Sunday, August 14, 2022

Koko dan Cici, Ini Salak Pondoh Kami

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Dengan pesawat terbang kendala lamanya transportasi teratasi. Sebanyak 4 – 5 ton salak lolos sortir dari kebun di Sleman, Yogyakarta, dikumpulkan di gudang eksportir di Kentheng, Kecamatan Turi, Yogyakarta. Di sana Salacca zalacca mulus berbobot 59 – 72 g per buah atau isi 14 – 17 buah per kg dikemas dalam kardus. Setiap dus berbobot 21 kg. Ia lantas diangkut ke Jakarta, Singapura, lalu mendarat di negeri Tirai Bambu via udara. ‘Hanya 2 x 24 jam salak sudah tiba di China,’ kata Surya Agung, pemilik CV Surya Alam Sejahtera Indomerapi (SAS), eksportir salak.

Menurut Dr Setyadjit MAppSc, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Bogor, Jawa Barat, secara alami salak matang sulit diekspor karena hanya tahan simpan 7 – 8 hari dalam suhu ruang. Itu bisa diatasi dengan merendam buah dalam larutan mengandung 6% lilin. ‘Lilin menyumbat pori-pori kulit sehingga laju respirasi buah terhambat,’ kata Setyadjit. Dengan teknik pelilinan buah tahan simpan hingga 14 – 16 hari. Cara lain buah dipanen lebih muda saat kematangan 60 – 70%.

Surya Agung memilih cara terakhir untuk memenuhi permintaan dari negeri Panda. ‘China memang minta buah dipanen saat matang 60 – 70% agar tahan simpan,’ kata pria 33 tahun itu. Cirinya kulit belum menguning alias masih kehitaman. Duriduri halus pun masih banyak. Itu kira-kira 5 – 6 bulan sejak penyerbukan. Konsumen di China tetap menyukai buah muda karena pondoh manis meski dipetik lebih awal. Sebelum dikirim duri halus dibersihkan menggunakan mesin agar tak melukai konsumen.

Jiran tergiur

Cara itu terbukti menggiurkan Malaysia. ‘Kini mereka minta 1.500 ton per tahun,’ ujar Surya. Lima belas tahun silam permintaan mereka 15 ton sekali kirim. Pengiriman belum rutin karena hanya 40% buah yang bisa dijual. Menurut Tri Sudarsono, peneliti salak di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu, laju ekspor pondoh ke China diharapkan menjadi pionir ekspor buah Nusantara setelah manggis. ‘Salak komoditas buah ekspor nomor 2 setelah manggis,’ tutur Kafi Kurnia, ketua Asosiasi Ekspor Impor Buah dan Sayuran Segar Indonesia.

Tengok saja catatan ekspor SAS Indomerapi sejak Oktober 2008. Dengan harga jual US$3/kg setara Rp30.000/kg (kurs US$1=Rp10.000), nilai ekspor salak pondoh Rp120-juta – Rp150-juta per hari. Sebetulnya permintaan negeri Tirai Bambu 20 ton/hari. Itu untuk memenuhi kebutuhan pasar di 10 provinsi. Sayang, karena pasokan terbatas, pekebun di Sleman hanya sanggup memasok seperempat dari total permintaan.

Importir di China mensyaratkan salak hasil budidaya secara organik. ‘Lahan harus terbebas dari kontaminasi virus atau bakteri penyebab penyakit,’ kata Sugi Hartono, pengendali mutu dan logistik CV SAS Indomerapi. Dari 40 kelompok tani mitra, baru 4 kelompok yang lolos seleksi dengan total luas lahan 80 ha. Kelompok tani itu tersebar di 4 kecamatan: Turi, Tempel, Pakem, dan Srumbung.

Harga diterima pekebun mitra Rp7.000/kg saat panen raya pada Desember – Januari dan Mei – Juni. Saat paceklik Rp13.000 – Rp15.000/kg, jauh lebih tinggi ketimbang harga beli untuk pasar lokal yang hanya Rp2.000 – Rp4.000/kg. Itu karena buah mesti benar-benar mulus. Tidak boleh terkelupas, tergores, atau memar.

Laba berlipat

Tingginya harga tentu membawa berkah bagi pekebun mitra. Contohnya Sari Siswanto, pekebun di Dusun Projaya, Depok, Sleman. Dari lahan 8.000 m2, pria 58 tahun itu memanen 16 ton salak/tahun. Sebanyak 90% di antaranya lolos sortir untuk pasar ekspor. Dengan harga jual Rp7.000/kg, omzet peraih anugerah Petani Teladan Nasional 2008 itu Rp112-juta/tahun atau Rp9,3-juta/bulan.

Biaya produksi salak pondoh organik tergolong murah. Karena dibudidayakan secara organik, pekebun hanya memberi pupuk kandang. Penggunaan pestisida dilarang. ‘Kalau dihitung-hitung, biaya produksi salak pondoh hanya Rp1.000/kg,’ ujar Sari. Artinya didapat laba Rp6.000/kg.

Contoh lain Sujari. Dari 400 rumpun yang ditanam di lahan 1.500 m2, pekebun di Dusun Projaya itu memanen 3,2 ton salak/tahun. Dengan harga jual Rp7.000/kg, omzetnya Rp22,4-juta/tahun atau Rp1,8-juta/bulan.

Pasar lokal bukan tak menjanjikan. Ada permintaan dari 41 outlet pasar swalayan – setara kebutuhan 20 ton/hari – yang masuk ke SAS Indomerapi. Permintaan itu baru terpenuhi 12 – 15 ton per minggu. Hukum pasar pun berlaku. Permintaan tinggi mendongkrak harga salak di tingkat pekebun. Pengepul berani membeli Rp4.000/kg. Sebelum 2008, harga jual hanya Rp2.500 – Rp3.000/kg.

Kenaikan harga itu merembet ke sentra salak pondoh di Kabupaten Magelang – berjarak 30 km dari Sleman. Di sanalah Agus Suryono memanen 25 kg salak pondoh per hari dari lahan 5.000 m2. Dengan harga jual Rp4.000/kg, Agus meraih omzet Rp100.000/hari. Dengan asumsi biaya produksi Rp1.000/kg, labanya Rp75.000/hari atau Rp2,25-juta/bulan.

Luar sentra

Tingginya permintaan dan harga jual salak pondoh membuat daerah lain pun tergiur mengebunkan. Sebut saja di Desa Cimara, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Luas areal tanam salak pondoh di daerah berketinggian 222 – 290 m dpl itu pada 2002 hanya 6 ha. Pada 2009 menjadi 30 ha.

Meski ditanam di luar Sleman, pondoh sama enaknya dengan yang ditanam di sentra. Pantas bila ia jadi buah tangan yang digemari pengguna kendaraan yang melintasi jalur Kuningan – Jakarta. Sekadar contoh, dari lapak Sobari Sopet terjual rata-rata 100 kg per hari. Harga jual Rp6.500 – Rp8.000/kg. Pada akhir pekan penghasilan pekebun salak itu meningkat 2 kali lipat. Terbukti pondoh digemari di tanahair, juga negeri jauh. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri dan Lastioro A Tambunan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img