Monday, August 8, 2022

Kertas Air Kelapa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kayu akasia andalan industri pulp tanahairNata kelapa menjadi kertas yang halus, ulet, putih bersih.

 

Kertas dari 100% nata mirip kertas rotiKiri ke kanan: 100% nata, 50% nata, 100% pulp kayuNata Jadi KertasKebutuhan kertas nasional mencapai 8-juta ton pada 2011. Namun, menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, 80% kebutuhan kertas tanahair masih impor berupa kertas bekas. Padahal, pengolahan kertas bekas menjadi siap pakai melibatkan banyak bahan kimia seperti klorin untuk memutihkan lembaran kertas. Menurut periset di Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof Khaswar Syamsu, dalam air hangat klorin berubah menjadi asam hidroklorida, yang bersifat melarutkan protein.

Jika bahan kimia itu masuk ke perairan umum menyebabkan kematian berbagai makhluk hidup seperti bakteri dan ikan. Selain itu bahan utama pulp alias bubur kertas adalah kayu. Semakin banyak membuat kertas semakin banyak memerlukan kayu. Menurut direktur penelitian dan pengembangan di Global Warming Initiatives Inc, pemerhati lingkungan di Amerika Serikat, James DeRosa, sebatang pohon berdiameter 30 cm setinggi 20 m rata-rata menghasilkan 173 rim kertas.

Tanpa pemutih

Menurut Badan Pertanian dan Pangan Perserikatan Bangsa (FAO), produksi 1 ton kertas dari kayu menghasilkan 2,6 ton gas karbondioksida. Itu setara gas dari knalpot 6 mobil yang menghidupkan mesin selama 6 bulan. Pengolahan kayu menjadi pulp pun memerlukan banyak tahapan. Pasalnya, kayu mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin, dan selulosa kristalin.

Padahal, “Yang berguna untuk membuat pulp hanya selulosa dan hemiselulosa,” kata Prof Dr Ir Wasrin Syafii MAgr, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Lignin mengurangi kekuatan kertas karena membuat arah serat tidak beraturan. Proses delignifikasi alias pemisahan lignin memerlukan perlakuan asam dan pemanasan, yang menuntut banyak energi dan menyisakan limbah yang membahayakan kehidupan.

Sudah begitu laju penggundulan hutan kian kencang. Menurut Dr Irdika Mansur MForSc, peneliti tanaman kayu di Pusat Biologi Tropika Wilayah Asia Tenggara, laju alih fungsi hutan mencapai 1,8-juta ha per tahun. Itu sebabnya Khaswar melirik bahan baku nonkayu untuk membuat kertas. Syaratnya, cukup mengandung selulosa.

Doktor Teknik Kimia alumnus University of Queensland, Australia, itu memilih nata Nata bebas lignin sehingga tidak perlu proses delignifikasidari air kelapa dan limbah cair pabrik tapioka. Nata mempunyai seabrek kelebihan ketimbang kayu, di antaranya tidak mengandung lignin sehingga meniadakan proses delignifikasi dan memangkas proses produksi. Kelebihan lain, warna nata secara alami memang putih sehingga tidak lagi memerlukan proses pemutihan.

Selulosa nata hasil karya mikroba, terutama genus Acetobacter sp, sehingga dijuluki selulosa mikrobial. Bahan itu punya banyak keunggulan daripada selulosa kayu, antara lain sifat fisik mekanik yang tinggi baik dalam keadaan basah maupun kering, jalinan serat yang lebih kuat, serta bahan baku murah. Itu membuat selulosa mikrobial cocok sebagai bahan baku pulp.

Potensial

Bubur kertas itu bisa langsung dijadikan kertas melalui proses refinery alias penggilingan, sentrifugasi, pengeringan, dan pencetakan. Hasilnya kertas nyaris transparan seperti kertas tatakan kue atau roti basah. Untuk membuat kertas lebih padat dan liat, produsen bisa mencampur dengan selulosa kayu. Setiap gram kertas nata murni mampu menahan tarikan hingga 1 kg; dalam kondisi sobek, kertas mampu menahan tarikan hingga 0,7 kg.

Adapun kertas utuh dari kayu akasia mampu menahan tarikan hingga 2,5 kg, sedangkan dalam kondisi sobek hanya mampu menahan tarikan hingga 0,4 kg. Artinya, menurut Khaswar, kualitas kertas nata relatif bagus. Itu sebabnya ia yakin pulp nata berpeluang menggeser pulp kayu.

“Banyak bahan nata belum termanfaatkan, mulai dari limbah cair tahu, limbah cair tapioka, kulit nanas dari industri pengalengan, sampai air cucian beras dari rumah tangga,” kata ayah 2 anak itu. Pada 2007, luas tanaman kelapa tanahair mencapai 3,8-juta ha dengan produktivitas relatif 1,5 ton kopra per ha per tahun, setara 4.500 butir kelapa alias 900 liter air kelapa.

Teknik pembuatan nata yang baik, menghasilkan sekilo nata dari 1,1 liter air kelapa. Itu berarti, potensi nata mencapai 818 kg per ha per tahun. Dengan efektivitas pembuatan pulp dari nata mencapai 58%, maka sehektar tanaman kelapa dapat menghasilkan 470 kg pulp. Artinya, ada potensi membuat 1,785-juta ton pulp dari lahan kelapa tanahair.

Angka itu memang masih jauh dari produksi pulp tanahair, yang tahun lalu mencapai 7,9-juta ton pulp dan 12,99-juta ton kertas pada 2011. Toh, menurut Ir Ligia Santosa dari Balai Besar Penelitian Pulp dan Kertas, Bandung, Jawa Barat, pulp dan kertas nata tetap prospektif. Apalagi bahan bakunya limbah yang belum termanfaatkan dengan biaya produksi yang jauh lebih murah. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Kertas dari 100% nata mirip kertas roti
  2. Kiri ke kanan: 100% nata, 50% nata, 100% pulp kayu
  3. Nata bebas lignin sehingga tidak perlu proses delignifikasi
  4. Kayu akasia andalan industri pulp tanahair
Previous articleLOWONGAN KERJA
Next articleCara Baru Panen Gaharu
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img