Friday, December 2, 2022

Kisah Delapan Dewa Menguak Pasar

Rekomendasi

Pemandangan tak lazim itu dijumpai di sebuah nurseri di Ciputat, Tangerang. Pemiliknya, ChandraGunawan, tampak mondar-mandir di antararak-rak kosong. Wajahnya terlihat gelisah. Berkali-kali ia memeriksa telepon genggamnya, mungkin ada pesan singkat atau telepon yang tak terjawab. Maklum pemilik Godongijo Nursery itu tengah menunggu kabar euphorbia yang dipesan dari salah satu koleganya di Thailand. Sementara pesanan dari berbagai daerah terus mengalir. “Terpaksa pengiriman ke Jawa timur dan Jateng Tengah ditunda karena ngga ada tanaman,” keluhnya.

Selang 2 jam kemudian ketegangan di wajah Chandra mulai mereda. Kabar gembira datang dari negeri Gajah Putih. Sebanyak 13.000 tanaman siap diterbangkan ke Indonesia. Itu hasil perburuan sang kolega dari seluruh pelosok Thailand.

Langka

Jumlah tanaman yang dimasukkan Chandra sekarang ini lebih besar ketimbang 2 bulan lalu, hanya 5.000 tanaman. Sejak September hingga akhir 2003 pria kelahiran Semarang itu telah 3 kali mendatangkan euphorbia. Pengiriman pertama 8.000 tanaman setinggi 10—15 cm. Tak sampai 2 bulan pasokan itu ludes. Dua bulan kemudian 7.000 pot datang dan langsung amblas. Jenis yang didatangkan pun lebih lengkap, minimal 30 warna tersedia. Kini, “Tak peduli warna, dapat tanaman saja saya sudah bersukur,” ucap penggemar reptil itu.

Nun jauh di Semarang kegalauan serupa juga dialami Franciscus Kusdianto, ST. Rak-rak tempat pamer euphorbia di belakang rumahnya tak sepadat 5 bulan lalu. Bahkan nyaris kosong. Padahal bulan depan pemilik Gama Cactus Garden itu harus mengirim 5.000 tanaman ke Bandung dan Salatiga. Celakanya pekebun di Thailand hanya sanggup mengirim 2.500 pot.

Biasanya pemilik Gama Cactus Garden itu rutin memasukkan 2.000 euphorbia setiap 2 bulan sekali, sejak September 2003. Namun, awal Februari 2004 pasokan dari negeri Siam agak tersendat. “Paling banter cuma bisa dapat ratusan tanaman,” keluhnya. Supaya perniagaan tanaman hias berduri di Semarang tetap berjalan, Frans—sapaan Franciscus—menggunakan bantuan calo. Alhasil kiriman tanaman meningkat meski kebanyakan jenis-jenis lama.

Langkanya euphorbia di negeri Gajah Putih akibat serbuan importir dari berbagai negara. Maklum negeri Siam itu memang surga dan pusat mode euphorbia. Pembeli asal Malaysia, Singapura, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat berbondong-bondong meminta kiriman. Bahkan, India dan Philipina yang semula tidak melirik euphorbia kini menambah panjang daftar importir. Di Indonesia sendiri kini tercatat 10 importir, sebelum 2003 hanya 2 orang yang memasukkan euphorbia.

Membludaknya permintaan euphorbia ke Thailand diendus oleh para eksportir di sana. Menurut Frans, ada 3 eksportir besar yang memonopoli pasar euphorbia. Sementara jumlah pekebun besar seperti Sombut Jitpirom, pemilik NTK Nurseri di Bangkok, terhitung dengan jari. Sisanya pekebun-pekebun kecil yang juga bermitra dengan Sombut.

Pasar ekspor memang menjadi bidikan utama pekebun euphorbia di Thailand. Pasalnya, di pasar lokal tanaman berduri ini kurang populer. Trubus menyaksikan di pasar tanaman hias Chathucak hanya 6 dari 100 kios yang memajang euphorbia.

Ngetren di daerah

Kalau di Thailand euphorbia meredup, di tanah air justru ngetren, sejak setahun lalu. Berawal dari maraknya kios-kios tanaman hias yang memajang euphorbia pada pameran akbar tanaman dan satwa, Flona 2003 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Ternyata animo konsumen terhadap tanaman asal Madagaskar itu tinggi. Terbukti saat pameran ditutup para pedagang pulang dengan menyisakan sedikit tanaman.

Flona 2003 mengimbas kepada para pedagang euphorbia di tanah air. Mereka kewalahan melayani permintaan yang kian meningkat. Itu yang dialami Anwar di kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Saat ini ia sedang giat-giatnya berburu euphorbia untuk melayani pesanan di seputar Jabotabek. Lebih dari 100 pot ukuran 15—20 cm dilepas tiap bulannya. Itu belum termasuk tanaman besar, ukuran di atas 40 cm, bisa mencapai 30—50 pot/bulan. “Sebelumnya menjual 15 pot per minggu saja mesti pontang-panting,” ujar ayah 1 putri itu.

Kondisi itu setali tiga uang dengan yang dialami Asep. Setahun belakangan ini ia kewalahan melayani permintaan euphorbia yang melonjak 10 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Setiap bulannya pekebun di Bumi Serpong Damai itu rutin mengirim 300 pot ukuran 15—20 cm. Saking larisnya dijual tanpa bunga pun laku. Pelanggannya berasal dari Lampung, Jambi, Bandung, dan Surabaya.

Di Mojokerto ada Vonny Asmarani, pemilik Vonny Orchids yang memasarkan tanaman berjuluk crown of thorn sejak November 2003. Pengambilan pertama 500 pot dari Godongijo Nursery langsung ludes dalam waktu sebulan. Salah satu pelopor pengembangan euphorbia di Jawa Timur itu kemudian minta dikirim lagi 500 pot per 3 minggu. Jumlah itu menyamai kiriman adenium. “Ada kecenderungan pamor tanaman ini bakal menandingi adenium,“ ujar pemilik sekolah play group Carousel itu. Konsumen datang dari Malang, Madiun, Lamongan, Gresik, Yogyakarta, Bali, Lombok, Balikpapan, bahkan Medan.

Justru Medan dan Aceh penyedot euphorbia paling besar. Hampir 25% stok Chandra terkirim ke sana. Hal senada juga dilontarkan Frans, lebih dari 50% tanamannya diserap Medan. Tak melulu Medan yang booming euphorbia, pun Jambi. Di sana tanaman itu dipercaya membawa keberuntungan lantaran bunga berbentuk angka 8. Selain itu duri yang menyelimuti batang bisa mengusir roh jahat.

Pembawa rezeki

Bukan tanpa alasan bila Poysian—julukan euphorbia di Thailand—disebut bunga keberuntungan. Bagi para pemilik nurseri tanaman hias berduri itu bak pohon uang. Margin yang ditawarkan memang memikat, dari importir hingga pedagang kecil. Anwar mencontohkan. Ia pernah menjadikan sebatang siamese ruby berukuran medium seharga Rp100.000. Pemilik Mutia Flora itu kemudian memperbanyak hingga 5 tanaman. Selang 2 bulan tanaman induk terjual dengan harga Rp250.000. Tiga bulan kemudian Rp750.000 masuk ke kantongnya hanya dengan menjual 5 anakan setinggi 20—25 cm.

Itu juga yang membuat sebagian pekebun banting setir ke bisnis euphorbia. Sebut saja Asep, yang menggusur tanaman daun eksklusif demi euphorbia. Tak heran dari perniagaan euphorbia ini pemilik Ladang Euphorbia itu bisa meraup omzet Rp12-juta/bulan. Jumlah yang menggiurkan ketimbang menjajakan anthurium.

Maraknya pameran mendongkrak penjualan anggota famili Euphorbiaceae itu. Lianne Kusumaryani misalnya, selama 10 hari pameran di Supermall, Semarang ia bisa memperoleh omzet Rp12-juta. Itu belum ditambah hasil penjualan 30 pot ukuran besar yang harganya mencapai Rp500.000—Rp750.000/pot. Hal serupa juga dialami Yayah Rokayah, di Kopo, Bandung. Pemilik Centre Anggrek itu mendapat omzet Rp10-juta dari menggelar euphorbia selama seminggu di Gedung Wiyataguna, Bandung.

Mode

Euphorbia bukan tanaman hias baru di Indonesia. Delapan tahun silam tanaman itu masuk ke tanah air dan menjadi tren di kalangan hobiis. Pamornya kian menanjak lantaran selalu ada jenis-jenis baru. Yang didatangkan Godongijo Nurseri misalnya hampir 20 jenis koleksi teranyar dari Thailand. Ada juga Boen Soedijono, pemilik Bloofield Nursery, koleksinya mencapai 100 jenis baik impor dari Thailand atau hasil silangan lokal.

Masuknya jenis-jenis baru itu membuat pasar euphorbia semakin dinamis. Maklum, konsumen mudah bosan disuguhi jenis-jenis lama. Tujuh tahun silam bunga bunga besar dan berwarna merah yang banyak digandrungi pembeli.

Jenis itu pula yang membuat Husny Bahasuan kepincut dengan pak sien hwa—bahasa Cina yang artinya bunga delapan dewa. Sejak memboyong 8 pot dari Bangkok, Thailand, 7 tahun silam kini kolektor asal Surabaya itu tak kenal lelah berburu euphorbia. Alasannya, ”Tidak banyak tanaman bunga dataran rendah yang ukuran bunganya besar,” ujar direktur perusahan produsen sarung Behaestex.

Memasuki medio 2003 terjadi pergeseran preferensi warna bunga. Kini selain merah, putih, merah muda, dan kuning juga digemari. Merah tetap digemari karena dianggap pembawa hoki dalam budaya etnis Tionghoa.

Pergeseran mode tidak hanya pada warna bunga, ukuran bunga juga. Tak melulu bunga besar yang disukai, yang mini justru unik dan cantik. Bunga berukuran kecil itu banyak dimanfaatkan sebagai ground cover atau border taman. Tengok saja hamparan euphorbia di halaman rumah Wiwie Hidayat. Kerabat sukulen beraneka warna itu tertata apik membuat halaman rumah di kawasan Pluit, Jakarta Utara itu tampil atraktif.

Euphorbia lokal

Itu berarti peluang bagi pekebun di tanah air untuk menyilangkan euphorbia, lantaran bunga berukuran kecil kebanyakan diperoleh dari biji. Lihat saja koleksi Gunawan Widjaya di Sentul, Bogor, sebagian besar didominasi hasil silangan alam. Toh penampilannya tak kalah cantik, ukuran bunga mungil, tajuk rimbun, dan kompak.

Yang juga giat mengumpulkan biji euphorbia adalah Ukay Saputra. “Banyak pembeli mulai melirik jenis lokal karena warnanya eksotis dan lembut. Beda dengan bunga asal Thailand yang kebanyakan berwarna ngejreng,” katanya.

Semakin maraknya konsumen yang gandrung jenis lokal berarti mengurangi ketergantungan import dari Thailand. Toh dengan memperbanyak sendiri tanaman tidak membuat harga euphorbia merosot. “Harga euphorbia ini relatif stabil. Jika penampilan tanaman cantik konsumen berani beli mahal,” ujar Ukay. Itu sebabnya meski booming tidak terjadiperang harga antarpedagang. Dengan kondisi kosong tanaman itu juga tak membuat harga euphorbia melonjak.

Sayang ruang pamer euphorbia di berbagai nursery bakal lama terbengkalai. “Mungkin sampai akhir tahun ini,” ujar Chandra. Alasannya, saat musim hujan nanti, di penghujung 2004, pekebun di sana mengurangi produksi. Sementara itu konsumen akan berpaling ke euphorbia jenis lokal. (Bertha Hapsari/Peliput: Nyuwan Susila B, Syah Angkasa, Destika, & Prawita Tri Hesti Utami)

Previous articleBukan Arwana Biasa
Next articleVanili: Sekilo 3-Juta
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img