Thursday, August 18, 2022

Koi Impor Grade Super A dari Kolam Lumpur Pegunungan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sukses Soesanto, pemilik Royal Koi Centre mendongkrak kualitas koi bukan omong kosong. Dari 100 ekor yang dipanen, 50% lolos grade super A; 40% A; dan 10% AB. Padahal, saat ikan itu dibeli dari Jepang pada Juli 2004, semuanya berkualitas A dengan ukuran 40—50 cm. “Prediksi saya tidak meleset,” katanya. Save

Pengalaman sebelumnya menunjukkan tanpa dicemplungkan ke mud pond, kualitas ikan merosot. Hanya 50% bertahan pada grade A, selebihnya jatuh ke kelas AB. Tak ada yang menembus kualitas super A.

Mud pond (mud=lumpur dan pond=kolam, red) sering juga disebut natural pond. Tanah digali sedalam 2,5—3,5 m agar terbentuk cekungan. Dasar dan tepi cekungan dibiarkan alami tanpa perlu disemen. Walau begitu air yang terjebak di cekungan tak akan meresap ke dalam tanah lantaran dasar dan tepi kolam berlumpur. Ia dibentuk dari tanah liat yang lazim ditemukan di lapisan dalam tanah. “Mirip dengan pencetakan sawah,” kata Soesanto.

Menurut Datta Iradian Sutomo, pakar koi di Jakarta, keberhasilan Soesanto itu dapat dipahami. Kolam alami memiliki beberapa kelebihan yang tak bisa ditemui pada kolam indoor. “Pakan alami tersedia 24 jam,” kata alumnus Universitas Trisakti itu. Ia dapat melengkapi kebutuhan pakan buatan y a n g lazim diberikan p a d a jeda waktu tertentu. Selain itu kapasitas kolam yang besar memberi kesempatan ikan berenang dan bergerak leluasa. Keuntungan lain, biaya perawatan tak semahal kolam buatan.

Air berlimpah

Kolam alami milik Soesanto itu terletak di Cipayung, Megamendung, Bogor. Sekitar 75 km dari Kota Jakarta ke arah Puncak, Bogor. Saat Trubus berkunjung pada penghujung Maret 2005, suasana alami terasa begitu kental. Terdengar gemericik air pancuran setinggi 2 m yang jatuh pada permukaan kolam. Ia berasal dari sumber mata air murni yang dihubungkan dengan pipa PVC.

“Sumber air alam yang belum terjamah manusia berlimpah. Air mengalir 24 jam tanpa terputus sehingga air dari kolam langsung dibuang,” katanya. Lantaran itu sistem air berputar yang lazim ditemukan pada fi lterisasi kolam indoor tak ditemui di sana.

Selain murni, sumber mata air itu juga kaya pakan. “Banyak udang-udang kecil hidup, mereka santapan lezat koi,” katanya. Beragam cacing yang hidup di dasar kolam pun menjadi pakan kerabat ikan mas itu. Yang juga penting, suhu pegunungan itu sesuai dengan habitat koi di Jepang. Temperatur air sekitar 20—220C, cocok dengan kondisi air optimal bagi koi. Pun pH air, berada di kisaran angka 7.

Di atas kolam alami itu beragam cara sederhana dari Jepang pun diterapkan. Untuk menghindari hama burung pemakan ikan misalnya, Soesanto memasang 2 pipa besi di sisi kiri dan kanan kolam. Dari sanalah dibentangkan puluhan tambang kecil di atas kolam, setiap tambang berjarak sejengkal tangan orang dewasa. Burung pemangsa koi tak dapat melewati jebakan itu karena sayapnya tersangkut. Teknik sederhana lain, pengatur ketinggian air yang hanya dibuat dari paralon berlubang. “Bila air berlebih, langsung terbuang,” katanya.

Satu-satunya

Walau sederhana mud pond yang dibangun Soesanto istimewa. Pasalnya, itu kolam alami satu-satunya di Indonesia yang dimiliki dealer koi impor. Natural pond hanya ditemui di peternak koi lokal seperti di Blitar. Namun, kolam para peternak koi lokal dangkal. Tak sedalam mud pond milik Royal Koi Centre yang mencapai 2,5 m.

Menurut Soesanto, kolam alami itu dibangun 2 tahun silam atas saran pakar koi dari Jepang, Mr Toshiaki Miyajima. Pemilik Miyajima Koi Farm itu melihat iklim Indonesia dan Jepang berbeda. Harap mafh um, nun di Kota Uozo, Toyama, Jepang—tempat farm Mr Toshiaki—beriklim dingin karena terletak di perbukitan yang melingkari kota. Akibatnya koi kiriman Mr Toshiaki membutuhkan adaptasi agar kualitas terjaga. Untuk mengatasi itu keduanya memilih Megamendung lantaran lingkungan mirip Uozo.

Kini setelah berjalan 2 tahun, Soesanto telah 3 kali mencemplungkan koi. Th e queen of garden itu dibesarkan selama 5—6 bulan. Agar kondisi kolam tetap sehat untuk periode berikutnya, selepas panen lumpur diangkat dan dibuang. Kolam dijemur selama 2 bulan berturut-turut agar bibit penyakit mati. Baru setelah itu kolam siap diisi kembali. Saat Trubus berkunjung ke sana, terdapat 250 koi berukuran 25—30 cm. Tercatat 60—70% termasuk golongan gosanke (kohaku, sanke, dan showa) dan sisanya jenis lain seperti ogon, shiro utsuri, chagoi, bekko, dan kumonryu. Bila tak ada aral melintang, September 2005, mereka siap diangkat.(Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img