Sunday, July 14, 2024

Kisah Sunyi di Perut Bumi

Rekomendasi
- Advertisement -

Lorong Gua Sodong di kawasan karst Gunung Sodong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (foto : dok. Trubus)

Pukul 22.10 saat orang-orang berangkat ke pembaringan, Aziz Fardhani Jaya, Bahrul Septian, Hardian Akbar, dan Tiara Esti Ardi justru tengah bersiap di mulut Gua Siwulung, Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Satu per satu mereka memasuki mulut dengan mengenakan tali sebagai pengaman. Interval antarorang bisa sampai 20—40 menit karena kedalaman antarlorong beragam. Harap mafhum Siwulung merupakan gua vertikal sehingga mereka tidak memasukinya bersamaan. Diameter gua beragam dari mulai lorong sempit hanya pas untuk 1 orang sampai dengan ruangan luas (chamber) berdiameter sekitar 20 meter.

Mereka menerapkan sistem single rope technique (SRT) untuk menelusuri gua itu. Para penelusur gua baru mencapai dasar gua pada pukul 05.00. Kedalaman Gua Siwulung mencapai 155 meter di bawah permukaan tanah. Kemudian di bagian dasar terdapat lorong memanjang atau horizontal sekitar 30 meter dengan aliran air yang mengalir ke ujung lorong sempit. Keruan saja mereka tidak menelusuri gua saja, tetapi juga mengukur bidang tertentu, mengamati, dan mencatat biota. Bahkan, kadang-kadang istirahat sejenak untuk mengusir lelah.

Gua menjadi sumber air karena terdapat sungai bawah tanah dengan debit konstan.
(foto : Aziz Fardhani)

Menurut Aziz di tebing-tebing gua masih tersisa bambu untuk memanen sarang walet. Dahulu gua itu memang menjadi hunian walet Collocalia vestita. Para penelusur gua itu kembali ke atas pada pukul 14.00 keesokan hari. Tiga orang lain—Deni Batara, Sudiyah Istiqomah, dan Roma berjaga di mulut gua. Mereka merupakan anggota Lawalata, kelompok mahasiswa pencinta alam di Institut Pertanian Bogor.

Aziz mengatakan, berdasarkan survei Lawalata terdapat 18 gua, termasuk Gua Siwulung, di ekosistem karst Gunung Cibodas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Semua gua itu berlorong vertikal. Ekosistem karst Gunung Cibodas berbentuk bukit tunggal memanjang dari arah timur ke barat. Topografi di sekeliling ekosistem karst berupa dataran. Oleh karena itu, Gunung Cibodas satu-satunya karst berupa bukit yang terisolir.

Tim Lawalata—dengan personil berbeda-beda—menelusuri tujuh dari 18 gua itu antara lain Gua Sigajah, Sipanjang, Sipeso, gua Sigeulis, Sinema, Sitilu dan Sigodawang. Aziz mengatakan, gua-gua itu menyimpan keanekaragaman hayati (fauna) yang unik dan tingkat endemik yang tinggi. Alumnus Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Institut Pertanian Bogor itu mencontohkan Gua Sipanjang yang memiliki keanekaragaman biota gua yaitu kelelawar dan arthropoda alias hewan berbuku-buku.

Sekadar contoh Aziz menemukan udang purba di beberapa gua. Sebelumnya peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Cahyo Rahmadi, S.Si. menemukan spesies yang sama di Gua Cikaray di Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Jarak Cikaray—karst Gunung Cibodas mencapai puluhan kilometer. Cahyo bersama koleganya dari Prancis, Dr. Guy Magniez, memberi nama spesies itu Stenasellus javanicus. Sebelum penemuan itu udang purba tidak ditemukan di Jawa.

Cahyo pernah mengecek ulang populasi udang purba di Gua Cikaray beberapa tahun berselang pada 2018—2019. Populasi mencapai 20—60 ekor. Doktor Sains dan Teknik alumnus Ibaraki University, Jepang, itu mengatakan bahwa musim hujan memengaruhi populasi udang purba. Pada musim kemarau jumlah air terbatas. Oleh karena itu, udang merah jambu—julukan untuk udang purba karena warna tubuh merah muda—terkonsentrasi di satu tempat.

Kawasan karst Gunung Cibodas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di area itu terdapat 18 gua vertikal dengan kedalaman beragam, hingga 155 m di bawah permukaan tanah.

Sebaliknya pada musim hujan, air berlimpah sehingga udang terkonsentrasi di beberapa tempat. Hal itu menyulitkan perhitungan populasi. Udang-udang itu hidup di lekukan tanah yang mendapat air perkolasi atau perembesan dari stalagtit di langit-langit gua. Itulah sebabnya kedalamannya tak seberapa, hanya beberapa sentimeter. Yang menarik nenek moyang udang itu hidup di air asin. Bahkan, hingga kini udang purba di luar gua itu bertahan hidup di air asin antara lain di Laut Mediterania.

Bagaimana duduk perkara Stenasellus javanicus bisa hidup di air tawar? Cahyo menjelaskan, kawasan karst merupakan terumbu karang yang terangkat dari dasar samudera ke permukaan bumi pada masa Pilo-pleistosin 2,5 juta tahun lalu. Menurut Cahyo ketika proses pengangkatan itu terjadi kemungkinan besar pantai dan biota di dalamnya juga ikut terangkat. Artinya ada perubahan lokasi, semula di dasar laut berair asin menjadi di dataran yang berair tawar. Bertahun-tahun udang merah jambu itu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan baru—air tawar.

Di berbagai gua, udang purba hidup di area troglobit—wilayah gua yang gelap sama sekali karena tidak ada sinar matahari, posisi biasanya di bagian belakang gua. Area gelap pekat menyebabkan mata tidak berperan optimal, terutama saat mencari pakan. Cahyo mengatakan, bahkan dalam jangka panjang, dari generasi ke generasi ukuran mata mengecil atau lama-kelamaan pun buta. Artinya organ tubuh yang tidak digunakan, kemampuannya menurun.

Lazimnya troglofauna atau satwa yang hidup di area gelap abadi mengompensasi bagian tubuh atas kekurangan penglihatan. Ilmuwan kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 27 Agustus 1976 itu mencontohkan sungut atau antena yang makin panjang. Wartawan Trubus yang menelusuri beberapa gua di Kebumen, Jawa Tengah, bersama Cahyo Rahmadi menemukan jangkrik bersungut amat panjang hingga 21 cm. Panjang sungut jangkrik di troglobit Gua Barat itu tiga kali lipat jangkrik biasa yang hidup normal di area bercahaya.

Namun, udang anggota famili Stenasellidae itu unik. Secara morfologi praktis tidak ada perubahan yang berarti. Sungut dan kaki tidak memanjang sebagai bentuk kompensasi. Cahyo mengatakan, hidup di perut bumi yang gelap juga terbatas sumber pakan. Oleh karena itu, udang purba dan satwa lain di gua berstrategi dengan menurunkan laju metabolisme. Selain itu kecepatan dan kemampuan reproduksi pun menurun.

Selain udang purba, Aziz Fardhani Jaya juga menemukan kalacemeti di beberapa gua. Hidup di ekosistem terisolasi, menyebabkan mereka menyesuaikan diri seperti berkaki panjang, capit berduri, bahkan mata hilang. Cahyo mengatakan, “Sekilas tampangnya menyeramkan, tapi kalacemeti tidak beracun. Ia seperti preman yang baik hatinya,” kata ahli Arachnologi (ilmu yang mempelajari laba-laba dan kerabatnya) itu.

Kalacemeti Stygophrynus dammermani penghuni gua bertampang seram, tetapi tidak beracun.
(foto : Aziz Fardhani)

Kawasan karst dan gua berperan penting dalam kehidupan, bukan hanya kehidupan satwa tetapi juga kehidupan manusia itu sendiri (baca boks: Karst untuk Kehidupan). Ketua Masyarakat Speleologi Indonesia, Petrasa Wacana, S.T., M.Sc. mengatakan, gua salah satu indikator kawasan karst yang karena proses pelarutan batu gamping. Proses karstifikasi yang kaya air, menyimpan air pada masa akan datang. Selain itu dalam proses karstifikasi juga ada peran mereduksi karbondioksida.

Gua itu kemudian berproses. Dalam perkembangannya, gua itu bukan hanya sekadar bentang alam yang bisa dimasuki manusia. “Gua itu sebagai lubang yang bisa melarutkan air secara turbulen,” kata Petrasa alumnus Geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Oleh karena itu, kawasan karst menjadi benteng terakhir sumber daya alam yang menyimpan air. Sayangnya karst menjadi incaran pabrik semen karena mengandung kalsium karbonat.

Calon investor lazimnya mensyarakatkan cadangan kalsium karbonat 60% untuk mendirikan pabrik “Tahun 2010 Cina menutup 762 pabrik semen. Cadangan air di dunia 20% ada di karst Cina,” kata Petrasa. Magister Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, tanpa mendirikan pabrik semen baru pun, kebutuhan semen Indonesia sudah tercukupi, bahkan cenderung surplus. Jadi, biarkanlah udang purba dan kalacemeti hidup sunyi di perut bumi. (Sardi Duryatmo)

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Khasiat Daun Ketepeng Cina, Berpotensi Kendalikan Kadar Kolesterol Darah

Trubus.id—Daun ketepeng cina berpotensi menurunkan kadar kolesterol darah. Itulah hasil riset Nisa Khoirila dan Muhammad Walid dari program Studi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img