Wednesday, August 17, 2022

Kesengsem sang Kabayan pada Koi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Delapan ikan samurai jenis kohaku, sanke, showa, dan utsurimono, menjadi penggelitik munculnya ‘ilham-ilham’ Didi Petet. Koikoi berenang meliuk-liuk memamerkan kecantikannya di dalam kolam berair jernih. Suara gemercik air di kolam yang bersumber dari kucuran air terdengar sepanjang waktu. Tiang-tiang besi yang dirambati tanaman anggur menjadi peneduh kolam itu.

Bagi peraih piala Citra 1987 lewat film Cinta Anak Zaman itu memberi pelet setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB menjadi keasyikan tersendiri. Pakan ditebar sedikit demi sedikit dari pinggir kolam hingga koi-koi itu berebut menyantapnya.

Namun, jangan tanya berapa banyak pelet yang diberikan. ‘Sebanyak yang ikan mau,’ ujar Dekan Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu. Sejam lamanya aktivitas itu di lakukan sambil diselingi istirahat di atas dipan beralas kasur putih yang terletak di samping kolam.

Dari Blitar

Kebersamaan Didi Petet dengan koi biasanya berlanjut sepulang mengajar atau syuting. Saat itu pria kelahiran Surabaya 12 Juli 1956 itu kembali menebar pelet. Sesungguhnya tak hanya Didi yang menikmati koi. Tak jarang sepulang sekolah ke-6 anaknya ikut bercengkerama bersama koi sambil berenang di dalam kolam. Tidak ada kekhawatiran anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar itu tenggelam. ‘Kedalaman kolam hanya 30 cm,’ kata juri Festival Film Indonesia 2007. Di kolam itu pula seluruh anggota keluarga kerap menghabiskan waktu di akhir pekan.

Bintang iklan salah satu merek kendaraan bermotor itu memperoleh kesenangan memelihara koi dari seorang teman di Blitar pada pertengahan 2003. Saat itu Didi diberi 15 koi beragam jenis: showa, sanke, kohaku, dan utsurimono. Untuk itu lokasi yang sebelumnya kandang burung disulap menjadi kolam koi. Tak puas dengan jumlah yang ada, Didi membeli 5 ekor dari kawasan puncak, Cianjur. Itu belum termasuk yang diperoleh dari pedagang di Tangerang sekitar 10 ekor. ‘Biasanya penjual ikan langsung menawarkan lewat telepon seluler karena mereka tahu sedari kecil saya jatuh hati pada ikan,’ ucap Didi.

Padatnya jadwal syuting dan mengajar membuat pemain fi lm Om Pasikom itu belakangan absen berburu koi. ‘Tapi bila ada waktu pasti mencari koi ke pasar ikan,’ ujarnya. Tak ada syarat khusus saat Didi Petet memilih koi. Baginya yang terpenting ikan sehat dan punya corak tegas. Setiap kali belanja Didi dapat menghabiskan dana Rp2-juta-Rp3-juta.

Mati listrik

Tak hanya kesenangan yang dialami Didi bersama koi. Rasa duka juga mewarnai hubungan erat sang komedian dan koikoinya. Itu terjadi saat 20 koinya mati serempak pada 2006. Listrik yang padam seharian menjadi biang kerok. Parahnya lagi rumah sedang kosong lantaran pembantunya libur. Keesokan hari laporan kematian ikan samurai itu diterima dari pembantunya. Berita itu sontak membuat Didi yang tengah berlibur 3 hari di luar kota geram bercampur sedih. ‘Padahal, ada koi ukurannya mencapai 60 cm. Tapi siapa dapat disalahkan? PLN?’ tanyanya. Dari ujung telepon genggam, Didi menyuruh pembantunya untuk mengosongkan kolam agar dapat diisi koi yang kemudian dipesan dari Pamulang, Tangerang.

Kabar tak mengenakkan juga pernah dialami 4 tahun sebelumnya. Peristiwa itu terjadi di kolam koi mini berukuran 0,5 m x 5 m yang dibuatnya pertama kali. Lantaran salah merancang, air dalam kolam jadi mudah kotor. Dampaknya, koi-koi itu mati kekurangan oksigen. ‘Saat itu tidak ada filter kolam sehingga kotoran terus menumpuk,’ tutur pemeran Emon di film Catatan si Boy itu.

Serangkaian pengalaman pahit itu memecut Didi menimba ilmu per-koian dari penjual di seputaran Pamulang, Ciputat, dan Blitar. ‘Ternyata filter menjadi syarat mutlak untuk memelihara koi,’ kata juri reality show Akhirnya Datang Juga di salah satu televisi swasta itu. Sebab itu pula Didi kemudian membangun 4 chamber filter biologis. Masing-masing chamber diisi bioball, ijuk, spon, dan kerikil. Pompa mendorong air masuk ke filter. Setelah itu air bersih masuk kembali ke kolam, sedangkan kotoran keluar ke saluran pembuangan. Agar kualitas air terjaga, setiap 3-4 minggu 100% air dikuras. ‘Saringan juga dicuci bersih ‘ katanya.

Berhasil pijah

Selama memelihara koi banyak kesenangan yang didapat Didi Petet. Salah satu yang berkesan di penghujung 2007 saat beberapa koi didapati kawin dan mengeluarkan ratusan telur. Tiba-tiba kolam berbau amis dan dipenuhi gelembung busa. Kejadian itu sontak membuat Didi dan seisi rumah sibuk menyekat kolam menjadi berukuran 1 m x 3 m sebagai tempat pemijahan ratusan telur. Di sana ditaruh eceng gondok sebagai tempat bersembunyi. Sayang, lantaran tidak terkena sinar matahari telur-telur itu busuk. ‘Hanya 5-6 telur saja yang menetas,’ ucap Didi.

Pada awal 2008, koi-koi kembali bertelur. Belajar dari pengalaman pertama, saat itu ratusan telur dijemur di atas ijuk selama 2 jam. Dalam waktu 3 hari telur-telur itu menetes, lalu dipindahkan ke dalam akuarium. Selama 3-4 hari burayak itu diberi rebusan telur bebek yang dihaluskan. Seminggu kemudian pakan diganti cacing sutra. Sampai saat ini ratusan burayak itu masih dipelihara Didi. ‘Masih untuk dibesarkan sampai berukuran 60 cm,’ ujar sang Kabayan yang terus mencari inspirasi di dekat kolam koi itu. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img