Thursday, August 18, 2022

Kuning Dinanti, Jingga Didapat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Buah itu lalu dibelah. Tampaklah daging berwarna merah muda. Ketika dicecap, rasanya manis-lebih manis ketimbang buah naga daging merah Hylocereus polyrhizus yang selama ini paling manis. Sayang, Poni belum mengukur kadar gulanya.

Dragon fruit jingga berdaging merah itu tak disangka-sangka hadir di kebun di Blitar, Jawa Timur, itu. ‘Tadinya saya berencana mengebunkan buah naga kuning,’ ujar Poni. Pada 2003 ia memesan 8 bibit buah naga kulit kuning Selenicereus megalanthus setinggi 10 cm dari Haryanto, penangkar buah di Mojokerto.

Bibit buah naga itu kemungkinan berasal dari biji. Musababnya, bibit berupa sulur muda. Bagian ujungnya membulat dan duri masih berupa rambut-rambut halus. Bibit buah naga lazimnya hasil setek dari sulur dewasa dan di ujung bibit terlihat bekas potongan.

Buah kemarau

Dua tahun berselang ke-8 bibit itu belum juga berbuah. ‘Mungkin karena dari biji sehingga lebih lambat berbuah,’ ujar Poni. Agar lebih cepat berbuah, ia menyetek seluruh tanaman hingga menghasilkan 12 bibit. Setahun kemudian, pada awal musim hujan 2006, tanaman hasil setek itu berbunga dan akhirnya berbuah. Anehnya fase berbuah salah satu tanaman lebih lamban yakni hingga 70 hari setelah berbunga. Biasanya 55 hari. Baru pada saat kemarau tanaman itu menghasilkan 3 buah. Yang mengejutkan buahnya berwarna jingga.

Sosok buah berbeda dengan buah naga kuning. Kulitnya ‘bersisik’ mirip buah naga berkulit merah Hylocereus undatus atau H. polyrhizus. Buah naga kuning biasanya tanpa ‘sisik’. Ciri khas buah naga kuning tampak pada duri yang terdapat pada tonjolan di kulit.

Perbedaannya semakin nyata karena saat dibelah daging buah berwarna merah muda. Yellow pitaya lazimnya berdaging putih. Kulit buah lebih tebal dibandingkan dengan buah naga merah.

Silangan alami

Poni buru-buru mengontak Haryanto untuk menanyakan duduk perkara naga jingga itu. ‘Ketika itu sebagian bibit memang saya produksi dari biji. Kemungkinan buah naga jingga itu hasil silangan alami antara buah naga kuning dengan daging merah di kebun saya,’ katanya. Di kebun Haryanto di Mojokerto beberapa jenis buah naga seperti buah naga kuning, merah, dan hitam ditanam berdampingan. Peluang terjadinya persilangan alami dibenarkan Dr Moh Reza Tirtawinata, pakar buah Taman Wisata Mekarsari. ‘Mungkin saja persilangan itu disebabkan angin atau serangga yang membawa serbuk sari hinggap pada bunga tanaman lain,’ ujar Reza.

Semula Poni menduga munculnya warna jingga akibat pemupukan atau kondisi lingkungan. Jadi kelainan itu bersifat sementara. Namun, ketika musim panen berikutnya, sifat buah naga jingga tidak berubah. Sejak itulah ia memperbanyak dengan setek menjadi 8 bibit, lalu ditanam di kebunnya di Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Hingga Agustus 2008, ayah 6 anak itu memanen 3 kg buah naga jingga.

Musim berbuah juga stabil yakni saat kemarau. Padahal, ketika itu biasanya buah naga sepi di pasaran. ‘Oleh sebab itu sangat potensial untuk mengisi kekosongan pasar saat kemarau,’ ujar pensiunan Dinas Perindustrian Kabupaten Blitar itu. Poni pun mengebunkan dalam skala yang lebih luas.

Ia menanam 80 patok buah naga jingga dengan jarak tanam 3 m x 3 m di kebunnya di Desa Karangbendo. Masing-masing patok terdiri atas 6 tanaman. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dengan buah naga merah karena ukuran sulur lebih mungil. Populasi buah naga merah lazimnya 4 tanaman/patok.

Buah mungil

Namun, Reza menyayangkan ukuran buah yang mungil, bobotnya hanya 100 g/buah-sama dengan naga kuning. Konsumen mengenal buah naga merah berbobot hingga 300-400 g/buah. ‘Jadi akan sulit bersaing dengan buah naga yang sudah ada di pasaran,’ katanya.

Ukuran kecil pula yang membuat buah naga kuning tidak begitu populer di tanahair. Padahal, rasa jauh lebih manis ketimbang buah naga berdaging merah. Baru Israel dan Kolumbia yang mengebunkan si kuning secara intensif. Kehadiran duri di permukaan buah juga menjadi ganjalan. Meski duri sebetulnya rontok beberapa hari setelah panen.

Ukuran buah yang mungil diduga karena sulur yang ramping. Akibatnya tanaman tidak mampu mengangkut nutrisi dalam jumlah besar untuk pembentukan buah. Itulah sebabnya kini Poni tengah mencari cara agar buah berukuran jumbo. Ia sedang mencoba menyambung sulur buah naga jingga dengan kaktus berbatang besar. Dengan begitu diharapkan buah naga memiliki pasokan nutrisi yang cukup untuk menggenjot ukuran buah.

Menurut Ir Wijaya MS, mantan peneliti buah di Bogor, ukuran buah mungil bisa jadi karena faktor genetik. Apalagi buah naga jingga mewarisi darah buah naga kuning yang berbuah kecil. ‘Walaupun dipacu dengan pasokan nutrisi yang banyak juga belum tentu berhasil,’ katanya. Untuk memperbaikinya perlu pemuliaan secara genetis. Salah satunya disilangkan dengan tanaman induk yang berbuah besar. Dengan begitu diharapkan mewarisi gen berbuah jumbo. Bila sudah begitu tak mustahil buah naga jingga bakal diterima pasar. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img