Friday, December 2, 2022

KERBAU RAWA : Yang Bertahan 7 Generasi

Rekomendasi

Pemandangan itu terlihat setelah menempuh perjalanan bermobil sejauh 160 km dari Bandarlampung selama 2,5 jam. Jalan beraspal mulus, layaknya jalan tol, dan arus lalu lintas sangat sepi. Berpapasan dengan kendaraan lain paling setiap 10 menit. Di kanan-kiri jalan terhampar puluhan ribu hektar tebu milik PT Gunung Madu. ‘Makanya rawan kejahatan. Kita harus memacu kendaraan agak cepat supaya tidak dihadang orang yang berniat jahat,’ kata Legawa Hamijaya, dokter sekaligus polisi di Lampung yang menemani.

Pukul 08.00 tim eksplorasi Trubus yang terdiri dari Imam Wiguna, Rosy Nur Apriyanti, dan Karjono sudah merapat ke lokasi. Setelah melewati jembatan sepanjang 100-an meter terlihat sungai yang banyak ditumbuhi ecenggondok dan semak-semak air. Tanda-tanda keberadaan kerbau rawa nun di seberang sana tidak terlalu kentara. Yang ada sejauh mata memandang hanyalah genangan air.

Sebelum terjun, tim menemui Ismail, warga Tulangbawang, Provinsi Lampung, yang diminta untuk menyediakan getek-sampan kecil berukuran lebar 80 cm dan panjang 7,5 m. Kebetulan Ismail juga mempunyai 18 kerbau rawa. Kami menggunakan 2 rakit karena kapasitas getek maksimal 4 orang. Lebih dari itu berbahaya, riakan air cukup besar bisa menenggelamkannya.

‘Seru juga nih,’ ucap Rosy sambil mencemplungkan kaki ke air menuju arah getek ditambatkan. Rosy dan Legawa ada di satu rakit yang dinakhodai adiknya Ismail. Sementara Imam dan Karjono yang berbobot tubuh masing-masing di atas 75 kg, naik sampan yang dikemudikan Ismail. Perahu kayu seharga Rp3-juta itu biasa digunakan Ismail untuk memancing ikan setiap Jumat.

Awalnya memang takut, getek bergoyang-goyang karena keseimbangan tubuh kami belum stabil. Namun, lambat laun terasa nyaman. Perahu bermotor itu melaju pelan memasuki perairan rawa yang agak dalam, 4-8 m. ‘Di sini buaya masih ada. Sewaktu-waktu muncul ke permukaan,’ kata Ismail, tanpa berniat menakut-nakuti. Meski begitu, perasan kami tetap diselimuti kekhawatiran. Untungnya sepanjang perjalanan banyak ditemukan gubuk-gubuk yang ditinggali para peternak ikan patin dan nila di karamba. Paling tidak keberadaan mereka cukup menenangkan hati.

Setengah jam berlalu, pemandangan di sekeliling perlahan berubah. Kalau semula hanya riak air kecokelatan, kini mulai terlihat kandang-kandang kerbau di pinggiran rawa. Menurut Fatahillah, ketua umum padangan-koordinator keberadaan kerbau-berdasarkan lokasi ada 15 kelompok kepemilikan, di antaranya Pagardewa, Cakatpetau, dan Pemokou. Letak antarkelompok berjauhan, kurang lebih butuh waktu 20 menit untuk mencapainya dengan sampan. Masing-masing kelompok memelihara 200-600 ekor yang terdiri atas 10-40 pemilik.

Sayang, setelah berputar-putar tim eksplorasi hanya menjumpai serombongan kerbau yang tengah digembalakan. Kerbau-kerbau yang cuma menampakkan kepala itu berenang ke sana ke mari memburu hamparan rumput hijau di atas air. Kerbau rawa, Bubalus bubalis carabenesis memang lebih banyak hidup di air. Ia tidak tahan sengatan matahari. ‘Tiga jam di darat dan kena sorot matahari pasti mati,’ kata Ismail, warga Desa Kibang yang lebih dari 20 tahun memelihara kerbau rawa.

‘Sekarang air pasang, tidak banyak kerbau yang diliarkan khawatir terseret arus air,’ ujar Ismail. Sebagian besar pemilik memilih mengandangkannya, kendati harus memberi makan rutin 2-3 kali sehari. ‘Daripada kehilangan kerbau, lebih baik kami mengeluarkan tenaga dan biaya untuk mencari rumput,’ kata Burhani, yang menggembalakan sendiri kerbau-kerbaunya. Tim eksplorasi melihat kandang-kandang yang berukuran beragam, mulai 10 m x 20 m sampai 20 m x 20 m, dibuat dari kayu jati agar tahan lama. Di samping kandang ada saung jangkung tempat penggembala beristirahat.

Burhani menuturkan tahun ini musim tak menentu. Tidak bisa diprediksi saat air pasang atau surut. Mau tidak mau kerbau tetap dikandangkan sehingga ia harus berada di lokasi kandang setiap waktu. Biasanya saat air surut selama musim kemarau kerbau diumbar begitu saja. Binatang bertenaga besar itu mencari pakan sendiri, pulang kandang sendiri, dan beranak pun tanpa minta bantuan. ‘Pemilik tahu-tahu kerbaunya sudah bertambah ketika ditengok,’ tutur Burhani.

Pemilik kerbau rawa sebagian besar masyarakat setempat. ‘Beberapa ada juga orang Jakarta yang menitipkan kerbau di sini,’ kata Darsani Bakri, wakil ketua kelompok Cakatpetau. Menurutnya orang-orang kota tidak merawat sendiri kerbau-kerbaunya, melainkan mempercayakan kepada penggembala di masing-masing kelompok dengan sistem bagi hasil. ‘Alasan pastinya saya tidak tahu, entah sekadar iseng atau sebagai investasi,’ Darsani menduga-duga. Yang jelas bagi warga Tulangbawang memiliki kerbau rawa ibarat mempunyai tabungan yang terus bertambah seiring berjalannya waktu. Menjualnya gampang seperti halnya menjual emas. ‘Anak-anak saya (2 orang, red) masuk polisi, uangnya hasil menjual kerbau,’ kata Ismail.

Itulah sebabnya populasi kerbau rawa terus bertambah. ‘Kerbau rawa di samping simbol status, juga menjadi usaha yang menguntungkan,’ ujar Firmansyah. Bendahara kelompok Pemokou itu menghitung, setiap tahun seekor induk menghasilkan 1 anakan. Tiga tahun kemudian, bisa dijual seharga Rp5-juta-Rp7-juta/ekor. Jika sistem bagi hasil, jumlah anakan dibagi rata dengan penggembala. Pelaksanaannya dibagi setelah 3 tahun berjalan dengan hasil anakan 3 ekor. ‘Pemilik boleh memilih 1 anakan pertama, atau 2 anakan yang lahir pada tahun kedua dan ketiga,’ paparnya.

Namun, kini pengembangan kerbau rawa bukan berarti sepi kendala. Sejak adanya perusahaan yang membeli lahan-lahan di tepi rawa membuat kerbau-kerbau itu tidak leluasa merumput. Risikonya jika melewati batas wilayah sering disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. ‘Orang yang mendompleng nama perusahan bertindak brutal. Kerbau yang masuk daerah terlarang, kerap hilang,’ kata Burhani. Upaya pemagaran dilakukan, tapi tidak mengatasi masalah. Selain biayanya cukup besar, ruang gerak kerbau yang semakin sempit dikhawatirkan menggangu produktivitas.

Masalah lain timbul dari ketersediaan pakan. ‘Dulu kerbau tak pernah sakit. Eh sekarang ada beberapa kasus kerbau mati. Gejalanya, gemetar, panas, terus mati,’ ujar Firmansyah. Lelaki yang sudah berkecimpung di dunia kerbau selama 38 tahun itu mengkait-ngaitkan antara keragaman pakan dengan penyakit. ‘Rumput yang berbuah mirip padi kini sudah tak terlihat lagi. Padahal kerbau suka rumput itu dan tak ada penyakit,’ ungkapnya.

Obrolan soal kerbau terus meluncur dari mulut para ketua kelompok dan penggembala. Namun, matahari mengisyaratkan tim eksplorasi sudah waktunya untuk beranjak meninggalkan lokasi. Maklum jika kesorean keselamatan di jalan tak terjamin. Akhirnya dengan penuh harap semoga aset budaya dan materi miliaran rupiah itu mendapat perhatian penuh dari pemerintah daerah. Apalagi Gubernur Lampung, Drs Sjachroedin ZP, SH, ketika ditemui di kantornya menyatakan sangat tertarik kerbau rawa di Tulangbawang yang menyimpan sejuta potensi. Satwa itu bertahan hingga 7 generasi saat ini. (Karjono)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img