Thursday, June 11, 2026

Kunci Sukses Budidaya Terong Jepang

Rekomendasi

Trubus.id—Parman berharap budidaya terong jepang yang ia jalankan mampu mendatangkan keuntungan. Namun, pekebun asal Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, itu justru mengalami kerugian akibat hasil panen yang rendah dan kualitas buah yang kurang optimal.

Parman menanam 5.000 tanaman nasu—sebutan terong jepang dalam bahasa Jepang—di lahan seluas 2.500 m². Idealnya, setiap tanaman mampu menghasilkan hingga 3 kg buah. Namun, hasil panen di kebun Parman bahkan tidak mencapai 1 kg per tanaman.

Selain produksi rendah, sebagian buah juga rusak akibat serangan hama dan penyakit. Permukaan buah banyak mengalami gejala “scab”, yakni bercak kasar dan mengeras pada kulit buah. Padahal perusahaan mitra hanya mentolerir scab pada ujung buah karena bagian itu akan dipotong sebelum dipasarkan.

Parman juga kesulitan menjual buah afkir ke pasar tradisional. Warna kulit terong jepang yang hitam pekat berbeda dengan terong lokal yang berwarna ungu terang sehingga kurang diminati konsumen. Akibatnya, sebagian hasil panen hanya dibagikan kepada tetangga.

Menurut Manajer Budidaya PT Indowooyang, Putut Prastowo, standar kualitas terong jepang cukup ketat. Buah yang diterima perusahaan harus memiliki kulit hitam pekat, permukaan mulus, tidak mengandung biji tua, serta tekstur daging buah yang tidak keras.

“Diameter buah juga tidak boleh terlalu besar untuk menghindari buah terlalu tua dan muncul biji cokelat yang tidak disukai konsumen Jepang,” ujar Putut.

Untuk mempermudah seleksi panen, petugas perusahaan biasanya menggunakan cincin pengukur berdiameter 4 cm dan 6 cm sebagai standar ukuran buah.

Parman mengakui salah satu penyebab kegagalan budidayanya ialah perawatan yang kurang maksimal, terutama tidak melakukan pemangkasan. Maklum, saat itu menjadi pengalaman pertamanya menanam terong jepang.

Kondisi berbeda dialami Maskur, pekebun asal Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Ia mampu memanen 2—3 kg buah per tanaman dari total 3.500 tanaman yang dibudidayakan.

“Saya panen hingga 29 kali,” kata Maskur.

Menurut Maskur, kunci keberhasilan budidaya terong jepang ialah perawatan intensif, terutama pemangkasan dan pewiwilan. Ia rutin memangkas daun bagian bawah agar penyemprotan pestisida lebih efektif karena hama biasanya berada di bawah daun.

Ia juga memangkas cabang yang tumbuh di bawah cabang utama serta membuang salah satu bunga yang tumbuh berdempetan. Tujuannya agar nutrisi tanaman terfokus pada pertumbuhan buah terbaik.

Putut menambahkan, disiplin melakukan pruning memberikan banyak keuntungan. Pemangkasan membantu tanaman mengarahkan nutrisi untuk pembesaran buah, bukan pertumbuhan daun berlebihan.

Guru Besar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, M.S., menyatakan pemangkasan dan pewiwilan memang berpengaruh terhadap mutu buah terong.

“Pada tanaman yang dilakukan pewiwilan, asimilat lebih banyak dimanfaatkan untuk pembentukan buah dibanding pembentukan tunas baru,” ujar Agus.

Akibatnya, tanaman yang tidak dipangkas cenderung menghasilkan bobot buah lebih rendah karena hasil fotosintesis lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan batang dan daun.


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This