Monday, November 28, 2022

Kilang Minyak di Teras Rumah

Rekomendasi

 

Delapan bulan terakhir Johan Susilo kelim-pungan memenuhi permintaan bioetanol. Produsen di Balikpapan, Kalimantan Timur, itu rutin memasok 35 ton bioetanol berkadar 99,5% per bulan ke Perusahaan Daerah Air Minum Samarinda. Padahal, permintaan perusahaan penye-dia air bersih itu 200 ton untuk menggerakkan gene-rator. Dengan harga Rp8.000 per liter, omzet Johan Rp280-juta per bulan.

Johan Susilo memproduksi bioetanol berbahan baku molase dan sorgum. Ia mendatangkan molase dari Surabaya, Jawa Timur. Sorgum ia panen di kebun sendiri. ‘Hari ini sedang panen 2 ha,’ kata Impol Siboro, rekan Johan, ketika dihu-bungi Trubus pada 21 Mei 2008. Dengan biaya pro-duksi bioetanol Rp4.000 per liter, laba bersih alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya itu mencapai Rp140-juta per bulan.

Rekening Johan bakal kian gemuk andai saja ia mampu memenuhi permintaan Perusahaan Listrik Negara cabang Balikpapan yang meminta pasokan rutin 400 ton per bulan. Soelaiman Budi Sunarto juga mencecap lezatnya berbisnis bioetanol. Bayangkan ketika minyak tanah langka, produsen di Karang-pandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu justru kewalahan melayani permintaan kompor. Bukan pemanas biasa memang, tetapi kompor berbahan bakar bioetanol.

Melonjaknya pesanan kompor itu tentu saja diikuti dengan meningkatnya permintaan bioetanol sebagai bahan bakar: 1.300 liter per bulan. Ia memproduksi bioetanol berkadar 40% yang dijual Rp3.500; bioetanol 70%, Rp4.000 per liter. Itu setara harga minyak tanah. ‘Orang menyangka saya rugi, Padahal saya untung,’ katanya. Setiap bulan Ia menjual 1.000 liter bioetanol 40% dan 300 liter berkadar 70%. Konsumen utamanya adalah masyarakat Desa Doplang, Karangpandan, Blumbang, Gerdu-semua di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Itu di luar permintaan industri yang mencapai 4.000-5.000 liter bioetanol berkadar 90%. Harganya Rp10.000 per liter. Dari perniagaan 3 jenis bioetanol itu, pendapatannya Rp45-juta sebulan. Setelah dikurangi biaya produksi rata-rata Rp3.000 per liter, laba bersihnya mencapai Rp29-juta per bulan.

Tak semua bioetanol itu diproduksi oleh Budi. Ia baru mampu menghasilkan 1.800 liter bioetanol sebulan. Selebihnya pasokan dari produsen skala rumahan di Surakarta dan Sukoharjo, keduanya di Jawa Tengah. Budi membeli bioetanol produksi mereka berkadar 30% hanya Rp3.000 per liter. Menurut Budi, biaya untuk memproduksi seliter bioetanol dari tetes tebu hanya Rp2.700. ‘Mereka tetap untung. Jangan berpikir itu bioetanol 90%, tetapi 40%,’ katanya.

Timur Tengah

Saat ini popularitas bioetanol sebagai bahan bakar memang melonjak. Selain itu, biogas yang bersumber dari kotoran sapi juga dilirik sebagai alternatif. Pilihan lain adalah limbah ikan yang juga berpotensi sebagai bahan bakar (lihat ilustrasi). Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati, Alhilal Hamdi, mengatakan potensi bahan bakar nabati Indonesia amat besar lantaran melimpahnya bahan baku. Selain itu sebagai negara tropis, sinar matahari tersedia sepanjang tahun sehingga memungkinkan penanaman bahan baku bioenergi juga sepanjang tahun.

Jika bahan bakar nabati dikembangkan serius, ‘Indonesia dan Brasil menjadi Timur Tengahnya bahan bakar nabati,’ kata Dr Tirto Prakosa, periset bahan bakar nabati Institut Teknologi Bandung. Jalan menjadi ‘Timur Tengah bioetanol’ sedang dirintis oleh pabrikan besar dan produsen skala rumahan yang saat ini bermunculan di berbagai daerah. Produsen skala kecil-produksi maksimal 10.000 liter per hari-memasok kebutuhan bahan bakar di lingkungannya.

Di daerah yang pasokan minyak tanah dan premium sulit, itu dapat berkembang pesat seperti di Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Dua tahun lampau, Yatiyem, kepala desa Doplang, Karanganyar, harus ke Matesih, bila ingin memperoleh minyak tanah. Matesih ditempuh 30 menit dengan sepeda motor. Itu pun ia dan tetangganya harus meninggalkan jeriken di pangkalan minyak tanah.

Baru 3 hari kemudian, mereka dapat membawa pulang jeriken berisi minyak tanah. Antrean semacam itu kini tak terjadi lagi setelah mereka menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar kompor. Itulah sebabnya wakil walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan, ‘Mengapa bioetanol tak dijadikan solusi atas langkanya minyak tanah? Mengapa pemerintah justru mengganti dengan gas?’

Penelusuran Trubus di berbagai daerah muncul para produsen baru bahan bakar nabati-bersumber dari tumbuhan-itu. Di Tangerang, Banten, ada Margono yang menghasilkan 70 liter bioetanol per hari. Di Banyumas, Jawa Tengah, ada Zanuar Subachti, yang akan melebarkan sayap bisnis ke Cilegon, Provinsi Banten. Andreas Gabriel Hartoyo dan Willy Tandagi ‘bermain’ bioetanol di Lampung; Fauzi M Wakid (Manado), Yoris (Maluku Utara), dan Yan Sondakh (Kotamobagu), hanya sebagian kecil para produsen bioetanol.

Di sentra bioetanol seperti Minahasa, Sulawesi Utara, dan Sukoharjo, Jawa Tengah, penambahan pemain baru tak terelakkan. Sabariyono, ketua produsen bioetanol di Bekonang, Kabupaten Sukoharjo, menyebut peningkatan produsen baru 5% dari 149 anggota. Mengapa mereka ramai-ramai menerjuni bisnis bioetanol? Ibarat semut merubung manis gula, bisnis bioenergi memang menjanjikan laba besar.

Itulah yang menjadi daya tarik bagi para produsen. Lihatlah Soekaeni, produsen di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ketika memulai bisnis pada September 2007, volume produksinya cuma 200 liter per bulan untuk memasok para pengojek. Beberapa bulan berselang, volumenya melonjak menjadi 500 liter. Itu untuk memenuhi kebutuhan mobil angkutan kota.

Pada Mei 2008, produksinya mencapai 1.000 liter per hari. Dengan harga jual Rp10.000 per liter, pensiunan PT Telkom itu meraup omzet Rp10-juta sehari. Soekaeni memproduksi bioetanol berbahan baku singkong dengan biaya produksi Rp3.400 per liter. Seliter bioetanol berasal dari 6,5 kg singkong. Artinya pria kelahiran 6 September 1950 itu menang-guk laba bersih Rp6,6-juta sehari.

Zanuar Subachti kewalahan melayani permintaan konsumen. Alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta itu cuma mampu memproduksi 20-40 drum setara 4.000-8.000 liter; permintaan, 60.000 liter per bulan. Dengan permintaan 8.000 liter, omzetnya mencapai Rp96-juta. Di pasaran, memang belum ada standar harga bioetanol untuk bahan bakar. Sedangkan harga bioetanol untuk industri relatif terstandar Rp10.000-Rp15.000 per liter.

Sebagai gambaran Cecep Sudirman, manajer Depo dan Instalasi PT Elnusa Petrofin, menjajakan bioepertamax E5 seharga Rp17.000 per liter. Meski dijajakan dengan harga relatif tinggi, konsumen kelas atas tetap menggemari bahan bakar itu. Dalam sebulan ia menjual 1.000 kiloliter E5. Itu di luar penjualan biopertamax sesuai permintaan konsumen.

Gratis dulu

Meski menjanjikan, bukan berarti bisnis bioenergi tanpa aral. Berbagai hambatan menjadi batu sandungan para produsen. Setahun lalu Budi tak membayangkan menjual bioetanol untuk pengganti minyak tanah. Ia kerap datang memenuhi undangan camat atau kepala desa untuk menjelaskan kompor bioetanol bikinannya.

Jangankan ada seorang pembeli, ia malah disodori bon pembelian penganan untuk seluruh undangan. Nilainya memang relatif kecil, ‘Tapi saya jengkel,’ katanya. Budi tak patah arang. Ia memberikan secara cuma-cuma sebuah kompor untuk sebuah kantor kepala desa. Tentu saja dilengkapi dengan bioetanol sebagai bahan bakar. Untuk Kecamatan Karangpandan saja, ia memberikan 50 kompor masing-masing seharga Rp50.000.

Setelah mencoba dan mengamati kinerja kompor, barulah para kepala desa percaya kehebatan peralatan memasak berbahan bioetanol itu. Maka mereka menjadi ‘agen pemasaran’ yang baik. Cerita kehebatan kompor itu menyebar dari mulut ke mulut. Yatiyem, kepala desa Doplang, malah menjelaskan kepada masyarakat ketika hajatan pada 3 Mei 2008. Ketika itu ia menikahkan putri pertamanya, Wulandari.

Banyak tetangga dan kerabat yang membantu memasak. Saat itulah ia bercerita kehebatan kompor bioetanol. Ketika Trubus masuk ke dapurnya, tampak sebuah kompor bioetanol berapi biru. Itulah sebabnya saat antrean panjang untuk memperoleh minyak tanah terjadi di berbagai daerah, masyarakat Karangpandan justru sebaliknya.

Himawan Adiyoso, produsen di Cilegon, Provinsi Banten, menghabiskan dana riset hingga Rp200-juta. Setiap kali eksperimen, alumnus Teknik Kimia Universitas Diponegoro itu menghabiskan Rp5-juta-Rp10-juta. Bioetanol berkadar 96% ia peroleh setelah 20 kali praktek. ‘Tapi saya tak menyesal,’ katanya. Produsen skala rumahan seperti Himawan bertaburan jumlahnya.

Peluang besar

Jika hambatan teratasi, peluang pasar bahan bakar nabati masih terbentang lebar seperti dikatakan Pamuji Hartono SE MM. Banyak tetangganya di Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, enggan menggunakan tabung gas yang diberikan pemerintah secara cuma-cuma. Kelurahannya menjadi percontohan proyek konversi minyak tanah ke gas. Faktanya, ‘Gas tak dipakai karena mereka takut tabung meledak,’ katanya.

Akhirnya mereka tetap menggunakan kompor minyak tanah. Celakanya, saat ini bahan bakar itu bagai siluman yang menghilang. Pemilik PT Anugerah Rabagi Lestari-pengelola SPBU Shell-itu survei kecil-kecilan. Ternyata para tetangganya tertarik menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar. Maka jadilah master manajemen alumnus STIE Prasetya Mulia itu mencemplungkan Rp200-juta untuk menekuni bisnis baru itu.

Irene Hartanto juga tergiur menekuni bisnis bioetanol. Agen besar minyak tanah di Jakarta, Bogor, dan Depok, itu merasakan betul pengurangan jatah minyak tanah dalam 2 bulan terakhir. Di Depok, Jawa Barat, saja jatah Irene semula 4 tangki per hari. Sejak Mei 2008 ia hanya dipasok 2 tangki per bulan. Oleh karena itu ia berencana menekuni bisnis bioetanol sebagai pengganti minyak tanah. ‘Kalau beli gas kan tak bisa setengah liter. Dengan bioetanol mereka bisa beli 350 ml karena memang hemat,’ ujar alumnus Universitas Padjadjaran itu.

Menurut Budi dan Himawan bioetanol solusi alternatif pengganti minyak tanah. Alasannya bioetanol dapat diperbarui, efisien karena 1 liter setara 4 liter minyak tanah. Pengganti minyak tanah berupa bioetanol berkadar 40%. Yang berkadar tinggi atau 99,6% lebih dulu menjadi bahan campuran premium dan pertamax seperti dijajakan Pertamina. Jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menyediakan biopremium dan biopertamax kian meningkat.

Biopremium adalah campuran antara bioetanol dan premium; biopertamax, campuran antara bioetanol dan pertamax. Dalam kedua campuran itu porsi bioetanol baru 5% sehingga disebut E5. Menurut Ir Yutitie Nurianti, manajer Pengembangan Produk Baru Pertamina saat ini di Jakarta terdapat 20 SPBU penyedia biopertamax yang menjual rata-rata 1,1-juta liter per bulan. Sedangkan di Surabaya terdapat 6 SPBU biopertamax (296.000 liter), Malang 4 SPBU biopertamax (55.000 l) dan 1 SPBU biopremium (310.000 l), serta Denpasar 11 SPBU biopertamax (200.000 l) per bulan. Tahun lalu SPBU bioetanol hanya ada beberapa di Jakarta dan Malang.

Total penjualan biopremium dan biopertamax Pertamina pada 2007 masing-masing baru 3,776-juta liter dan 9,957 liter. Angka itu jauh dari target nasional yang mencapai 188,8-juta liter untuk biopremium dan 497,895-juta liter (biopertamax). ‘Ketersediaan bioetanol secara volume masih sangat terbatas sehingga terbuka peluang untuk meningkatkan produksi,’ kata Yuttie.

Menurut Yuttie jika seluruh produksi 6 pabrik besar bioetanol terserap Pertamina pun, Indonesia kekurangan pasokan bioetanol 730-juta liter pada 2008. Keenam pabrik besar yang dimaksud Yuttie adalah PT Molindo berkapasitas produksi 15-juta liter, Indoacidatama Solo (10-juta l), Rajawali Nusantara Indonesia (14-juta l), Medco (60-juta l), Sampoerna (58-juta l), dan Indoacidatama Lampung (50-juta l).

Pangsa pasar bioetanol kian menganga lantaran pada 2016-2025 pemerintah menargetkan peng-gunaan E15 alias campuran bioetanol 15%. Dengan prediksi kebutuhan premium 41-miliar liter, permintaan bioetanol saat itu mencapai 6,28-miliar liter per tahun. Pangsa pasar yang kian terbuka itu menjadi daya tarik bagi para produsen.

Solusi: bioetanol

Arief Yudiarto, periset teknologi etanol di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, memprediksi produsen bioetanol seperti Johan Susilo, Soekaeni, dan Soelaiman Budi bakal tumbuh subur. Doktor Bioengineering alumnus Tokyo University of Agriculture and Technology itu, menuturkan wilayah Indonesia terdiri atas pulau-pulau menyulitkan Pertamina mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM).

‘Ketika disubsidi saja, harga BBM di pulau-pulau di Indonesia bagian timur Rp15.000 per liter. Solusi termudah adalah bioetanol,’ kata Arif. Menurut pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 19 Agustus 1959 itu, jika di setiap daerah yang sulit terjangkau terdapat industri bioetanol, maka kesulitan mendapatkan bahan bakar teratasi. ‘Pemerintah tinggal mendorong penggunaan bioetanol. Sampai kapan pun penggunaan bioetanol tak terelakkan,’ ujar Arif.

Hal senada disampaikan Dr Tirto Prakosa. Ia mengatakan harga minyak dunia semakin meningkat lantaran sumber daya minyak amat terbatas. ‘Mencari sumber alternatif bahan bakar minyak salah satu kunci utama mengatasi kelangkaan minyak bumi,’ kata Prakosa. Menurut Prakosa salah satu alternatif yang potensial dikembangkan adalah bioetanol dan biodiesel.

Penggunaan bahan bakar yang bersumber dari tumbuhan itu diprediksi terus melonjak. Dr Tatang Hernas Soerawidjaja, periset Pusat Penelitian Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, menuturkan, ‘Pemanfaatan bahan-bahan bakar hayati di sektor transportasi terus meningkat, bahkan sampai 2050 sekalipun.’ Sebab, impor bensin terus meningkat karena peningkatan kapasitas kilang tak mampu mengimbangi permintaan.

Pada 1997 Indonesia memproduksi 1,5-juta barel-sebarel 158,97 liter-per hari. Produksi itu melorot tajam menjadi hanya 910 barel pada 2007. Menurut Tatang, Indonesia tak berdaya membangun kilang baru. Sementara, ‘Impor bensin maupun minyak bumi mentah menguras devisa negara. Penggunaan gasohol berbasis bioetanol produksi dalam negeri sangat perlu dipertim-bangkan,’ ujar doktor Teknik Kimia alumnus University of Delft, Belanda, itu.

Bioetanol dan biodiesel, berpeluang besar menjadi substitusi BBM. ‘Pemakaian bahan bakar nabati saat ini bukan pilihan, tetapi keharusan karena tak ada pilihan lain. Tapi banyak pihak menganggap bahan bakar nabati hanya opsi untuk pengembangan energi di tanahair,’ kata Paulus Tjakrawan, ketua Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi). Ketika cadangan minyak dunia menipis, saatnya kini membangun kilang minyak di halaman. (Sardi Duryatmo/Peliput: Faiz Yajri, Imam Wiguna, Lani Marliani, & Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img