Wednesday, April 17, 2024

Kisah Dua Anak Muda Merawat Tradisi Jamu Gendong melalui ‘Lestari Jamuku’

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Selama ini persepsi jamu cenderung negatif. Sebab bercita rasa pahit, kuno, dan kerap meninggalkan rasa trauma karena tidak tepat menyajikannya. Namun di tangan Zacky Irwandi (26) dan Intan Rahmaningtyas (28) jamu bersalin rupa menjadi produk yang dapat kian dinikmati.

Bermula dari 2019 Zacky dan Intan yang sama-sama pecinta jamu kerap menyambangi penjual jamu gendong. Bukan sekadar meneguk jamu, tetapi mereka mengeksplorasi minuman sehat itu. Hingga akhirnya lidah mereka kepincut pada salah satu penjual jamu di sekitar tempat tinggal mereka yakni di Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Founder dan Co-founder Lestari Jamuku Zacky Irwandi dan Intan Rahmaningtyas. (Dok. Lestari Jamuku)

Sayang pada 2020 sang penjual jamu itu wafat. Ketika hendak menelusuri resep jamu,  Intan dan Zacky pun kesulitan.  Pasalnya, tidak ada generasi yang meneruskan, pun tidak ada resep atau catatan yang diwariskan.

Padahal menurut Intan mestinya jamu gendong adalah pelaku tradisi yang harusnya lebih berdaya. Keruan saja Intan dan Zacky ingin melibatkan pelaku jamu gendong itu dalam setiap bisnis jamu jenama ‘Lestari Jamuku’ itu.  “Lestari peminumnya, lestari pembuatnya, dan lestari tradisinya,” tutur Intan.

Proses pembuatan jamu melibatkan produsen jamu gendong yang mengolah secara tradisional. (Dok. Lestari Jamuku)

Meski begitu, pelaku jamu gendong sejatinya memiliki segmen pasar tersendiri misalnya para penikmat jamu di pemukiman yang sering memesan jamu untuk penyakit tertentu seperti asam urat.

Sementara konsumen baru (modern) memesan jamu untuk penyakit misalnya gerd dan booster Air Susu Ibu (ASI).  Maka Intan dan Zacky berupaya memadukan keduanya sehingga mereka juga kerap memberi edukasi pada penjual jamu gendong sebagai produsen yang memasok ke Lestari Jamuku.

Menghadirkan jamu sesuai preferensi konsumen tanpa menghilangkan khasiat untuk tubuh. (Dok. Lestari Jamuku)

Salah satunya dengan mengikuti workshop. “Namun tanpa menghilangkan segmen jamu gendong yang sudah ada,” tutur Intan. Lestari Jamuku menghadirkan rasa sesuai dengan ekspektasi dan preferensi penyuka jamu.

Sehingga sejak 2019 selain meriset berbagai informasi khasiat atau secara scientific dari setiap jenis jamu, mereka juga mengeksplorasi setiap rasa jamu. Bahkan Zacky sempat fokus selama setahun untuk mencari informasi bahan baku hingga cara olah jamu di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Hingga pada Agustus 2022 Zacky dan Intan mantap memasarkan produk jamu itu.  Kali pertama perkenalan jamu dari mulut ke mulut atau secara langsung agar sesuai kesukaan konsumen. Misalnya melalui komunitas dan juga bazar. Hingga akhirnya kini sudah tersedia secara daring.

Produk itu terdiri dari kunyit asam, beras kencur, dan  gula jahe. Harga jual jamu itu Rp45.000 per 500 ml dan Rp80.000—Rp85.000 per 1 liter tergantung jenis jamu. Total jenderal saban bulan Lestari Jamuku memproduksi sekitar 170—200 liter jamu.

Omzet dari perniagan jamu itu sekitar Rp16 juta per bulan. Pemasaran ready to drink dan jamu tahan 7—14 hari (sesuai jenis). Mereka mengemas jamu dalam botol kaca.  Menurut Intan varian kunyit asam tidak sepi peminat. Kebanyakan konsumennya wanita yang sering mengalami nyeri saat menstruasi.

“Konsumen kita 90% perempuan,” katanya. Sejatinya Intan menyarankan untuk mengonsumsi jamu itu 3—4 hari sebelum menstruasi, saat, dan pascamenstruasi atau saat pembersihan. Jamu di Lestasi Jamuku juga bercitarasa enak karena menggunakan pemanis alami seperti gula kelapa.

Kecuali jamu yang menggunakan bahan seperti sambilata kerap meninggalkan sensasi pahit dari rasa khas tanaman itu. Bahan yang digunakan seperti kunyit, jahe, kencur berasal dari Karanganyar. Zacky dan Intan selalu memastikan bahan itu berkualitas.

“Setelah panen bahan baku akan disortir, jemur 2—3 hari untuk mengeringkan kotoran tanah, dan baru dikirim ke rumah produksi” kata Zacky. Setelah sampai bahan baku itu akan disortir kembali. Lolos sortir jika tekstur tidak keriput.

Lalu digunakan sesuai kebutuhan. Total mereka memberdayakan 4 pelaku jamu gendong dan 2 petani rempah. Menurut Intan bisnis jamu masih menjanjikan seiring dengan adanya pergeseran pola hidup sehat pasca pandemi Covid-19. Zacky juga menambahkan bahwa jujur dalam berbisnis apalagi herbal menjadi kunci utama untuk menyajikan jamu yang berkhasiat.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Peternak di Kabupaten Magelang Sukses Silangkan Ayam Poland

Trubus.id—Penggemar ayam poland di Indonesia berasal dari berbagai daerah. Alasannya karena sosok ayam poland sangat unik. Muhammad Doni Saputra...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img