Sunday, August 14, 2022

Kopi Walet Dongkrak Stamina

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kopi walet kreasi Ruslan Sangadji. (Dok. Trubus)

Kopi berpadu sarang walet meningkatkan stamina.

Trubus — Matahari terbenam di langit Kota Palu, Sulawesi Tengah. Namun, suasana masih riuh. Koloni walet berterbangan pulang ke gedung walet masing-masing setelah mencari pakan. Jika liur emas kembali ke sarangnya, petang hari adalah waktu bagi penggemar kopi di Kota Palu, Muhammad Izfaldi berkunjung ke kafe menikmati secangkir kopi. Namun, bukan sembarang kopi, Izfaldi kerap memesan kopi dengan tambahan sarang burung walet.

“Rasanya menyegarkan, cocok sebagai minuman untuk relaksasi setelah penat bekerja,” kata Izfaldi. Di Kota Palu, Ruslan Sangadji, mengolah kopi dan burung walet menjadi menu utama di kafenya. Minuman itu sohor dengan sebutan kopi walet. Menurut Ruslan olahan sarang burung walet di tanah air masih jarang. Konsumsi sarang burung walet juga belum familiar bagi masyarakat Indonesia.

Rasa rempah

Ruslan menuturkan, “Sebelumnya sudah ada yang menggunakan jeli olahan sarang burung walet. Oleh karena itu, saya juga tertarik mengolah sarang burung walet.” Ia membuka kafe sejak Agustus 2019. Itu 11 bulan setelah peristiwa gempa dan likuefaksi yang megguncang Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. “Kopi walet memang menjadi menu utama sejak pertama membuka kafe,” kata pria asal Kota Ternate, Maluku Utara, itu.

Campuran sarang walet dan rempah bahan dasar kopi walet. (Dok. Trubus)

Pengusaha itu menjual secangkir kopi walet dengan harga ekonomis, hanya Rp15.000. Harga sarang walet di tingkat peternak mencapai Rp13 juta per kilogram. Menurut Ruslan dengan harga jual itu masih untung. Harap mafhum, Ruslan menggunakan sarang burung yang bukan berkualitas ekspor, sehingga harga terjangkau. Kota Palu dan Kabupaten Sigi, sentra anyar walet, sehingga pasokan sarang burung walet lebih dekat dan ekonomis (baca Trubus edisi Mei 2020 “Bumi Tadulako Sentra Baru” halaman 118—118).

Ruslan juga menambahkan aneka rempah antara lain kayu manis Cinnamomum verum dan kapulaga Amomum cardamomum pada kopi kreasinya. Tujuannya meningkatkan cita rasa kopi. Campuran sarang walet dan aneka rempah itu menghasilkan warna kemerahan. Kemudian Ruslan memindahkan 3—4 sendok makan campuran itu pada gelas dan menambahkan seduhan kopi. Jadilah kopi walet yang bercirata khas.

Saat Trubus mencicipi langsung kopi racikan Ruslan, cita rasa yang dihasilkan paduan antara segar, pahit, dan masam. Ruslan memanfaatkan kopi kalosi. Artinya campuran kopi robusta dan kopi arabika dengan perbandingan 1:1. Rasa segar berasal dari rempah, pahit dari kopi robusta, dan sensasi masam dari kopi arabika.

Stamina

Menurut Ruslan kopi walet kreasinya secara empiris bisa meningkatkan stamina. “Asal rutin mengonsumsi bisa untuk keperkasaan pria atau afrodisiak,” kata pria 45 tahun itu. Menurut pemilik gedung walet di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Basir Tanase, sarang burung walet memang berfaedah untuk meningkatkan stamina. Namun, Basir tidak mengonsumsi dalam bentuk kopi. Ia memasukan serpihan sarang pada wadah air minum dan menambahakan perasan jeruk.

Sarang di dekat sentra relatif ekonomis. (Dok. Trubus)

Kadang Basir juga menambahkan telur walet pada campuran itu. Hasilnya efektif meningkatkan stamina. Basir yang berumur setengah abad masih kuat melakukan lari pagi rutin 5—10 km setiap pekan. “Jika ingin merasakan faedah optimal sarang walet memang memerlukan dosis yang lebih banyak,” kata ayah 2 anak itu. Penambahan sarang walet pada kopi pasti berimbas pada harga jual produk yang mahal.

Di Tiongkok, konsumsi sarang walet memang sudah turun-temurun. Salah satunya sohor sebagai bahan makanan bayi. Riset dari staf Badan Karantina Pertanian, Dr. drh, Helmi, sarang walet kaya kandungan asam sialat. Kandungan asam sialat pada sarang walet asal Indonesia mencapai 11,6%. Kandungan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan air susu ibu (ASI) kolostrum yang hanya 0,6%.

Asam sialat berperan membangun gangliosida membran sel otak manusia. Oleh karena itu, Helmi menyarankan mengonsumsi sarang walet sejak kehamilan 2 bulan hingga bayi berumur 2 tahun. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img