Thursday, August 18, 2022

Kissah Widjaja Ditantang King Arwana

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Begitu pembicaraan jarak jauh selesai, ia berteriak, ”Besok saya ke Pontianak. Ada yang menawarkan 2 parrot superred,” katanya pada Christine Kastono, istri tercinta. Rasa penasaran dan takut disambar orang lain membuat Kissah mengantar langsung segepok uang Rp28-juta demi arwana berpunuk nan langka.

Sejak telpon selulernya dimatikan, kerinduan Kissah pada parrot semakin membuncah. “Bayangan sosok arwana tergambar terus sepanjang hari. Bisa sampai terbawa mimpi,” kata kelahiran Medan 37 tahun silam itu. Maklum, parrot bukan arwana biasa. Ia unik karena bentuk tak lazim. Tubuhnya mirip kakaktua alias parrot. Sosok pendek, ukuran panjang dan lebar tubuh hampir sama. Ciri khas lain, punggung berpunuk mirip unta.

Esok harinya, setelah terbang di atas laut Jawa selama 75 menit, Kissah menerobos pedalaman Kalimantan Barat ditemani sobat yang telah menjemputnya di bandara. “Letak farm di pinggiran sungai, bukan di tengah kota seperti dibayangkan semua orang,” katanya. Di sanalah 2 anakan parrot berukuran 12 cm dijemput. Yang pertama dibayar Rp16-juta, satunya lagi Rp12,5-juta. Bandingkan dengan superred biasa ukuran 12 cm yang harganya “hanya” Rp4-juta per ekor.

Bukan tanpa alasan ayah 3 anak itu berani merogoh kocek sebesar itu. “Parrot itu tak sekedar arwana cacat. Ia unik dan langka. Apalagi bila posturnya sempurna,” katanya. Saking langkanya, dari 5.000 superred, hanya ditemukan 1 parrot bersosok sempurna. Sebab, ada juga parrot yang cacat dan harganya rendah. Misal, perut dan punggung besar sebelah. Badan bengkok dan kepala besar.

Kalem dan berwibawa

Kecintaan pria tinggi itu pada arwana bermula sejak 1997. Ketika itu sebuah pameran ikan hias digelar di Pondokindah, Jakarta Selatan. “Saya tertarik melihat arwana berenang di akuarium. Gayanya kalem dan berwibawa,” katanya. Ia pun lantas memboyong 2 banjarred seharga Rp600-ribu.

Sejak itulah seminggu 2 kali Kissah mengunjungi pusat-pusat ikan hias di Jakarta untuk membeli pakan dan membandingkan kualitas arwana. Sobat dan karib dari kalangan ikan hiasnya bertambah. “Ternyata hobiis ikan itu berkasta-kasta. Kelas pemula, menengah, dan hobiis berat,” katanya.

Kissah pun tergoda naik kasta setahap demi setahap seiring pengetahuannya pada arwana. Sepuluh bulan kemudian, Kissah membeli seekor anakan goldenred yang harganya 2 kali lipat daripada banjarred.

Tak sampai setahun, alumnus sekolah komputer di Singapura itu, mulai melirik superred. Sejak itu kegandrungan Kissah hanya tertambat pada superred. “Dia arwana paling mahal dibanding jenis lain,” katanya. Koleksi selain superred diberikan pada kolega dan sahabatnya. Pada 2002, akuarium sebanyak 12 buah terisi penuh oleh superred. Bila harga minimal anakan superred Rp4-juta per ekor, berarti ruang tengah kediaman Kissah seluas 40 m2dihuni ikan seharga Rp48-juta. Padahal koleksinya banyak yang telah dewasa.

Raja arwana

Cinta Kissah tak berhenti sampai disitu. “Jenis arwana paling mahal telah dimiliki. Saya ingin tantangan yang lebih besar,” kata ayah Agustina, William, dan Hermawan itu. Parrot lah yang menjadi pilihan. Ia dianggap rajanya ikan kahyangan karena sosoknya paling berwibawa. Itu karena punuknya yang menambah kesan seperti itu. Di luar negeri pun parrot dijuluki king arwana. Dalam bahasa mandarin ia disebut fa fu long yang artinya raja.

Menurut Kissah, walau dijuluki rajanya arwana, perawatan parrot jauh lebih menantang karena lebih sulit. “Nafasnya pendek, tinggi air akuarium tak boleh lebih dari 4 kali lebar tubuh,” katanya. Arus air akuarium tak boleh terlalu kuat. Parrot butuh pakan jauh lebih sedikit. Bila berlebih, bentuk tubuh tak lagi seimbang.

Setelah 2 tahun berselang, tak kurang 20 parrot dimiliki Kissah. Bahkan, 2 di antaranya parrot i tiaw lung (baca: Jalan Naga Menuju Kemakmuran, Trubus Juli 2005, hal 128). “Yang itu parrot paling mahal, bisa sampai di atas Rp50-juta,” katanya. Sayang, saat Trubus berkunjung ke kediamannya di Ancol, Jakarta Utara, parrot i tiaw lung, tak lagi di tempatnya. Ia dititipkan pada seorang sohibnya di komunitas ikan arwana.

Kini setelah mengkoleksi arwana parrot, Kissah dikenal juga sebagai penilai kualitas dan kesehatan parrot di komunitasnya. Tak jarang ia diundang ke Bandung dan Semarang untuk melihat arwana. “Mereka ingin tahu, apakah parrotnya termasuk yang sempurna atau cacat biasa. Kadang ada juga yang minta diobati bila ikannya sakit,” katanya.

Disukai keluarga

Di rumahnya Kissah tak sendirian menyukai arwana. “Istri dan anak saya juga suka. Mereka sering bantu memberi pakan dan membersihkan akuarium. Kadang kami bercanda sambil menikmati indahnya arwana,” katanya. William misalnya, anak keduanya itu cinta berat pada arwana. Bocah berumur 3 tahun itu menolak makan bila belum memberi pakan arwana. Ia juga bergegas bangun pagi bila dikatakan arwananya lapar.

Maka dari itu arwana turut berperan membuat keceriaan di keluarga Kissah. Namun, sebaliknya bila arwananya sakit atau mati. Sedih karena kehilangan terasa menyelimuti keluarga Kissah. Apalagi bila dibayangkan harganya yang selangit. “Selera makan bisa hilang sampai 4 hari. Bawaan kami juga murung terus. Coba bayangkan bila uang sebanyak itu dipakai beli susu bayi,” katanya. Yang paling kesal, bila arwananya itu mati tak lama setelah diboyong dari Pontianak.

Yang paling sedih justru bila arwana yang telah dipeliharanya berbulan-bulan mati. “Kehilangan banget. Kan, saya rawat dengan tangan sendiri, perkembangan warnanya diamati setiap hari. Eh sudah capai-capai, mati,” katanya. Maklum, salah satu kepuasan memelihara arwana adalah ketika menikmati keluarnya warna ikan. Semakin dewasa keindahan warnanya kian terlihat. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img