Selama bertahun-tahun, Mbah Paiman terjebak dalam “perang” yang mustahil dimenangi: melawan insting lapar gajah sumatra. Lima kali ia mencoba menanam sawit di koridor satwa Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), lima kali pula ia memanen puing-puing batang yang hancur dalam semalam. Namun di lokasi ini, sebuah titik balik muncul. Bukan dengan pagar listrik atau parit raksasa, melainkan melalui rimbunnya kopi robusta yang bibitnya ia “jemput” dari Jangkat Timur, Merangin.
Siapa sangka, tanaman yang awalnya hanya diniatkan sebagai pagar pelindung ini justru menjelma menjadi “emas hitam”. Di saat sawit monokulturnya “berdarah-darah” dihantam konflik satwa, Kebun Robusta D’Lima milik Mbah Paiman justru melesat dengan pendapatan Rp15 juta per dua bulan dari hanya sekitar 500 batang kopi—hampir empat kali lipat dari hasil dua hektare sawitnya. Inilah potret nyata keberhasilan Strategi Jangka Benah (SJB) yang dikelola dengan pendampingan, sebuah model transisi cerdas di mana agroforestri mengubah jalur konflik gajah menjadi jalur distribusi kopi bernilai tinggi.
Ini merupakan sedikit potret nyata keberhasilan SJB. Transformasi ini tidak hanya terjadi karena ketekunan di lapangan, tetapi juga berkat kuatnya pijakan legal melalui program Perhutanan Sosial. Lahan Mbah Paiman termasuk dalam skema Kemitraan Kehutanan antara Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Bukit Sejahtera dengan PT Alam Bukit Tiga Puluh (ABT), masyarakat mendapat kepastian hak kelola. Kemitraan strategis inilah yang menjadi fondasi rasa aman bagi petani untuk berinovasi mengubah jalur konflik satwa menjadi sabuk ekonomi bernilai tinggi.
Jangka Benah: Memanfaatkan Naungan “Keterlanjuran”
SJB di Kebun Robusta D’Lima bukan sekadar mengganti komoditas, melainkan melakukan reboot tata kelola hutan di tingkat tapak. Secara teknis, SJB di sini dilakukan dengan cara yang unik: memanfaatkan tutupan sawit yang sudah terlanjur ada sebagai naungan utama bagi kopi.

Sembari menata kembali fungsi hutan, petani mulai menyisipkan tanaman kayu, buah, dan hortikultura seperti medang, dadap, alpukat, dan jengkol. Hal ini bertujuan mengembalikan ekosistem “masa lalu” hutan tanpa memutus urat nadi ekonomi petani. Dengan pola agroforestri, SJB memberikan kepastian bahwa investasi pada kopi dan tanaman hutan aman dari jerat regulasi.
Selain itu, Mbah Paiman dan beberapa anggota sekitarnya memulai untuk menanam tanaman semusim sebagai “penopang” kebutuhan harian dan bulanan. Misal tanaman horti maupun tanaman yang bersifat “menumpang” seperti vanili, lada, ataupun kemiri.
Observasi Lapangan: Kopi Sebagai Benteng Ekosistem
Dalam kunjungan lapangan ke Kebun D’Lima, terlihat jelas bagaimana pola agroforestri bekerja sebagai benteng alami (bio fence). Kopi robusta klon Jangkat Timur dipilih karena daya adaptasinya yang luar biasa pada kondisi naungan (shade-grown coffee).
Data Teknis dan Spesifikasi Agroforestri Kebun D’Lima:
- Populasi Terukur. Berbeda dengan kebun kopi konvensional yang kerap mencapai 900—1.000 batang/ha, di sini populasi diatur lebih renggang, yakni sekitar 400—600 batang per hektare (rata-rata 500 batang/ha). Hal ini disesuaikan dengan ketersediaan ruang di sela-sela naungan sawit dan pohon kayu.
- Sistem Naungan Berlapis. Kopi tumbuh subur di bawah tajuk batang sawit yang dikombinasikan dengan pohon hutan. Struktur ini perlahan mengembalikan fungsi hidrologis dan mikroklimat hutan.
- Pertanian Rendah Input (Low Input). Plot ini hampir tidak menyentuh pupuk kimia. Nutrisi tanaman sepenuhnya mengandalkan siklus hara alami dari serasah hutan, pelepah sawit, dan pelapukan biomassa tanaman penaung.
- Resiliensi Satwa. Aroma dan karakteristik tanaman kopi cenderung dihindari oleh gajah. Hal ini menjadikan kebun kopi sebagai sabuk pengaman bagi tanaman produktif lainnya di dalam plot.
Transformasi Menuju Fine Robusta
Keberhasilan ini tak lepas dari peran Yayasan Etalase sebagai pendamping. Lebih dari sekadar budidaya, petani diedukasi untuk mengubah kopi “kelas pagar” menjadi produk fine robusta (sebutan khusus untuk robusta kualitas spesialti). Melalui teknik petik merah dan proses “perambangan” (merendam biji untuk membuang yang hampa), serta penerapan metode honey dan full wash, kopi dari wilayah konflik ini kini memiliki profil rasa yang bersih dengan aroma alami vanili.

Saat ini, klasifikasi kualitas yang dilakukan hingga menghasilkan fine robusta diawali dan diprioritaskan untuk diolah dan dinikmati oleh Mbah Paiman dan masyarakat sekitar. Hingga seiring proses perjalanan, beberapa permintaan di luar desa menjadikan dorongan untuk menambah kuantitas dari kualitas fine robusta dalam 2 tahun terakhir.
Analisis Ekonomi: Kejutan Angka jangka benah kopi
Berikut adalah perbandingan ekonomi riil berdasarkan hasil observasi lapangan:
| Indikator | Plot Sawit Monokultur | Plot Jangka Benah Kopi |
| Luas Lahan | 360 Batang | 500 batang |
| Pendapatan (2 Bulan) | Rp4.000.000 | Rp15.000.000 |
| Biaya Input | Tinggi (Pupuk Kimia) | Hampir Rp. 0 (Siklus Alami) |
| Nilai Tambah | TBS Mentah (Tengkulak) | Fine Robusta (KUPS Premium) |
| Risiko Satwa | Sangat Tinggi (Rusak/Mati) | Sangat Rendah (Ramah Gajah) |
Membaca Masa Depan di Sela Rimbun Kopi
Kisah Kebun D’Lima adalah bukti otentik bahwa SJB merupakan jalan tengah paling rasional untuk mengurai benang kusut keterlanjuran sawit di kawasan hutan. Kita belajar bahwa “membaca luka alam” di jantung Bukit Tiga Puluh tidak harus berakhir dengan penggusuran, melainkan dengan transformasi yang selaras.

Dengan sinergi kelembagaan dan kemauan petani untuk menjadi “petani pembelajar”, hutan kembali pada fungsinya, gajah tetap memiliki jalurnya, dan dapur keluarga petani tetap mengepul dengan aroma harum kopi spesialti. Dan, tidak sedikit saat ini petani disekitar maupun di luar desa saat ini mulai belajar di D’Lima khususnya bersama Mbah Paiman. (Edi “Jhe” Apriyanto dari Yayasan Etalase Ekosistem Indonesia dan Dodi Frianto dari Balai Perhutanan Sosial Kampar- Sekwil II Jambi)
