Tuesday, November 29, 2022

Kisah Algojo dari Bawah Tanah

Rekomendasi

Sepenggal kisah “Collateral” yang dibintangi Tom Cruise mengingatkan akan kedigdayaan nematoda liliput seperti Heterorhabditis indica. Sosok amat mini, panjangnya cuma 0,5 mm, tetapi nematoda mini itu bagai pembunuh berdarah dingin.

Tanpa ampun mereka mengirimkan kematian kepada serangga-serangga hama. Nematoda masuk ke tubuh serangga melalui jaringan kulit, mulut, atau anus. Episode berikutnya nematoda menggerogoti tubuh serangga. Ketika inang alias tempat indekos nematoda itu mati, di sanalah ia memperbanyak diri. Ribuan nematoda baru lahir sebagai dan bakal mencari inang di tubuh serangga lainnya.

Mekanisme itu menarik perhatian Dr Didik Sulistyanto ketika menimba ilmu Bioteknologi dan Pengendalian Hayati di Universitas Kiel, Hamburg, Jerman. Kembali ke tanahair, dosen Universitas Negeri Jember, Jawa Timur, itu intens memperbanyak beragam nematoda sebagai agen pengendali hayati.

24 jam mati

Perbanyakan nematoda secara in-vivo dengan memanfaatkan ulat hongkong Tenebrio molitor atau ulat bambu Galleria mellonella yang lazim sebagai pakan burung ocehan. “Serangga apa saja dapat digunakan, yang penting mudah diperoleh,” ujar Didik. Sepuluh ulat itu diinokulasi dengan cara menetesi nematoda ke tubuhnya. Dalam waktu 24 jam, maut bakal menjemput.

Setelah itu letakkan semua ulat mati di atas cawan petri kecil berdiamater 5 cm. Sebelumnya berikan alas di atas cawan berupa kertas tisu. Lalu letakkan cawan berisi ulat di atas cawan yang lebih lebar, diameter 20 cm. Berikan sedikit air di atas cawan untuk menjaga kelembapan. Setelah itu biarkan cawan petri di suhu kamar.

Pastikan lalat atau serangga lain tak menghampiri cawan agar tak terkontaminasi. Selama sepekan nematoda bakal berbiak cepat, sampai 10-juta ekor. Saat itu saring nematoda yang turun ke air pada dasar cawan petri. Nematoda yang dipanen disaring dengan ukuran 15—20 µm, ditempatkan di wadah, dan siap disemprotkan ke sekujur tanaman.

Metode in-vitro dengan memakai media agar (PDA), spon, atau media cair dan bioreaktor. Waktu panen 7—14 hari dengan merendam nematoda dalam saringan 30 µm.

Untuk penyemprotan tambahkan beberapa liter air dan aduk hingga rata. Semprotkan nematoda ke sekujur tanaman. Uji lapangan menujukkan hasil yang menggembirakan. Ketika disemprotkan ke ulat grayak Spodoptera litura—hama bawang merah—efektivitasnya 90—100%, thrips Th rips sp 75—85%, dan ulat tanah Agrotis ipsilon 90—100%. Pantas jika nematoda itu kini menjadi pilihan pekebun di berbagai wilayah, seperti Kota Batu, Malang, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, dan Bandung.

Beragam

Menurut Didik, pemanfaatan nematoda sebagai agen hayati merupakan hal baru di Indonesia. Bahan itu aman bagi tanaman, hewan, dan ramah bagi lingkungan. “Ini pestisida alami sehingga sayuran yang dihasilkan aman dikonsumsi manusia,” kata Didik. Agen hayati itu potensial sebagai pengendali hama utama sayuran yang ramah lingkungan. Apalagi nematoda banyak ditemukan di setiap jengkal tanah mulai dari pantai sampai pegunungan. Selain Heterorhabditis indica dan Steinernema carpocapsae, terdapat puluhan nematoda sejenis.

Beberapa yang sudah terbukti tokcer mengatasi serangan hama adalah Heterorhabditis bacteriophora, H. popilliae, Steinernema affi nis, S graseri, S. bicornutum, S. feltiae, Photorhabdus sp, dan Xenaorhabdus sp. Uji lapangan membuktikan Steinernema felitae mematikan lalat kubis Bradysia coprophila hingga 80%, pengorok daun Liriomyza huidobrensis 80%, dan lalat jamur Bradysia sp 90%.

Toh untuk mendapatkan nematoda itu pekebun sayuran tak mesti menggali tanah. Sebab, si pembunuh berdarah dingin itu kini dikemas dalam spon berukuran 20 cm x 20 cm. Harganya amat murah, Cuma Rp5.000 per kemasan terdiri atas 10-juta nematoda. Organisme itu mampu bertahan hingga 6 bulan. Jika ingin menggunakan, remas di dalam air 15 liter sampai nematoda keluar. Campurkan perekat secukupnya dan masukkan dalam wadah atau tangki semprot.

Satu ampul digunakan untuk luasan 500 m2. Artinya untuk luasan 1 ha hanya membutuhkan 20 ampul senilai Rp100.000. Didik mengatakan penyemprotan nematoda sebaiknya pada sore hari. “Nematoda tidak tahan panas,” ujar kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 23 Maret 1964 itu. “Insektisida” itu dapat dimanfaatkan sebagai langkah pencegahan dan kuratif, untuk mengatasi serangan hama.

Kehadiran nematoda sebagai parasit hama menggembirakan terutama bagi pekebun organik. Mereka, para pekebun organik, mempunyai alternatif dalam mengatasi serangan hama. Algojo dari bawah tanah dapat diandalkan sebagai pelindung tanaman. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img