Thursday, July 25, 2024

Koperasi Iska Bekai di Merauke Bangun Kebun Sawit Rakyat Bertahap

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Koperasi Iska Bekai secara bertahap mulai membangun perkebunan kelapa sawit berbasis masyarakat. Langkah itu merupakan upaya untuk mewujudkan perkebunan sawit rakyat di lahan seluas  5.657,33 hektare (ha). 

Pada tahap awal pembangunan Badan usaha yang terletak di Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, itu  memfokuskan pada pembangunan sawit  pada area seluas 1.000 ha di Kampung Salam Epe dan Nakias, Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. 

Koperasi yang berdiri pada 13 Februari 2016 itu telah menjadi koperasi mandiri sejak mendapatkan arahan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Merauke dan dukungan pemangku kepentingan, untuk berupaya mempercepat kemandirian.  Dukungan juga datang dari  PT Tritama Lestari sebagai pendamping.  

Kini Koperasi Iska Bekai mengelola manajemen koperasi mandiri, termasuk tenaga kerja dan keuangan.  Ketua Koperasi Serba Usaha Iska Bekai, Abraham E. Yolmen, menghaturkan apresiasi pada Bupati Merauke dan masyarakat, khususnya 17 marga yang memberikan dukungan termasuk masyarakat empat kampung dari Salam Epe, Nakias, Taga Epe, dan Ihalik. 

“Koperasi mandiri ini merupakan kebanggaan masyarakat Merauke dan Papua serta diharapkan menjadi percontohan bagi koperasi mandiri sawit di daerah lain,” ujar Abraham E. Yolmen di kutip pada siaran pers. 

Pembukaan lahan itu telah melewati berbagai proses sosialisasi dan persetujuan masyarakat, perijinan,  survei teknikal, termasuk IPL/IPK, timber cruising, analisis spasial (Geographic Information System), serta penunjukan kontraktor. 

Setelah pembukaan lahan, tahap selanjunya pembibitan dan penanaman hingga akhirnya memasuki tahap pemanenan. Koperasi Iska Bekai berpacu pada  standar pembangunan sawit berkelanjutan (sustainability) dan tata kelola yang baik (good governance)

“Koperasi Iska Bekai telah sesuai dengan regulasi pemerintah yaitu Permen Pertanian Nomor 18 Tahun 2021 tentang Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar dan ketentuan alokasi 20 persen untuk masyarakat,” ujar pejabat perwakilan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Meriana S.Sp. 

Kepala Bidang Perencanaan dari Dinas Kehutanan Provinsi Papua Selatan, Yeri Reba menuturkan bahwa  lahan yang akan digunakan untuk  pembukaan kebun sawit memang sudah sesuai peruntukannya, bukan merupakan kawasan hutan. Ia menuturkan koperasi telah membayar iuran sesuai dengan ketentuan yaitu iuran PSDH-DR (Provisi Sumber Daya Hutan–Dana Reboisasi). 

Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Merauke, Miftakhul Azizah, menuturkan bahwa koperasi Iska Bekai dapat mewujudkan manfaat koperasi untuk masyarakat sekitar khususnya untuk masyarakat 17 marga di empat kampung yang menjadi anggota koperasi. 

Iswanto S.sos, M.si., dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Merauke mengucapkan selamat akan dilaksanakannya pembukaan lahan untuk kebun sawit oleh Koperasi Iska Beka. Ia  berharap agar manajemen perkebunan yang kelolaan koperasi dilakukan secara transparan. 

Perwakilan Tokoh Masyarakat, Benony Samma, berharap supaya  koperasi dikelola dengan baik. Sehingga  mampu meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Koperasi Iska Bekai merupakan aset masyarakat Merauke yang perlu dijaga bersama dan dapat menjadi inspirasi percontohan bagi daerah lain dalam pengelolaan perkebunan sawit melalui koperasi,” ujarnya. 

Edward Ginting, dari PT Tritama Lestari, selaku pendamping koperasi Iska Bekai menambahkan bahwa koperasi berkomitmen pada standar pembangunan kebun kelapa sawit berkelanjutan. 

Misalnya melestarikan hutan bernilai konservasi tinggi atau Nilai Konservasi Tinggi (NKT) melalui perlindungan seperti area keramat, sepadan sungai, daerah rawa atau lahan basah, mata air dan sumber kehidupan penting bagi masyarakat.

“Serta penerapan proses persetujuan bebas didahulukan dan tanpa paksaan atau FPIC (Free, Prior, and Informed Consent). Semua proses pengambilan dilakukan melalui sosialisasi dan persetujuan anggota koperasi, ketua marga, kepala kampung, dan ketua adat, serta pemerintah setempat,” tambah Edward Ginting. 

Acara konferensi pers juga dihadiri Pastor Hendrikus Kariwor M.sc. dari Keuskupan Merauke, Roni Paulus Wigo, Kepala Kampung Salam Epe; Samuel Blamen, Kepala Kampung Nakias, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kelapa Genjah Merah Bali, Eksotis dan Produktif

Trubus.id—Kelapa genjah merah bali merupakan kelapa baru yang eksotis dan produktif. Secara umum berbunga pada umur 2—2,5 tahun dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img