Tuesday, November 29, 2022

Kontes Akbar Tanaman Hias di 3 Kota

Rekomendasi

Kontes di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu memang belum sesemarak perhelatan serupa di Jawa. Pada Juli 2007, di Wonogiri berlangsung kontes anthurium yang disebut-sebut sebagai lomba terbesar. Kontes di Kota Jamu itu diikuti lebih dari 100 peserta dari berbagai daerah seperti Jakarta, Madiun, Malang, Yogyakarta, Wonosobo, dan Karanganyar. Namun, antusiasme peserta lomba dan pengunjung di Medan tidak kalah. Areal kontes seluas 40 m2 dipenuhi pengunjung. ‘Anthurium di Medan sedang tren, sehingga peminat lomba banyak,’ kata drh Dewi Naike Nainggolan, panitia lomba sekaligus staf Dinas Pertanian Kota Medan, menjelaskan antusiasme peserta dan pengunjung.

Penjurian dilakukan dalam 2 tahap. Pertama, ketiga juri: Debora Herlina, Hj Nismayati Lubis, dan Rosy Nur Apriyanti, bermusyawarah untuk memilih 10 nomine. Barulah selanjutnya masing-masing nomine dinilai lebih detail oleh setiap juri. Setelah melalui proses penilaian ketat, akhirnya wave of love variegata kuning koleksi Alemina BR Sebayang, SE, menjadi juara pertama. ‘Secara keseluruhan penampilannya istimewa,’ ujar Debora Herlina, juri dari Bogor. Daun mulus nyaris tanpa cacat. Daunnya yang variegata terlihat harmonis dengan pot warna kuning.

Sang juara memaksa black beauty pesaing terdekat menduduki posisi 2. Posisi 3, harapan 1, 2, dan 3 masing-masing diraih oleh hookeri tanduk, hookeri, jenmanii sweet merapi dan jenmanii king cobra. Lima dari 6 pemenang merupakan koleksi Alemia, pemilik nurseri Aldo di Padangbulan. Sementara juara harapan ke-2 milik Vommy.

Kualitas prima

Sepuluh hari berselang, anthurium kembali membuat gebrakan. Pada ajang lomba tanaman hias Flora Fauna Jakarta 2007 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 50 Anthurium jenmanii dan 43 anthurium nonjenmanii beradu molek. Penampilan peserta yang prima membuat pengunjung sudah mulai memenuhi arena kontes sejak pukul 10.00 WIB.

Sama seperti lomba di Medan, juri pada kontes yang diselenggarakan oleh panitia bekerja sama dengan Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) itu memilih 10 nomine. Persaingan berlangsung sangat ketat. Maklum, ‘Kualitas peserta sama rata dan semuanya bagus,’ ujar Nurdi Basuki, salah satu juri. Debora Herlina yang juga menjadi juri di Medan menilai kualitas peserta di Jakarta lebih baik.

Tepat pukul 17.00 WIB, juri sepakat menobatkan jenmanii centong koleksi Anugerah Firmanto dari Tangerang sebagai yang terbaik di kelas jenmanii. Sosok tanaman kompak dan utuh mulai dari daun bawah. Tanaman sehat dan tidak ada satu daun pun yang cacat. Anthurium berdaun hijau tipis tapi keras ciri jenmanii centong menurut sang empunya itu dirawat Firmanto sejak 8 bulan silam. Posisi kedua diraih jenmanii kobra milik Paril di Bogor dan jenmanii compact pagoda koleksi Achmad Mujaddid di Tangerang di tempat ketiga.

Di kategori nonjemanii, juara pertama diraih hookeri variegata koleksi nurseri Roemah Daun. Sementara anthurium silangan keris milik H Wahyu di posisi ke-2 dan ruffl e koleksi Mumu di tempat ke-3. Pada waktu yang hampir sama, Anthurium jenmanii hibrida koleksi Nur Salim, jenmanii milik Jumali dari Kediri, dan sirih milik Agung Marjono di Blitar menjadi pemenang ke-1, 2, dan 3 di kontes di Lapangan Rejoagung, Tulungagung.

Aglaonema

Meski anthurium tengah jadi pusat perhatian, kontes di Medan, Jakarta, dan Tulungagung, tetap menampilkan lomba aglaonema, primadona tanaman hias daun selama ini. Di Medan, kontes aglaonema digelar sehari sebelum anthurium. Kontes sri rejeki itu terbagi dalam 2 kategori: merah dan nonmerah yang masing-masing diikuti 31 peserta dan 11 peserta.

Hasilnya, big mama koleksi H Aleng meraih posisi jawara pada kategori aglaonema merah. ‘Tanaman sempurna dan utuh,’ kata Herlina, juri sekaligus periset Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung, Cianjur. Sosok tanaman pun kokoh. Posisi runner up diraih siam aurora milik Yudah. ‘Penampilannya kurang kompak dibandingkan yang pertama,’ ujar Hj Nismayati Lubis, juri dari Medan, menjelaskan kekurangan juara ke-2. Tempat ketiga diraih lipstik tropical koleksi Vommy, harapan ke-1 hingga ke-3 direbut lipstik milik Danil, claudia koleksi Besley Hamonangan, dan aglaonema hibrida milik Yudah.

Untuk kategori aglaonema nonmerah, posisi puncak direbut oleh snow white milik Nani Taufik. Tanaman rimbun, kompak, dan sehat yang terlihat dari warna daun mengkilap. Juara kedua, compact green koleksi Lisa; ketiga, snow white koleksi Khairani. Sementara white legacy milik H Aleng, sun sun koleksi Mariani Nasution, dan aglaonema hibrida milik Besley masing-masing meraih juara harapan ke-1 hingga ke-3.

Sementara di Lapangan Banteng, srikandi milik Indri G. Hambali dari Bogor jadi jawara aglaonema merah. Disusul legacy koleksi Songgo Tjahaja di Jakarta dan rindu milik Harry Setiawan, Jakarta. Jawara aglaonema nonmerah diraih costatum koleksi Harry Setiawan. Sedangkan snow white milik Anugerah Firmanto dan costatum koleksi Agung dari Temanggung, Jawa Tengah, di posisi ke-2 dan ke-3.

Di Tulungagung, jawara kategori aglaonema majemuk jatuh pada butterfly koleksi Yohan Ardinawan di Kediri. Snow white milik Mustofa, Ponorogo, dan hibrida cochine yang juga koleksi Yohan di tempat ke-2 dan ke-3. Di kategori tunggal, hibrida cochine koleksi Yohan berhasil jadi juara pertama. Sementara hibrida cochine dan dud unyamanee milik P Koko harus puas di posisi ke-2 dan ke-3.

Komoditas lain

Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kontes di Lapangan Banteng juga menampilkan lomba paku-pakuan, Cycadaceae, palem-paleman, dracaena, dan adenium. Pemenang di kategori paku-pakuan, asplenium nidus kristata koleksi Heri Syaefudin, Depok, sebagai juara ke-2 dan asplenium nidus philipines milik Usman Suhendar, Bogor, juara ke-3. Pada kategori paku-pakuan tidak ada juara pertama lantaran hanya diikuti 6 peserta. Di kategori Cycadaceae, Encephalartos arenariu dan Zamia fumiela koleksi nurseri Oasis Sentul, Bogor, raih posisi ke-1 dan ke-2. Sementara Zamia furfuraceae milik Jaja Nurjalal, Bogor, di tempat ke-3.

Gronophyllum labelatum dan Chamaerops humilis koleksi nurseri Oasis Sentul meraih juara ke-1 dan ke-3 di kategori palem-paleman. Licuala mafu milik Indri G. Hambali di posisi ke-2. Kategori dracaena dimenangkan surculosa koleksi nurseri Hara, disusul jack hanii dan massangena variegata milik nurseri Kreatif Flora di tempat ke-2 dan ke-3.

Lomba adenium yang diselenggarakan Himpunan Petani dan Pecinta Adenium (HPPA) terbagi dalam 4 kategori: bonsai, arabicum, unik, dan bunga kompak. Yang disebut pertama itu dimenangkan oleh adenium milik Istana Alam sebagai juara ke-1. Disusul mawar gurun koleksi Pudji Hasti dan Eddy Sebayang di posisi ke-2 dan ke-3.

Arabicum milik Istana Alam meraih juara ke-1 dan ke-3, sedangkan koleksi Angguan di tempat ke-3. Jawara di kategori unik dimenangkan oleh Aldo Green Garden. Juara ke-2 dan ke-3 masing-masing diperoleh adenium milik Tan Tek San dan Nizam Z. Khafid Di kategori bunga kompak, adenium koleksi Eddy Hendra sebagai yang terbaik. Sementara anggota Apocynaceae milik Nurcholis dan Fajar di tempat ke-2 dan ke-3.

Kontes tanaman hias di Tulungagung, Jawa Timur, juga menggelar lomba caladium dan sansevieria. Caladium daun ganda koleksi Yohan meraih juara ke-1 dan ke-2. Sementara posisi ke-3 jatuh pada humboldtii milik Mustofa. Di kontes sansevieria, lidah mertua koleksi Jeng Sherly dinobatkan sebagai yang terbaik. Disusul kirkii var pulchra milik Wahyu dari Kediri dan sansevieria koleksi Sony, Blitar. Itulah kontes akbar tanaman hias yang berlangsung di 3 kota pada bulan kemerdekaan. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Nesia Artdiyasa dan Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img