Friday, December 9, 2022

Kiat Panen Tomat Berlipat

Rekomendasi
Potensi hasil tomat gustavi tinggi 50—60 ton per ha. (foto : Isbadi Santosa)

TRUBUS — Produktivitas tomat meningkat dengan pengolahan lahan, pemilihan benih, dan pemeliharaan optimal.

Petani di Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Suhendar Ahdi, memetik 60 ton tomat dari lahan sehektare pada April 2020. Hasil itu tergolong tinggi sebab rata-rata produktivitas nasional pada 2020 hanya 18,9 ton per hektare. Menurut Suhendar kunci panen optimal ada pada tiga hal yakni pengolahan tanah, pemilihan benih, dan pemeliharaan.

“Ketiga hal itu bisa bersinergi meningkatkan produktivitas,” kata petani berusia 41 tahun itu. Suhendar memastikan pengolahan tanah optimal hingga benar-benar gembur. Sebagai pupuk dasar, ia menaburkan 1.200 karung pupuk kandang kotoran ayam per hektare. Menurut Suhendar pupuk kandang harus matang. Indikasinya terfermentasi selesai sekitar 3—4 pekan. Pada saat itu pupuk tidak lagi panas jika digenggam, tidak menimbulkan aroma, dan warna hitam.

Cermat pilih benih

Petani tomat di Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Suhendar Ahdi.

Suhendar menaburkan pupuk kandang dan langsung menanam bibit tanaman anggota famili Solanaceae itu. Namun, bila pupuk kandang masih mentah, ia mendiamkan lahan sekitar satu bulan terlebih dahulu. Bila perlu, Suhendar juga menambahkan pupuk anorganik mengandung nitrogen, fosfat, dan kalium sebagai campuran pupuk dasar total sebanyak 1 ton per hektare.

“Kalau panen pada musim hujan, kami mengurangi Urea karena ada tambahan nitrogen dari air hujan,” kata Suhendar. Begitu sebaliknya pada musim kemarau ia menambah Urea. Petani cabai itu juga mengecek kadar keasaman tanah. Pemberian dolomit 1—2 ton per hektare dapat menetralkan tanah yang asam atau basa. Area tanam berupa lahan sawah sehingga Suhendar mesti memastikan bedengan tak tergenang air.

Bedengan setidaknya memiliki tinggi 30 cm dengan jarak antarbedengan 50—60 cm. Persiapan terakhir pemasangan mulsa hitam perak untuk mencegah gulma. Pengaturan jarak tanam 50 cm x 50 cm pada musim kemarau dan lebih lebar 60 cm x 60 cm pada musim hujan. Jarak itu ideal untuk menjaga area tanam tidak terlalu lembap. Setelah memastikan lahan siap, Suhendar menanam bibit hasil persemaian selama 20 hari.

Laki-laki yang sudah bertani lebih dari 20 tahun itu memilih benih tahan penyakit terutama layu akibat cendawan Fusarium oxysporum. Selain itu, benih memiliki rata-rata produktivitas tinggi dan memiliki tampilan menarik sesuai preferensi pasar. Pilihan Suhendar jatuh pada varietas hibrida tinatoon, servo, dan gustavi. Ketiganya adaptif di dataran tinggi berkisar 800—1.200 meter di atas permukaan laut.

Tinatoon hasil pemuliaan PT Benih Citra Asia (BCA) itu tahan layu akibat bakteri, fusarium, serta virus mosaik tomat. Produksi tinatoon mencapai 40—45 ton per hektare. Servo dan gustavi hasil pemuliaan PT East West Seed Indonesia (EWSI). Servo unggul lantaran potensi hasil tinggi mencapai 45,34—73,58 ton per hektare. Varietas itu tahan serangan virus gemini—momok bagi petani tomat.

Selain itu servo memiliki daya simpan hingga 8 hari pada suhu ruang. Potensi hasil gustavi tak kalah tinggi mencapai 50—60 ton per hektare. Gustavi tahan serangan virus gemini dan layu bakteri akibat infeksi Ralstonia solanacearum. Secara genetik varietas-varietas itu unggul karena produktivitas tinggi dan tahan hama serta penyakit tanaman.

Musim tanam

Petani di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Isbadi Santosa, mempertimbangkan musim saat menentukan benih yang akan ditanam. Pada musim kemarau bulan April atau Mei, Santosa memilih gustavi sedangkan saat musim hujan lebih cocok tanam servo sekitar bulan September. Pada akhir fase vegetatif sekitar umur 25—30 hari, Santosa mendeteksi adanya gejala serangan virus mosaik yakni daun menguning. Ia segera mengaplikasikan pestisida berbahan aktif abamektin dan imidakloprid agar virus tak berkembang luas.

Petani tomat di Wajak, Malang, Isbadi Santosa.

Pengamatan dan pencegahan sedini mungkin amat penting. Menurut pengalaman Santosa, penyakit kuning dapat menyebabkan tanaman kerdil. Bila parah, setelah memasuki fase generatif bunga akan rontok yang tentu dapat menurunkan produksi buah. “Masa rawan umur 25—50 hst tomat rentan terkena hama dan penyakit,” kata laki-laki berusia 36 tahun itu.

Penyakit utama pada tomat antara lain busuk daun akibat Phytophthora infestans, layu akibat bakteri atau fusarium, dan virus mosaik biasanya menyerang pada musim hujan saat kelembapan meningkat. Sementara itu, saat kemarau potensi serangan hama seperti ulat penggerek buah Helicoverpa armigera yang justru meningkat.

Jika sebagian besar petani menerapkan strategi budidaya seperi Isbadi Santosa dan Suhendar produksi tomat nasional melonjak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi tomat Solanum lycopersicum nasional pada 2020 naik 6,34% dari tahun sebelumnya 1,02 juta ton menjadi 1,08 juta ton. Produksi tomat tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan April mencapai 99,37 ribu ton. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img