak boleh ditekan terus, sehingga lebih murah. Bahkan menjadi tidak masuk akal, misalnya ketika gabah hanya dihargai seribu rupiah satu kilogram.

Padahal, ongkos produksi untuk menghasilkan 1 kg beras bisa-bisa lebih dari Rp1.800. Harga beras tidak boleh murah, karena tidak mendidik konsumen dan menyengsarakan petani. Dewasa ini telah muncul kelompok-kelompok pencinta produk pertanian organik. Beras organik juga mulai banyak diproduksi dan beredar. Para petani yang dengan sadar menanam padi secara organik dan mengembangkan padi lokal, harus kita bantu dengan sekuat tenaga dan setulus hati.

Pendidikan menghargai nasi

Kita tahu, harga beras yang murah, biasanya di bawah Rp3.000 per kilogram. Sedangkan harga beras yang enak: rojolele, cianjur, delanggu, bisa Rp4.000-an, bahkan lebih. Teman-teman petani di Klaten, Jawa Tengah, mencoba memasyarakatkan beras organik ke kota-kota besar, dengan pasaran khusus. Saya sangat bangga bisa berlangganan untuk Ibu dan Ayah saya di Yogyakarta, serta minta kiriman khusus ke Jakarta. Tentu dengan harga pribadi. Saya rasa, harus ada ikatan emosional antara kita (pemangsa beras) dengan makanan pokoknya.

Apalagi setelah harga bensin premium menjadi Rp4.500 per liter sejak 1 Oktober 2005. Apakah para pemilik mobil mewah rela, minuman mobil lebih mahal daripada makanan pemiliknya. Secara umum kita mengenal harga murah untuk konsumsi massal. Misalnya untuk makanan para buruh pabrik, pegawai negeri, tentara, petani kecil, pekerja kasar, dan berjuta-juta orang miskin yang selama ini mendapat jatah “raskin” atau beras untuk rakyat miskin. Dapat dimaklumi, bagi berjutajuta warga yang pendapatannya berkisar di bawah upah minimum (misalnya kurang dari Rp1-juta) per bulan, memang perlu subsidi atau saluran dana kompensasi.

Namun nyatanya, selain itu kita juga tahu banyak warga negara yang berpenghasilan tinggi, bahkan supertinggi, hingga mencapai bilangan miliar rupiah setiap tahun. Untuk kalangan yang berpendapatan di atas Rp1- juta per hari, rasanya perlu punya kesadaran khusus. Anggota DPR dan pegawai kalangan atas yang menerima gaji di atas Rp30-juta per bulan, misalnya; selayaknya memberi contoh, bahwa mereka bisa menolong petani. Sekaligus memperbaiki lingkungan dan mengembangkan kekayaan tradisional. Bisa dengan diam-diam, secara pribadi, atau ramai-ramai, sebagai gerakan memilih pasar, market choice.

Kekuatan market choice ini dapat menghasilkan perubahan lebih nyata. Misalnya ada satu persen saja warga Indonesia yang bersedia menolong petani dengan memilih produk khusus dan memberikan harga istimewa, maka lebih dari 2-juta warga petani telah terbantu.

Untuk mengembangkan jenis-jenis padi yang istimewa dan padi organik, semestinya tidak kita paksakan agar mengikuti mekanisme pasar. Tidak apalah kita angap padi sebagai produk budaya untuk menghormati petani yang setia dan untuk memuliakan Ibu Pertiwi, agar semakin kaya dan dihormati.

Sebagai ilustrasi, beras organik di Yogyakarta tidak mungkin dijual dengan harga di bawah Rp5.000 per kilo. Mengapa? Sebab jumlahnya sangat terbatas, mengelolanya susah, benihnya sudah langka, dan perlu jaminan kejujuran. Perlu pemantauan yang teliti dan sertifi kasi. Demikian juga kalau dari Cianjur ke Jakarta, atau dari Malang ke Surabaya. Seyogyanya disarankan agar warga kota yang berkecukupan rela membayar satu setengah atau dua kali harga biasa. Kalau di Jakarta sampai menjadi Rp7.000 bahkan Rp8.000 per kilo, sesungguhnya masih murah. Ingat, ini bukan harga umum, tapi harga khusus. Harga istimewa yang muncul dari lubuk hati dan betul-betul tulus untuk berpihak kepada petani.

Maka, berbahagialah mereka yang dapat menyumbangkan cintanya kepada produk ramah lingkungan. Sudah waktunya kalangan yang berkemampuan di kotakota besar dapat memberikan apresiasi yang sepadan kepada beras, padi, petani, dan kampung halaman tercinta masingmasing. Menghargai beras secara pribadi dengan lebih tinggi, tidak akan membuat kita bangkrut. Percayalah.

Kreativitas dan kedaulatan

Rasanya, akan muncul perubahan mendasar dalam menghargai kehidupan di Indonesia. Selama bertahun-tahun, harga bahan bakar minyak ditekan sangat murah, tidak realistis dan memicu berbagai pembodohan. Rakyat dibiasakan pakai minyak tanah karena harganya semu, kelewat murah. Sejak Oktober 2005, pikiran lama yang lebih sehat, tampaknya bakal berkembang lagi. Ada minyak kelapa, ada kotoran lembu, ada berbagai bahan bakar yang dapat menyala tanpa mengeluarkan asap dan sangat efi sien. Bermacam limbah alamiah (daun, ranting kering, sekam, jerami, dan serbuk gergaji) dapat dimanfaatkan.

Beratus tahun nenek moyang kita memasak dan menerangi kepulauan ini dengan produk-produk hasil bumi yang terbarukan. Bukan dengan bahan kimia atau hasil tambang yang ekstraktif, eksploratif dan cenderung merusak alam. Demikian juga untuk pemenuhan konsumsi pangan. Bumbu masak tradisional, keragaman pangan, pemenuhan sendiri dari hasil pekarangan, sudah waktunya bangkit kembali. Kesulitan akan membuat masyarakat hidup lebih kreatif.

Kita perjuangkan semoga makanan mendapat harga yang layak. Jangan sampai berlanjut terus kebiasaan yang salah, yaitu menjual makanan dengan harga semurah murahnya. Kita tidak boleh bangga bisa makan sangat murah, akibat tukang warung salah menghitung dan tidak pernah menghargai tenaga sendiri.

Penghargaan yang tepat pada produkproduk makanan adalah kunci ke arah kemakmuran setiap bangsa. Mana ada negara jadi makmur dengan cara menggratiskan bahan makanan pokok, menekan hargaharga, dan membayar tenaga kerja semurahmurahnya? Justru sebaliknya, banyak bangsa menjadi makmur dan sejahtera karena setia, menghargai, dan menjunjung tinggi makanan serta minumnan nasionalnya. Kalau mau jelas, tengok saja harga masakan Jepang dan minuman (anggur) Perancis. Semakin mahal harganya, semakin menumbuhkan rasa bangga.

Tentu, saya setuju bahwa kesejahteraan warga desa adalah kunci untuk menghasilkan produk pertanian yang lebih berkualitas. Saya senang sekali ketika berkunjung ke pemerahan susu Salib Putih di Salatiga. Di dinding kantornya terpasang sekitar 20 macam lembu dengan nama dan asalnya. Perawatan sapi-sapinya juga bagus. Harga susunya juga lebih bagus daripada harga susu sapi kampung yang tak punya nama. Kecintaan yang mendalam membuat produk menjadi berharga dan sangat pantas dijunjung tinggi.

Begitu juga ketika menengok sebuah lembaga pendampingan petani di Klaten. Ada rak kaca menampung contoh macammacam padi, nama, aroma, dan rasanya. Juga harganya! Alangkah bagusnya bila masyarakat luas berlatih untuk memahami dan menghargai keragaman hayati sebagai awal dari pengembangan industri. Bukan saja agro industri tapi juga marine industry, atau industri kelautan. Sekadar contoh, mungkin dapat belajar dari Selandia Baru.

Kesadaran pada kekayaan laut, membuat warga Selandia Baru realistis. Untuk kepentingan seafood industry, misalnya, dicanangkan perlindungan 10 persen kekayaan lautnya hingga tahun 2010. Bayangkan, untuk melindungi 10 persen saja dibutuhkan upaya yang luar biasa besar. Jadi bagaimana kalau melindungi 100 persen? Apakah hal itu mungkin? Maka bila dalam berbagai hal, negara seluas Indonesia selalu mengeluh dicuri ikannya, sepertinya wajar. Padahal, pencurian bukan hanya ikan, tapi juga beraneka ragam plasma nutfah lain.

Negara semaju Selandia Baru punya Dewan Industri Makanan Laut yang sadar bahwa setiap tahun menyumbangkan lebih dari 4,5-miliar dolar untuk pendapatan negara. Industri makanan laut itu pula yang menopang kehidupan lebih dari 27.000 keluarga di sana. Bagaimana di Indonesia? Jumlahnya tentu bukan dalam bilangan ribuan, tetapi jutaan. Demikian pula dalam bidang agro forestry, agro industri, agribisnis, perikanan, perkebunan, peternakan, bahkan obat-obatan yang bersumber pada tumbuhan, hewan maupun hasil laut. *** *) Eka Budianta, sastrawan, konsultan pembangunan untuk Program Jasa Lingkungan (ESP – USAID), kolumnis TRUBUS

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img