Friday, December 2, 2022

Konglomerat Kelas Dua

Rekomendasi

Enjat Suderajat menolak penempatan di Eropa dan memilih keluar dari perusahaan untuk banting setir menjadi petani. Kini ia meraup omzet Rp240-juta per bulan.

 

Hari mulai beranjak siang saat Enjat Suderajat meluncur ke sebuah kebun terung ungu Solanum melongena. Pagi itu di lahan seluas 1.000 m2 seorang petani mitra memanen 500 kg terung. Enjat, petani mentimun, paria, dan terung di lahan seluas 5 ha, memang bermitra dengan 21 petani.

Dikomandoi Enjat, 4 pekerja segera menaikkan sayuran buah kerabat cabai itu ke dalam mobil bak terbuka dan membawa ke rumah Enjat. Tak ada kerut letih di wajah pria 37 tahun itu, padahal 2 jam sebelumnya Enjat baru pulang dari kiosnya di Pasar Cikeusal, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Selang 12 jam, sayuran buah berwarna ungu yang sudah rapi dikemas itu meluncur ke pasar Cikeusal. Di sana, sekitar 200 pelanggan-yang kebanyakan pedagang di pasar induk Tangerang dan Jakarta-sudah menanti. Keesokan hari, terung-terung itu sudah dijajakan pedagang sayur keliling di Tangerang dan Jakarta.

Enjat bukan bertani komoditas “emas” seperti bawang merah, cabai, maupun tomat. Ia justru menanam sayuran kelas 2 yang kerap dipandang sebelah mata: mentimun, paria, dan terung. Semula banyak tetangga yang menganggapnya aneh. “Sudah enak-enak di Jakarta malah pulang kampung dan bertani,” kata Enjat menirukan ucapan para tetangga. Toh, pria yang sempat merantau ke Jakarta selama 5 tahun itu kukuh dengan tekadnya. Anak pertama dari 2 bersaudara itu memilih mentimun, paria, dan terung karena masa tanamnya singkat, 30-35 hari. “Supaya bisa mendapat uang setiap awal bulan seperti pegawai kantoran,” kata Enjat.

Petani pedagang

Perhitungannya tepat. Ia sukses menjungkirbalikkan pandangan orang. Dari 5 ha lahan di tepi Sungai Cipari, Desa Sukarame, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, pengurus Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Serang itu rutin memanen 3-10 ton per hari atau 150-250 ton per bulan mentimun, paria, dan terung. Dengan harga jual rata-rata Rp1.500 per kg, omzet Enjat mencapai Rp8-juta per hari atau Rp240-juta per bulan. Dalam setahun Enjat hanya libur pada Idul Fitri dan Idul Adha, masing-masing seminggu.

Selain bertani, ayah 2 anak itu juga menjadi pedagang besar sayuran di pasar Cikeusal. Setiap malam pada pukul 23.00 atau 00.00 ia membawa sayuran hasil panen dari kebun tadi siang ke pasar. Di pasar anak buahnya sudah menunggu dan langsung menyortir sayuran berdasarkan ukuran, bentuk, dan kemulusan menjadi 2 tingkatan: prima dan super; sisanya, apkir. Kualitas prima jika berjumlah 12-14 buah per kg, mulus, dan lurus; super, jika berjumlah 9-11 buah per kg, lurus, dan mulus. Pada pukul 01.00-02.00 sayuran-sayuran itu sudah berpindah tangan ke pedagang lain.

Dari usaha sebagai pedagang ketua Asosiasi Petani Sayuran Kabupaten Serang mendapatkan omzet tambahan hingga Rp10-juta per hari. Pantas jika Enjat mampu memperluas penanaman dari semula 5.000 m2 di lahan sewa menjadi 5 ha milik sendiri. Itu belum termasuk lahan garapan yang ia sewa per tahun. “Lebih baik uang keuntungan dipakai untuk memperluas lahan atau memborong hasil panen,” tutur pria yang di garasi rumahnya terparkir 1 unit minibus terbaru buatan Jepang itu.

Hampir ke Spanyol

Kalau saja Enjat menerima tawaran untuk mutasi ke Spanyol di sebuah perusahaan ekspor-impor, nasibnya mungkin berbeda. Di perusahaan itu Enjat yang bercita-cita menjadi tentara justru merintis karier dari office boy. Kariernya bersinar bak bintang kejora: dalam 5 tahun mencapai jabatan penyelia. Pemimpin perusahaan mempromosikan Enjat ke jabatan yang lebih tinggi dengan mengirimnya ke Spanyol selama 3 bulan. Enjat menolak karena tak mau jauh dari keluarga. Ia memilih berhenti bekerja dan pulang ke kampung halaman di Serang.

Bermodal tabungan selama bekerja, Enjat membuka toko kelontong di Kampung Bangkong, Desa Sukarame, Kecamatan Cikeusal. Lantaran desa tempat tinggalnya jauh dari pasar, banyak pembeli menyarankan toko itu juga menyediakan sayuran segar. Pria yang besar di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan itu sigap menyambar peluang. Sebelum subuh, ia berbelanja sayuran ke pasar Cikeusal berjarak 10 km atau setengah jam berkendaraan dari kampungnya untuk mengisi toko. Apa lacur, sayuran habis sebelum sampai ke toko karena dibeli konsumen yang mencegat di perjalanan pulang.

Ia lantas membulatkan tekad untuk bertani. Pria kelahiran 1975 yang miskin ilmu pertanian itu belajar cara budidaya dengan nongkrong di toko sarana produksi pertanian di dekat pasar Rau, Kota Serang, setiap hari. Selama hampir 2 bulan, ia mempelajari teknik budidaya, cara pemilihan komoditas, pemupukan, mengatasi hama penyakit lewat melihat, mendengar, dan mengobrol dengan pembeli, penyuluh pertanian, dan penjual di toko itu.

Kegigihan Enjat membuat seorang penyuluh lapangan sebuah perusahaan benih swasta tertarik untuk menjadi pendamping. Pada 2002, di tanah sewaan seluas 5.000 m2, Enjat menanam cabai merah. Selang 3 bulan, saat ia panen 5 ton, harga malah jatuh. Ia lalu melirik mentimun, paria, dan terung yang harganya relatif stabil dan masa tanam singkat. Sekali lagi pilihannya terbukti tepat. Pada Idul Fitri lalu, harga timun memecahkan rekor: Rp3.500-Rp5.500 di tingkat pekebun. Biasanya paling tinggi hanya Rp2.500. Dari panen 50 ton, omzet lebih dari Rp200-juta mengalir ke sakunya.

Posisi strategis

Sekali memilih, Enjat seratus persen serius. Cikeusal bukan tanah yang ramah buat petani. Kondisi tanah Cikeusal gersang, sulit air, dan mempunyai lapisan permukaan yang tipis. “Tanaman bisa tumbuh saja sudah bagus,” kata Amin Rusmin, seorang petani tanaman pangan di Cikeusal. Enjat mengatasi kendala itu dengan membenamkan 14 ton pupuk kandang per ha sebagai pembenah tanah. Ia melakukannya 2 kali setahun, pada akhir kemarau dan akhir penghujan. Setiap permulaan masa tanam, ia membenamkan lagi pupuk TSP dan NPK masing-masing sebanyak 1.500 kg. Itu belum termasuk pupuk organik cair yang ia semprotkan ke tajuk dan daun per 7-10 hari.

Cikeusal sejatinya tidak benar-benar kesulitan air. Masalahnya, letak air lebih rendah ketimbang lahan sehingga perlu biaya untuk mengalirkan ke lahan. Petugas Penyuluh Lapang Kecamatan Cikeusal, Sutisna, mengajak petani-termasuk Enjat-bergotong-royong membeli mesin pompa air untuk mengairi lahan saat kemarau.

Menurut Sutisna, posisi Cikeusal di Kabupaten Serang yang berada dalam akses tol Jakarta-Merak menguntungkan karena pasar-pasar besar Jakarta yang menjadi pasar potensial bisa dicapai dalam beberapa jam saja. “Asalkan bisa menghasilkan barang berkualitas pasti laku,” kata peraih Penghargaan Penyuluh Terbaik pada 2007 itu.

Itu rupanya yang diyakini benar oleh Enjat. Ia mengombinasikan teknik budidaya yang baik dengan kemampuan membaca pasar. Genap 10 tahun sejak meninggalkan kerja kantoran, “karier” Enjat lagi-lagi bersinar. Pada 2010 ia menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Petani Terbaik Nasional. Dari sayuran kelas dua Enjat jadi konglomerat. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Mentimun, terung, dan paria dianggap komoditas kelas dua
  2. Enjat Suderajat merevolusi pertanian di Cikeusal
  3. Penyumbang omzet Enjat antara lain terung
  4. Tanah Cikeusal dianggap tidak ramah bagi petani
Previous articleSehat Itu Gaya Hidup
Next articleCeruk Son dan Cung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img