Thursday, August 18, 2022

Kisah Pengelana Lima Benua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Namanya bitti, tumbuh di atas batu karang yang keras hampir tanpa tanah. Hanya humus tipis tempat ia berpijak. Pembuat kapal memanfaatkan kayu pohon itu sebagai bahan baku perahu pinisi nan gagah.

Bitti Vitek cofassus menjadi bahan perahu pinisi terbaik. Itu bila bitti tumbuh di atas karang. Anggota famili Verbenaceae itu bisa juga tumbuh di tempat yang lebih nyaman: di tanah subur.  Namun, kualitas kayu tak sebaik pohon yang tumbuh di batu. Menurut Prof Dr Muhammad Restu, dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, pembentukan sel bitti yang tumbuh di karang sangat rapat sehingga menghasilkan kayu kuat dan keras.

Restu mengatakan bitti yang tumbuh di daerah karang atau berkapur biasanya bengkok di bagian bawah atau atas. “Pembuat perahu senang mendapatkan pohon seperti itu,” kata Restu. Dengan demikian perajin pinisi tak perlu membengkokkan kayu. Bengkoknya pohon lantaran persaingan untuk memperoleh hara atau fototropisme—mengejar sinar matahari. Hingga saat ini belum ada riset riap tumbuh bitti di atas karang.

Namun, di kampus Universitas Hasanuddin bitti berumur 5 tahun berdiameter batang hingga 15 cm. Artinya, pertumbuhannya relatif cepat, 3 cm per tahun. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia menulis pohon bitti betina—bitti berumah dua, jantan dan betina terpisah—lebih bagus sebagai bahan perahu. Bitti betina menghasilkan papan lurus dan lebar; bitti jantan, sebaliknya.

Tiga desa

Perajin perahu pinisi di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, memilih bitti sebagai lunas. Menurut H Abdul Karim, perajin pinisi di Desa Ara, lunas adalah tulang punggung badan kapal. Posisinya ada di bawah sehingga selalu bersentuhan dengan air laut. Ketika Trubus bertandang ke Desa Ara, 250 km sebelah tenggara Kota Makassar, H Abdul Karim tengah menyelesaikan pembuatan pinisi.

Pria-pria itu bertubuh legam menghaluskan dinding perahu. Pekerja lain membuat sekat antara ruang kemudi dan awak kapal. Lokasi pembuatan perahu legendaris itu hanya 20 m dari Pantai Tanjungbira. Mereka membuat pinisi di bawah naungan atap rumbia untuk mengurangi terik matahari. Perajin pinisi di Desa Ara hanya membuat badan kapal.

Sedangkan tali dan layar bikinan perajin di Desa Lemolemo, Kecamatan Bontobahari.  Sementara nakhoda biasanya dari Bira. Jarak antardesa itu kira-kira 15 km. Spesialisasi seperti itu berlangsung sejak zaman dulu, abad ke-14. “Jika peraturan tak tertulis itu dilanggar, pinisi bisa sempurna. Misalnya, umur singkat, kurang dari 20 tahun,” kata Andi Baso Bira Patunru, keturunan raja Bira.

Menurut Patunru 3 desa itu dilambangkan dengan 2 tiang sebagai ciri khas pinisi. Masyarakat setempat menghubungkan soal 3 desa yang terkait erat dalam pembuatan pinisi dengan legenda Sawerigading. Kisah putra raja Luwu itu termaktub dalam Lontarak I babad La Galigo. Sawerigading, pria perkasa itu, jatuh hati pada adiknya sendiri Watenri Abeng. Watenri menyarankan agar sang kakak pergi ke Tiongkok.

Setelah membuat perahu berangkatlah Sawerigading ke negeri di Asia Timur itu. Sawerigading menyunting Putri We Cundai dan menetap di Tiongkok. Namun, kerinduan akan kampung halaman tak pernah berakhir. Itulah sebabnya ia berlayar pulang ke Luwu setelah beberapa tahun menetap di sana. Baru saja perahu berlabuh di Pantai Luwu, gelombang besar menghantam sehingga perahu berserakan.

Ombak membawa badan perahu ke pantai Ara; tali dan layar, terdampar di Lemolemo; sedangkan lunas ditemukan di Tanjung Bira. Masyrakat ketiga desa itu menyusun kepingankepingan perahu yang semula berserakan hingga utuh kembali. Itulah yang disebut pinisi. Kepiawaian menyusun perahu itulah yang diwariskan kepada penduduk ketiga desa itu sampai sekarang. Itulah sebabnya wilayah itu disebut butta panrita lopi, tanah para ahli pinisi.

Lima atau tujuh

Patunru mengatakan populasi bitti di Bira kian menyusut. Ketika Trubus berjalan dari pantai Bira ke Hutan Ara selama 45 menit hanya menemukan sebuah pohon. Oleh karena itu selain memanfaatkan bitti, para perajin juga menggunakan kayu ulin Eusideroxylon zwageri dan jati Tectona grandis. Bitti siap tebang jika diameter batang minimal 50 cm. Masyarakat setempat mencari bitti pada hari ke-5 atau ke-7 pada bulan dimulainya pembuatan pinisi.

Mereka percaya angka 5 berdekatan dengan naparilimai dalle’na bermakna rezeki sudah ditangan (lima = tangan, dalle’na=rezeki). Adapun angka 7 atau natujuangngi dalle’na (natujuangngi=diperuntukkan), selalu mendapat rezeki. Andi Patunru mengatakan mereka menyelenggarakan upacara sebelum penebangan pohon. Para perajin—di Desa Ara terdapat 6 kelompok perajin—mengeringkan kayu bitti sebelum memotong-motongnya.

Mereka memotong kayu dengan mata kampak atau gergaji tepat di urat kayu. Itulah salah satu rahasia kekuatan pinisi. Pemotongan dimulai dari ujung. Sebagian potongan kayu itu dibuang ke laut sebagai simbol peran kaum pria mencari nafkah. Sebagian potongan lain disimpan di rumah, simbol penantian istri. Selain itu mereka tabu berhenti sebelum kayu terpotong sempurna.

Pekerja menghaluskan lunas, memasang soting alias papan pengapit lunas, dan memasang papan. Posisi papan terkecil di bawah, makin ke atas kian besar ukurannya. Badan perahu kemudian terbentuk, tetapi terdapat banyak celah antarpapan. Perajin pinisi di Desa Ara memanfaatkan getah pohon barruk untuk memperkuat hubungan antarpapan. Mereka menutup celah antarpapan dengan mendempul. Bahan dempul berupa campuran kapur dan minyak kelapa yang diaduk 12 jam.

Kelana

Jika seluruh badan terbentuk dan layar terpasang, barulah perajin membuat ruang-ruang di dalam perahu. Untuk mendesain ruang saja perlu waktu hingga setengah tahun. “Mendesain ruang pinisi mirip tata ruang rumah,” kata Rudy T Mintarto, konsultan tata ruang yang 3 tahun mendesain ruangan pinisi. Ia mendesain tata ruang pinisi milik Frank Halderman sepanjang 32 m dan lebar 8 meter.

Pinisi itu terdiri atas 3 lantai. Di lantai terbawah ada kulkas, meja makan, ruang awak buah kapal, bilik mesin, dan gudang. Penumpang dapat mengunjungi restoran dan bar di lantai 2; lantai 3, kamar dan ruang nakhoda. Rudy, arsitek jebolan Universitas Udayana, pernah berlayar dengan pinisi dari Tnjungbira. Di perairan Jeneponto, Sulawesi Selatan, 4 jam dari Tanjungbira, ombak menggulung pinisi. “Selama sejam saya terombang-ambing. Ombak tinggi hingga menutup bagian atas pinisi,” ujar Rudy.

Itulah keperkasaan pinisi membelah samudera yang tak selamanya ramah. Pantas saja banyak pengunjung pameran di Vancouver berdecak kagum begitu Pinisi Nusantara tiba selamat di perairan False Greek, Kanada, Amerika Utara. “Tak ada bandingannya,” kata Rudy yang mengagumi pinisi. Perahu yang dirancang oleh Dr Sularto Hadisuwarno itu menempuh jarak 10.000 km selama 62 hari. Perahu bertolak dari Muarabaru, Jakarta Utara, pada 9 Juli 1986.

Ada lagi pinisi Ammana Gappa—diambil dari nama undang-undang pelayaran dan perniagaan—yang berlayar ke Madagaskar, negeri di timur Benua Afrika. Pelayaran pada September 1991 itu untuk menapaktilasi migrasi bangsa Melayu ke Madagaskar. Pinisi Pearl menyusuri jalur pelayaran Marcopolo hingga ke Karibia. Kegagahan pinisi terbukti sejak zaman nenek moyang karena perahu kayu itu menjadi sarana transportasi untuk berniaga ke Sri Lanka, Filipina, bahkan Australia.

Perahu pinisi kebanggaan Nusantara itu bagai pengelana ke lima benua. Sejak 700 tahun lampau hingga kini, sarana transportasi itu mengatasi kerasnya samudera. Persis ketika pohon bitti—bahan baku pinisi—hidup di atas batu karang yang juga keras. Sepanjang hayat, bahkan setelah menjadi perahu pun, kerasnya kehidupan tak kunjung sudah. (Sardi Duryatmo/Peliput: Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img