Tuesday, November 29, 2022

Ketika Kendaraan Bergantung pada Tumbuhan

Rekomendasi

SPBU di Rampal, Malang, Jawa Timur, satu-satunya yang menyediakan biopremium di Jawa Timur. Komposisinya, 5% etanol asal tebu dan 95% premium. Campuran kedua bahan itu juga disebut gasohol. Harga gasohol di Malang sama dengan premium. Meski demikian, masyarakat antusias mengisi kendaraannya dengan biopremium. Menurut Suwandi, kepala SPBU Rampal, rata-rata penjualan gasohol mencapai 14.000 liter per hari. Itu meningkat 22% ketimbang saat pertama kali SPBU dibuka, 13 Agustus 2006. Saat itu permintaan gasohol baru 11.000 liter per hari.

Dr Agus Eko Tjahyono sejak 2004 juga mencampurkan bioetanol ke dalam tangki Opel Blazer berwarna perak. Sebelum penutup tangki dikunci, ia menuangkan 3 liter etanol asal singkong. Di dalam mobil kesayangannya, doktor Teknik Kimia alumnus Hiroshima University itu selalu tersedia 2 jeriken bioetanol masing-masing 10 liter. Bila ketersediaan bioetanol-etanol asal bahan nabati seperti singkong melimpah-ia ingin seluruh bahan bakar mobilnya berupa bioetanol.

Sekarang, dari 80 liter kapasitas bahan bakar Opel Blazer, baru 15% yang disubstitusi oleh bioetanol atau dikenal E15, artinya bioetanol 15%. Setiap hari pria separuh abad itu mengendarai mobilnya dari rumah di Tanjungkarang, Lampung, ke Badan Besar Teknologi Pati (B2TP) di Suluban berjarak 80 km. Hingga kini Opel Blazer berbahan bakar bioetanol itu menempuh jarak 95.000 km.

Emisi

Setahun terakhir bioetanol menjadi pilihan pengendara kendaraan bermotor. Bioetanol adalah hasil fermentasi etanol asal tumbuhan seperti tebu, singkong, dan jagung (baca: Makanan Lezat Makhluk Bermesin halaman 148-149). Sebagai bahan bakar, bioetanol mirip biodiesel. Bedanya, bioetanol khusus untuk kendaraan berbahan bakar premium dan pertamax atau bensin; biodiesel, pengganti solar.

Uji coba pengaruh bioetanol terhadap daya dan torsi pada mesin statis dan dinamis dilakukan laboratorium Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi (TMP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tangerang. Hasilnya menunjukan bioetanol 10% identik atau cenderung lebih baik ketimbang pertamax. Emisi CO (karbon monoksida) dan HC (hidrokarbon) mobil yang menggunakan E10 lebih rendah dibandingkan dengan premium maupun pertamax, ujar Prawoto, peneliti Balai TMP. Emisi CO pada E10 hanya 0,31 g, sedangkan premium dan pertamax masing-masing 0,5 g dan 0,58 g per km. Karbonmonoksida berlebih mengikat hemoglobin dalam darah, sehingga mengganggu konsentrasi manusia.

Total hidrokarbon yang memicu bahaya gangguan kecerdasan, kesehatan reproduksi, dan gejala sakit, pada bioetanol hanya 0,33 g, premium 0,38 g, dan pertamax 0,40 g per km. Etanol absolut alias 99% memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan premium hanya 87-88. Campuran bensin dan 10% etanol atau gasohol E-10 memiliki ON 92 setara pertamax. Nilai itulah yang membuat bioetanol terkenal sebagai oktan paling ramah lingkungan sehingga menggeser penggunaan Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE), pengganti timbel pada bensin.

Dari segi kinerja, gasohol E10 tak kalah dengan bahan baku fosil. Kekuatan yang dihasilkan E10, 41,23 kw, sedangkan premium hanya 30,97 kw. Daya tarik mesin berbahan bakar gasohol E10 sebanyak 25% lebih tinggi yaitu sebesar 1856,1 N, premium 1393,8 N. Laju konsumsi/jam, gasohol E10 pun lebih hemat, hanya 30,39 liter dan premium 31,03 liter/jam. Penyebabnya, bioetanol mengandung 35% oksigen sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran.

Cadangan menipis

Pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar atau campuran tak dapat ditawar lagi. Maklum konsumsi premium Indonesia terus melambung. Celakanya premium itu tak lagi sepenuhnya ditambang di dalam negeri, tetapi harus diimpor. Konsumsi premium 2001 mencapai 14,60-miliar liter. Dari tahun ke tahun konsumsi bensin kian meningkat. Pada 2003 konsumsinya mencapai 12,34-miliar liter, 2004 (15-miliar liter), dan 2005 (17,47-miliar liter).

Pada 2005, seperlima dari total kebutuhan premium Indonesia diimpor; jumlahnya mencapai 3,5-miliar liter. Di tengah harga minyak yang terus melonjak, harga jual premium masih bergantung pada subsidi pemerintah. Biaya produksi sebenarnya Rp6.300, nilai subsidi Rp1.800 per liter.

Memproduksi etanol dari bahan nabati bukan barang baru bagi industri di Indonesia. Berdasarkan data Departemen Perindustrian dan Perdagangan Produksi, produksi bioetanol pada 2002 mencapai 180-juta liter. Itu diperoleh dari empat pabrik di Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Para produsen antara lain PT Aneka Kimia Nusantara 18,5-juta liter, PT Indo Acidatama 78-juta liter, PT Indo Lampung Distillery 50-juta liter, PT Molindo Raya 24-juta liter, dan PTPN XI 4-juta liter per tahun.

Sayang, spesifi kasi yang dihasilkan masih sebatas mutu teknis, belum mencapai kualitas bahan bakar. Oleh karena itu, semua produksi bioetanol itu sebagai bahan baku industri asam asetat, selulosa, pengolahan rumput laut, minuman alkohol, cat, farmasi, dan kosmetik untuk konsumsi ekspor.

Kami masih menunggu standar SNI (Standar Nasional Indonesia, red) bioetanol bahan bakar yang akan dipakai di Indonesia, kata Donny Winarno, vice president sales marketing PT Molindo Raya Industrial. Pada 2007, dipastikan pasokan bioetanol untuk bahan bakar mencapai 8-juta-10-juta liter per tahun. Perusahaan itu meningkatkan bahan baku tetes dan nira tebu sebanyak 190.000 ton. Ia juga mengembangkan bahan baku singkong dengan bermitra bersama petani untuk menggarap lahan 5.000 ha di Lampung Timur dan 20.000 ha di Pacitan, Jawa Timur.

Tak hanya Molindo yang berniat mengembangkan biofuel di Indonesia. Ada 5 perusahaan yang berniat menggarap etanol dari singkong, kata Wahono Sumaryono, deputi Teknologi dan Agro Industri Kementerian Riset dan Teknologi. Dengan dukungan itu, pada 2010 dipastikan produksi bioetanol Indonesia mencapai 280- juta liter/tahun. Meningkatnya produksi bioetanol akan diikuti peningkatan aplikasi bioetanol menjadi E-10 atau E-20.

Biaya rendah

Produsen bioetanol di Indonesia terbilang kecil ketimbang di Brasil. Negara di bagian selatan Amerika itu, penghasil bioetanol terbesar di dunia. Lebih dari 300 pabrik etanol berdiri sejak 1970. Bahan baku utama nira tebu dari lahan tebu seluas 5,5-juta hektar menghasilkan 14,7-miliar liter bioetanol/tahun. Biaya produksinya pun terendah di dunia, Cuma US$14-16 sen/liter.

Produsen etanol terbesar kedua adalah Amerika Serikat, memproduksi lebih dari 10-miliar liter per tahun. Bahan baku etanol 90% dari jagung dan 10% dari gandum. Sejak etanol digunakan, bahan aditif Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) dilarang. Cina, produsen etanol terbesar ketiga dunia. Pada 2003 diresmikan pabrik etanol terbesar di dunia, Jilin Ethanol Plant yang berkapasitas 1,25-juta liter per hari. Total produksi mencapai 5,5-juta liter per hari atau 1,5-miliar liter per tahun dengan bahan baku gandum, gaplek, tebu, dan sorgum manis.

Pemerintah mendorong perkembangan penggunaan bioetanol, sama seperti di negara lain. Di Thailand misalnya, diberlakukan insentif pembebasan pajak perusahaan, bea masuk, dan pajak barang modal selama delapan tahun kepada industri etanol. Jika pemerintah Indonesia, swasta, dan petani dapat bekerja sama, substitusi 5% bensin dapat menghemat US$1,539-miliar setara Rp1,539-triliun. Itulah nilai subsidi 0,86-miliar liter bensin pada 2005 dengan harga subsidi Rp1.790/liter. Penghematan bakal kian besar, jika persentase substitusinya meningkat. (Vina Fitriani/Peliput: Lani Marliani & Hermansyah)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img