Tuesday, November 29, 2022

Kolam Koi di Lantai 4

Rekomendasi

 

Selama ini kolam bak fiber menjadi pilihan paling pas di lahan sempit. Selain antibocor, jika sang pemilik sudah bosan, tinggal dipindahkan ke tempat lain. Ini juga yang mendorong Toshiyaki menggunakan bak fiber di lantai 3 tempat tinggalnya untuk bisa menikmati liukan belasan koi.

Berbeda dengan Rudy. Baginya kolam koi harus permanen. Dua lantai pertama rumah Rudy tempat berdagang alat-alat tulis. Lantai ke-3, tempat tinggal. Nah, barulah di lantai ke-4 pemilik Toko Agung di bilangan Sam Ratulangi itu membangun kolam koi.

Menurut Suwira Susanto, hobiis koi di Jakarta Barat, jika ingin memelihara koi di rumah bertingkat, bangunlah kolam di lantai ke-2. Ini tak lepas dari pertimbangan konstruksi bangunan. ‘Semakin tinggi letak kolam, semakin besar tekanan pada konstruksi rumah. Kalau tidak kuat, bisa ambrol,’ katanya. Hal lain yang ditakutkan adalah kebocoran akibat tekanan. Bila dinding tak kuat menahan, rembesan air bisa membanjiri seluruh rumah.

Pakai ram

Konstruksi kolam yang dipakai Rudy cukup sederhana. Ia membeton dinding kolam setebal 20 cm, termasuk dasar kolam. Ketebalan itu mampu menahan 6 m3 air kolam. Untuk menjamin kolam tidak bocor Rudy pun menanam ram kawat galvanis di bagian dalam dan luar dinding kolam. Ram kawat dipasang saat berlangsung pengecoran beton.

Menurut David Ciang Oen, perancang kolam, kawat ram dapat menambah kekuatan dinding saat menahan tekanan air. Dengan rancangan itu, kolam Rudy sanggup diisi sampai 12 m3 atau 2 kali lipat volume air kolam. ‘Ram kawat juga dapat mencegah kebocoran yang selama ini sering terjadi pada kolam semen,’ katanya. Kotak-kotak fiber juga dibuat dengan konsep serupa.

Kolam Rudy memang kecil, 4 m x 4 m. Ini sejalan dengan perhitungan Handrie Agustiana, perancang kolam di Bandung. ‘Kolam yang dibangun di tempat tinggi harus minimalis, bisa 4 m x 3 m atau 5 m x 4 m,’ ucap pemilik Jaya Koi Centre itu. Ini untuk mengurangi dampak tekanan yang ditimbulkan dari volume air kolam. Di luar kawat ram, menurut Handrie fiber dapat dipakai. Ini karena serat-serat fiber rapat, tidak berpori, sehingga air sulit meloloskan diri.

Setelah urusan konstruksi kolam selesai, dicari cara menyedot air ke kolam. Rudy menggunakan pompa berkekuatan 0,5 PK. Pompa itu menarik air tanah ke tangki air di lantai ke-4. Dari tangki, air dialirkan ke kolam. Setiap minggu air di tangki dialirkan ke kolam untuk mengganti air yang menguap dan keluar dari filter kira-kira setinggi 2-3 cm.

Karpet

Kolam Rudy tidak diberi naungan sehingga langsung kontak dengan sinar matahari. Efeknya muncul lumut sehingga membuat air jadi hijau. ‘Agar lumut hilang perlu dipasang lampu UV berkekuatan 30 w setiap 4 m3,’ ujar Aan-sapaan Handrie. Idealnya posisi UV berada di ekor filter sebelum air masuk ke kolam.

Sejatinya kehadiran lumut tak selalu merugikan. Lumut yang menempel di dinding dapat berfungsi seperti karpet. Karpet menjaga koi agar tak terluka saat bergesekan dengan dinding. Maklum, ‘Koi gemar menggesekkan tubuhnya di dinding,’ tambah Aan.

Yang paling ditakutkan Rudy sebenar-nya hujan yang berbuntut pH air turun. Awal 2005 Rudy kehilangan 48 koi berukuran 50 cm. ‘Semuanya mati dalam 1 minggu karena stres,’ kenang Rudy. Belajar dari pengalaman, setiap kali hujan ia mencemplungkan garam ke dalam kolam.

20 kg tali

Kolam dilengkapi sistem filterisasi sederhana. Rudy menggunakan 3 filter biologis berukuran 4 m x 0,3 m. Filter pertama ditempatkan mengikuti panjang kolam; filter kedua, selebar kolam. Sedangkan yang terakhir ada di tepi atas mengikuti lebar kolam.

Masing-masing filter berisi bioball, batu apung, dan lembaran tali plastik. David tak memakai filter mat. Ia menggantinya dengan lembaran tali plastik. ‘Lembaran tali plastik lebih rapat sehingga lebih banyak menangkap kotoran,’ ucap Rudy. Pada ketiga filter itu dibenamkan sebanyak 20 kg tali plastik.

Mekanismenya, sebelum air masuk kolam, dilewatkan dulu ke filter ke-1 dan ke-2. Dari filter pertama air terus mengalir ke kolam melalui pipa yang pinggirnya dilubangi sehingga seperti air mancur. Di filter kedua air bergerak melalui pipa menuju filter ketiga. Setelah disaring, air turun melintasi bakki shower. Dengan adanya pipa berlubang dan bakki shower, terjadi penambahan oksigen terlarut dalam kolam. Dampaknya, meski panas terik nafsu makan koi tetap tinggi.

Menurut Rudy pembuangan limbah kotoran dan sisa pakan sangat mudah. Caranya menggunakan back wash. Semua kotoran akan menggelontar ke saluran pembuangan yang ada di bawah. Nah, semua teknik itu membuat Rudy leluasa menikmati keindahan koi di lantai 4 rumahnya. (Lastioro Anmi Tambunan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img