Sunday, August 14, 2022

Kontes Keprok Nasional 2005 Kembalinya Kejayaan Jeruk Pegunungan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ia tak tahu bahwa itu jeruk juara. Warna kuning yang menggoda dan manis lengket di lidah, mengukuhkan keprok itu jadi jawara nasional. Tak pelak satu keranjang berisi 4 kg batu 55 diboyong Anton.

Tak hanya Anton yang menyukai jeruk dinar—sebutan keprok punten di Tawangmangu—Drs Imam Kabul, MSi, MHum, Walikota Batu pun mengagumi kelezatan sang juara. “Ia memang pantas jadi juara keprok,” komentar Hardiyanto, salah satu juri. Saat buah dibelah dan dicicipi, lidah langsung mancecap rasa manis dan juici-nya jeruk itu.

Keprok batu 55 yang berlaga di Tlekung, Batu, Malang itu berasal dari kebun Sutjipto Gunawan, di Desa Giri Purna, Batu, Malang. Lahan di ketinggian 800 m dpl dengan luasan 30 ha menjadi saksi bisu bangkitnya batu 55. Cipto—panggilan akrab Sutjipto— menanamnya secara intensif dengan jarak tanam 4 m x 4 m. Sudah 10 tahun ini ia mengembangkan batu 55.

“Sebelum lomba tidak ada perlaku khusus. Kulitnya mengkilap tidak digosok atau dililin, memang dari sananya begitu,” ujar Cipto. Jeruk cukup dicuci, maka muncullah kilapnya. Saat dibelah, tampak daging buah berwarna jingga kekuningan. Ukuran buah yang besar dan berbiji sedikit, menambah rasa puas ketika dinikmati. Mengupasnya juga mudah. Kondisi itulah yang mengantarkannya ke puncak juara.

Dewan juri yang terdiri dari Martinus Sugiyarto, Widodo R, Slamet Susanto, dan Hardiyanto sepakat memutuskan keprok batu 55 sebagai pemenang. Keprok yang hampir punah itu kini kembali ke masa jayanya kota Apel.

Mandarin conmune

Menaiki tangga juara, keprok punten bersaing ketat dengan mandarin conmune, juga milik Cipto. Batu 55 tingkat kemanisannya mencapai 14º briks, mandarin conmune hampir 14º briks. Dibanding batu 55, warna conmune lebih oranye, penampilannya setara dengan buah mandarin impor.

Awalnya Cipto tak berencana mengikutsertakannya ke lomba. Ketika penjurian hampir dimulai, Cipto langsung melaju ke kebunnya. Di sana pilihannya tertuju pada keprok mandarin conmune dibanding jenis keprok lain. Warna oranye mulus menyala dengan ukuran seragam. Saat itu juga setelah dicuci mandarin conmune dibawa. Ternyata pilihan Cipto tak salah. Mandarin conmune terpilih sebagai juara kedua. Nilainya beda tipis dengan sang juara.

Cipto hanya memiliki 10 pohon conmune. Produksinya baru 10—15 kg/pohon. Itu masih buah pertama sejak ditanam 3 tahun lalu. Namun, pria penggemar musik country itu akan mengembangkannya. Sudah ada lahan seluas 10 ha di Oro Ombo, Batu. Malang, siap menyambut kehadiran conmune dan beberapa keprok lainnya, termasuk batu 55.

Keprok soe

Menurut Arry Supriyanto, kepala Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik, juri berdebat seru saat memilih juara ketiga. Penjurian yang dimulai pukul 10.00 harus berakhir sampai pukul 15.00. Akhirnya mereka sepakat, keprok soe dari Kupang, NTT menduduki peringkat ke-3.

Andalan Indonesia Timur itu kulit buahnya oranye dengan semburat hijau. Cita rasa agak asam, tapi segar. Tingkat kemanisannya kurang dari 14º briks dan kulit buah agak lengket hingga susah dikupas. “Lengket, mungkin karena buahnya kering. Dari bentuk memang besar tapi kropos,” ujar Martinus. Kondisi itu membuat soe harus mengakui keunggulan batu 55 dan mandarin conmune.

Tak hanya ketiga keprok itu yang layak menyandang juara. Keprok siompu dan pulung pun meraih gelar. “Awalnya kami tidak menyiapkan juara harapan. Tapi, sebagai apresiasi terhadap kreasi peserta yang benar-benar menarik, diadakanlah gelar itu,” kata Arry Supriyanto. Diumumkanlah keprok siompu dari Sulawesi Tenggara sebagai harapan 1.

Harapan 2 diraih keprok pulung milik Tajib, asal Ponorogo. Mereka dinilai cukup kreatif dalam manyajikan keproknya. Secara keseluruhan peserta yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia menampilkan jeruk unggulan daerahnya. Tercatat 22 jeruk keprok berlaga di kontes itu.

Selain kontes keprok, pada acara Techno Expo Hortikultura 2005 diadakan Lomba Pamelo Terbesar dan Penyaji Buah Pamelo. Cara penjuriannya dengan menaruh pamelo ke dalam ember berisi air penuh. Sisa air yang tersedikitlah yang menang. Pemenangnya tak lain pamelo Sambas dari Kalimantan Barat. Bobot lebih dari 5 kg membuatnya jadi pemenang. Lomba itu sangat menarik perhatian pengunjung yang ikut menyaksikan penjurian. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img