Monday, August 8, 2022

Kolam Pintar Bebas Kuras

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di kediamannya di bilangan Rempoa, Ciputat, Banten, Dwi membangun kolam koi berukuran 6 m x 3 m berkedalaman 2 m. Kolam itu diisi 22 koi jenis kohaku, shiro utsurimono, sanke, akabeko, showa sanshoku, asagi, dan goshiki berukuran 50-70 cm. Semuanya koi impor dari Jepang. Bahkan dua ekor di antaranya pernah menjuarai kontes All Japan Koi Show. Koi-koi Dwi tampil prima meski kolam tak pernah dikuras. ‘Itu berkat kolam pintar yang dapat membersihkan dirinya sendiri sehingga air tak perlu sering diganti,’ kata Dwi.

Kolam dilengkapi backwash-pembersih-otomatis yang tidak perlu dibuka-tutup pipanya. Kotoran-kotoran yang berasal dari sisa pakan maupun feses langsung dibersihkan sesuai pengaturan waktu dengan bantuan timer. Timer yang terpasang pada sebuah panel otomatis itu mengendalikan backwash untuk bekerja 3 kali sehari: pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB, dan 19.00 WIB. Backwash yang menyala selama 3 menit itu membuang 10% air berikut kotoran di bottom drain-cekungan berdiameter 70 cm di dasar kolam. Air yang terbuang segera tergantikan air baru dari bak penampungan yang mengalir menggunakan pompa otomatis.

Mate gantung

Selain backwash, di samping kanan kiri, berjarak 5 cm dari tepi kolam, dipasang dua buah pipa PVC berdiameter 5 cm yang menyemburkan air 200 l per menit. Pipa yang tingginya sejajar permukaan kolam itu merupakan waterflow-aliran air-dan sekaligus berfungsi sebagai pembersih. Ia mendorong kotoran di permukaan kolam menuju pipa PVC berukuran sama di seberangnya.

Yang menarik pada kolam dengan ketebalan beton 14 cm itu adalah sistem filterisasinya yang sederhana dan efisien. Kolam berkapasitas 45 ton air itu memiliki sistem filterisasi berkapasitas ‘hanya’ 30% dari total air kolam. ‘Idealnya kapasitas filter 50% dari kapasitas kolam. Namun, 30% cukup asalkan penguraian amoniak dalam filter bisa maksimal,’ ujar Suwira Susanto, sang konsultan pembuatan kolam.

Kolam itu tidak menggunakan sistem vorteks. Air kolam langsung dialirkan menuju chambers-ruang filter-pertama berisi filter mekanik brush. ‘Fungsi vorteks diambilalih cekungan di dasar kolam yang memerangkap dan mengendapkan kotoran,’ kata Suwira. Dalam chambers segiempat itu terdapat 20 sikat bulat yang disusun dalam 2 baris berjarak 10 cm. Fungsinya untuk menangkap dan mengendapkan kotoran berukuran besar.

Sekat antar-chambers dibuat setengah tinggi filter yang berkedalaman 1,5 m. Oleh karena itu air mengalir stabil dan langsung menabrak mate-filter biologis yang bekerja seperti keset-gantung dalam chambers kedua sampai keenam. mate mengendapkan kotoran yang lewat tanpa menyumbat pori filter dan sekaligus media tempat hidup bakteri pengurai nitrit dan amoniak. Pada setiap chambers, terdapat dua mate gantung berjarak 20 cm satu sama lain.

‘Sistem mate gantung seperti ini jauh lebih efisien dibanding mate bersusun,’ ujar pemilik Kohaku Sandan Project itu. Selain lebih irit-lima chambers hanya perlu 10 lembar mate ukuran 1 m x 1,3 m; mate susun butuh hingga 20 lembar-mate gantung lebih mudah dibersihkan ketimbang mate susun.

Di ruang filter terakhir alias keenam, terdapat 2 buah lampu UV berdaya 8 watt yang dipasang sejauh 20 cm dari mate gantung terakhir. Lampu UV berfungsi untuk membunuh bakteri patogen yang membahayakan kesehatan ikan. Di sinilah racun nitrit dan amoniak akan terbuang.

Trickle

Air dari filter langsung mengalir menuju trickle, berupa air terjun sepanjang 1,7 m, yang berada tepat di tengah-tengah dinding kolam. Tinggi air terjun 70 cm dari permukaan air. Di dalam trickle terdapat 3 susun bacteria house sebagai filter nitrit terakhir sebelum air kembali ke kolam. Sementara air terjun menyebabkan gesekan dengan udara sehingga menambah oksigen terlarut. ‘Selain bebas amonia, jumlah oksigen terlarut menjadi lebih tinggi,’ ujar Suwira.

Namun, pasokan oksigen sejatinya dipercayakan pada oleh aerator berkekuatan 120 watt. Aerator ini terus-menerus memompa udara melalui airhose-selang udara-melingkar berdiameter 70 cm yang diletakkan melintang di tengah-tengah cekungan backwash. Lantaran sistem pembersih serba otomatis, Dwi Daryoto hanya perlu membersihkan filter 2 minggu sekali secara bergantian.

Maksudnya, bila minggu pertama yang dibersihkan filter di chambers ganjil, maka minggu berikutnya giliran mate chambers genap. Cara membersihkannya pun mudah. Air di dasar chambers dibersihkan dengan membuka saluran backwash filter secara manual. mate cukup diangkat dan disiram air di luar chambers. Setelah bersih mate kembali dipasang. Prosesnya memakan waktu tak lebih dari 15 menit.

Suwira menyarankan meski kolam dilengkapi pembersih otomatis, kepadatan ikan tetap dijaga agar tampil dan tumbuh maksimal. ‘Idealnya 2 m2 dihuni satu ekor ikan berukuran 50-70 cm,’ kata Suwira. Selain ikan tak berdesak-desakan, kotoran terlarut dalam air pun terkendali. Toh, backwash otomatis hanya bersifat membantu hobiis yang tidak punya banyak waktu. (Andretha Helmina)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img