Thursday, August 18, 2022

kh fuad affandi: Agribisnis & Agama

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jerih payah itu terbayar, kini ia mengelola kebun 6 ha. Dari lahan itu dan pekebun plasma, ia memasok 3,5 ton beragam sayuran per hari ke berbagai pasar swalayan di Bandung dan Jakarta.

Pekerjaan sebagai penjual sepatu tidak pernah terbesit di benak Fuad sebelumnya. Kakeknya KH Mansyur pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ittifaq di Rancabali, Kabupaten Bandung. Sementara ayahnya, KH Rivai mandor perkebunan dan pemimpin pondok pesantren. Mereka orang terpandang di Ciwidey. Tanah pun belasan hektar. Tapi jangan pernah berharap dapat memakai tanah abah, kata Fuad meniru ucapan sang ayah.

Saat itu ia baru mudik setelah bertahun-tahun nyantri di Ponpes Al Hidayah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Sang ayah sakit-sakitan dan saudara sekandung sepakat menunjuknya sebagai pemimpin baru pesantren.

Hasrat berkebun yang sudah lama terpendam langsung bergejolak ketika ia menerima jabatan itu. Saat itu banyak penduduk menanam sayuran hanya untuk keperluan sendiri. Seandainya bisa dijual lebih baik lagi, ujar penerima Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Republik Indonesia pada 2003 itu. Oleh karena itu, suami Hj Sa’dah itu mengajak pemuda dan petani berdiskusi soal agribisnis. Namun, hasilnya Mereka tetap yakin dengan yang sudah berjalan saat itu, katanya.

Memberi bukti contoh paling pas. Namun, belum-belum kesulitan menghadang. Selain tidak punya uang dan lahan, meminjam tanah dari orang tua pun sulit. Harus punya tanah sendiri, ujar peraih Kalpataru kategori penyelamat lingkungan pada 2005 itu. Karena itu, pada 1990 Fuad mendelegasikan tampuk kepemimpinan pondok kepada saudara sepupu, KH Saefuddin. Ayah 5 putri itu kemudian berdagang sepatu ke Sumatera. Selama 3 tahun ia menapaki jalur Jambi-Medan, menawarkan sepatu ke setiap toko yang dijumpainya.

 

Saya melihat sebuah kenyataan. Tak ada tanah yang sesubur Indonesia, tapi tak ada orang yang semalas bangsa ini.

Diancam golok

Kerja keras berdagang itu berbuah 6 hektar tanah. Saat itu harga tanah di desa murah. Satu tombak (14 m2, red) seharga satu bungkus rokok, Rp800, katanya. Lahan itu kemudian ditanami tomat dan kubis secara bertahap. Setiap kali panen, Fuad menjual hasilnya ke pasar Ciwidey. Sejak itu mudah menganjurkan pekebun menanam karena ada bukti untungnya, ujar kelahiran 20 Juni 1948 itu. Sayang, malang tak dapat ditolak. Saat pekebun mulai panen, harga kedua komoditas itu justru anjlok.

Harga jual tomat cuma Rp500; kubis, Rp300 per kg. Padahal, biaya produksi masing-masing Rp1.500 dan Rp 700 per kg. Petani marah sampai-sampai saya sempat diancam dengan golok, katanya. Meski tertekan, Fuad tetap merintis usaha pemasaran sayuran itu. Siapa lagi yang bisa menyejahterakan kami, kalau bukan diri kami sendiri, ungkapnya.

Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman, Fuad rajin mengunjungi balai penelitian dan perguruan tinggi di Bandung dan Bogor. Mereka sampai hafal wajah dan suara saya, kata Fuad. Pasar mulai terbuka saat Fuad diutus sebagai wakil pekebun asal Jawa Barat dalam pertemuan agribisnis di Departemen Pertanian Jakarta, pada awal 1990. Dua petinggi pasar swalayan Hero di Jakarta menemui Fuad di sebuah ruang pertemuan.

Nasib baik memang berpihak pada Fuad. Ia akhirnya memasok beragam sayuran ke Hero. Namun, manajer Hero Suryadarma Ali-kini menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah-sempat marah lantaran barang dikirim dalam karung. Masak kamu kirim seperti ini, ujar Fuad menirukan ucapan Suryadarma.

Saat itu Fuad memang belum menguasai teknik sortir dan pengemasan. Mereka lantas mengirim sarjana untuk mengajari kami, katanya. Setelah berjalan beriringan selama beberapa tahun, Fuad melebarkan sayap dengan memasok pasar swalayan lain seperti Makro, Matahari, Giant, Yogya, dan Superindo. Pasar-pasar swalayan itu menyerap 27 sayuran produksinya seperti kol, buncis, dan babycorn. Total jenderal volume pasokan 3,5 ton sehari. Sekitar 1 ton hasil produksi sendiri; 2,5 ton hasil panen 400 pekebun plasma di sekitar Ponpes. Dari volume itu jenis sayuran yang paling banyak diminta adalah wortel sekitar 20% dan buncis 35%.

 

Lahan 6 ha yang kini digunakan untuk budidaya sayuran diperoleh dari berdagang sepatu selama 3 tahun. Ustadz yang berbisnis itu memasok 3,5 ton sayuran sehari. Omzetnya mencapai Rp175-juta sebulan. Pasokan rutin itu terpenuhi karena manajemen budidaya yang bagus.

Didik santri

Fuad memang berhasil mengubah paradigma, Ponpes bukan sekadar tempat memperdalam ilmu agama. Bertani itu ilmu. Apa yang membuat bahagia dunia dan akhirat? Ilmu, katanya. Lulusan Sekolah Dasar itu mencontohkan saat dirinya mau menerima tawaran pemerintah untuk mengenyam ilmu bercocok tanam pada 1987 di Universitas Wageningen, Belanda. Saya mensyukuri ilmu bertambah. Namun, saya melihat sebuah kenyataan. Tak ada tanah yang sesubur Indonesia, tapi tak ada orang yang semalas bangsa ini, ujarnya berapi-api.

Kajian itu mendorongnya memanfaatkan segala sesuatu yang bernilai guna. Limbah hasil sortasi sayur dan dapur, misalnya, diolah menjadi pupuk dan pakan ternak. Pria 59 tahun itu juga memberdayakan para santri. Semua santri juga harus memiliki keahlian, kata Fuad. Lihat saja santri setingkat sekolah dasar dididik mengurus budidaya tanaman, kambing, ternak sapi, dan kolam ikan.

Sejalan waktu, Ponpes Al Ittifaq (secara harfiah berarti kerja sama) mendapat banyak dukungan seperti dari Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Perdagangan, dan Kementrian Negara Urusan Koperasi dan UKM. Bahkan perguruan tinggi seperti Universitas Padjadjaran dan Insitut Pertanian Bogor sering mengadakan kerja sama di bidang teknologi dan penelitian. Tak jarang para mahasiswa menyusun tesis dan skripsi setelah meriset di lembaga pendidikan itu.

Selain itu Al Ittifaq juga menyelenggarakan pelatihan pertanian bagi pekebun, pegawai, dan kelompok masyarakat lain. Untuk pelatihan agribisnis, pemerintah menetapkan pusatnya di sini, ujar Fuad. Tiga tahun terakhir, Al Ittifaq meluluskan 1.000 peserta. Amanat besar itu membuat pesantren yang berdiri pada 1 Februari 1934 itu membangun lahan praktek seluas 1.000 m2 dan asrama berkapasitas 150 peserta.

Materi pelatihan yang ditawarkan beragam: usaha pertanian terpadu, kewirausahaan, manajemen agribisnis, dan hama penyakit tanaman.

Menurut Fuad setiap kegiatan pelatihan yang berlangsung 3 hari-3 bulan itu selalu melibatkan 3 pekebun sebagai fasilitator dan satu penyuluh. Diharapkan materi yang kami berikan bisa maksimal, kata Fuad yang juga mendirikan klinik konsultasi agribisnis itu. Menurut mantan gubernur Jawa Barat, HR Nuriana, Al Ittifaq sebagai Ponpes terpadu karena menggabungkan agama dan agribisnis. Saat beragribisnis saya tidak akan bertanya kamu agamanya apa, ujarnya.

Itu ditunjukkan Fuad dengan mengangkat asisten bidang teknologi yang beragama non-Islam. Asisten itu mengajarkan santri bercocok tanam seperti di Taiwan dan membuat pupuk seperti di Belanda. Para asisten itu juga menentukan suksesnya Fuad yang mencicipi pahit getir menjajakan sepatu demi bercocok tanam. Kini sebuah kakinya masing-masing berpijak di atas agribisnis dan agama. (Dian Adijaya Susanto)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img