Monday, August 15, 2022

Kunyah Winu, Kapan Saja di Mana Saja

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Seperti mafhum, sang ajudan menyorongkan keranjang bambu. Dari sana ia menjumput buah pinang, bunga sirih hijau muda, dan serbuk kapur. Solossa lantas mengunyahnya hingga lumat yang memerahkan bibirnya.

Berjam-jam orang nomor satu di provinsi paling timur itu menikmati kelezatan menyirih. Begitulah Solossa saban hari, pinang, bunga sirih, dan kapur tak jauh dari jangkauannya. Pun bupati Biak Numfor, Yusuf M Maryen SSos MM. Menguyah pinang selalu dilakukan pria bertubuh tambun itu. Bagi masyarakat Papua, tua-muda, pria-perempuan menginang menjadi budaya.

Di mana saja dan kapan saja mereka menikmatinya. Malahan di bandara Sentani pun, menginang tetap dilakukan. Itu Trubus saksikan saat menanti pesawat ke Timika di ruang tunggu. Padahal di beberapa tempat di kawasan bandar udara itu tertera larangan mengkonsumsi pinang. Bukan apa-apa penginang—orang yang makan pinang—acap meludah di sembarang lokasi sehingga tampak kotor. Memang sebagian penginang membawa kaleng untuk membuang limbah.

Malahan di bandara internasional Kualalumpur, Malaysia, orang masih leluasa menikmati pinang. Penghujung Juli silam perempuan bersari—pakaian khas India—berjalan santai sembari menguyah pinang. Masyarakat negeri Anak Benua itu juga mempunyai tradisi mengunyah pinang seperti halnya warga Papua. Pantas di kota-kota besar di Papua seperti Jayapura, Timika, dan Wamena bertebaran penjaja pinang.

Di sana prau–sebutan pinang –menjadi kebutuhan pokok. Seorang penikmat pinang bertutur, “Lebih baik tidak makan (nasi), daripada tidak makan pinang.” Betapa buah kerabat kelapa sawit itu menjadi kebutuhan pokok mengalahkan nasi atau sagu. Pantas di halaman rumah, banyak penjual menggelar dagangannya di atas meja kecil. Lima pinang hijau dan bunga sirih dijajarkan.

Demikian juga di pasar-pasar, seperti yang Trubus saksikan di Pasar Swadaya Timika. Pun saat pasar malam tiba. Selepas mentari tenggelam, para pedagang menggelar lapak sederhana. Selain beragam sayur mayur dan buah, Areca cathecu juga dipasarkan. Harganya Rp1.000 per 5 buah. “Tak perlu susah–susah menjual. Pasang meja dan taruh pinang pasti laku,“ ujar Mak Tuo.

Okomama

Budaya mengkonsumsi pinang juga tumbuh di berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur. Desa Weerame, Kecamatan Wewewa (baca: Wejeva) Timur, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Ketika Trubus menyusuri pedesaan di sana, hampir setiap saat menemukan warga yang menginang. Tua-muda, laki-laki-perempuan semua menguyah winu alias pinang. Bibir dan mulut pun tampak kemerahan.

Fransiskus Badepa, pekebun rempah-rempah, yang ditemui Trubus salah satu di antaranya. Pria separuh baya itu senantiasa mengunyah pinang dengan daun sirih dan kapur. Mereka berhenti mengunyah pinang saat tidur. “Kalau sehari saja tak makan pinang saya merasa pusing,” ujar Fransiskus. Seperti di Papua, pinang juga menjadi komoditas yang dijajakan di pasarpasar di Nusa Tenggara Timur. Harganya Rp15.000 per kg, jauh lebih mahal ketimbang makanan pokok mereka.

Buah seukuran telur ayam kampung itu tak melulu urusan perut. Pinang juga menjadi simbol perdamaian di Nusa Tenggara Timur. Itulah kearifan lokal yang terpelihara hingga kini. Bila terjadi konfl ik dalam masyarakat, misalnya, kedua pihak dipertemukan. Mereka bersumpah untuk menghilangkan permusuhan dan menegakkan perdamaian. Nah, saat sumpah itu diikrarkan mereka memasukkan kedua tangan dalam wadah okomama.

Okomama adalah kotak—ukuran beragam—yang bagian luar dibalut kain tenunan adat. Isi kotak itu tak lain berupa sirih, buah pinang, dan kapur. Okomama itulah yang menjadi simbol perdamaian. Bila suatu ketika Anda berkunjung ke Nusa Tenggara Timur—terutama daerah pegunungan—jangan kaget andai ditawari pinang dalam kotak okomama. Itulah cara mereka menjamu sahabat sejati.

Menolak karena Anda tak terbiasa menginang? Boleh saja dan sebagai gantinya masukkan saja tangan ke dalam okomama. Maka pendatang bakal mudah diterima di sana. Penolakan keduanya—makan pinang dan memasukkan tangan ke okomama—menyebabkan warga setempat curiga terhadap niat di balik kedatangan sang tamu.

Permen

Di Sumatera Barat pinang juga menjadi kebutuhan pokok. Lihatlah Darnisma yang selalu membawa pinang ke mana pun pergi. Sarjana Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu mengulum daging buah usai makan. Namun, acapkali sembari bekerja pun perempuan kelahiran 25 Maret 1976 itu tetap menikmati arequier—sebutan pinang di Perancis. Daging buah dipotong berbentuk kubus berukuran 1 cm x 1 cm.

Sebelumnya daging buah dijemur beberapa saat setelah dikupas. Potongan pinang itulah yang dibawa ke sana ke mari oleh Darnisma dan masyarakat Pasaman, Sumatera Barat lainnya. Pinang dianggap sumber energi bagi sebagian penikmatnya. Itulah yang diyakini Buan, warga Mendalam, Putussibau, Kalimantan Barat. Pria 41 tahun itu bertahun-tahun menjalani pekerjaan sebagai peladang berpindah.

Setiap kali hendak ke ladang, ayah satu anak itu senantiasa mengunyah pinang. Begitu juga di perjalanan. Maklum anak ke-6 dari 8 bersaudara itu berjalan puluhan kilometer tanpa alas kaki. Ketika membuka ladang baru, ia membutuhkan waktu sepekan. Untuk itu ia mesti membawa perbekalan buah pinang. Bagi suku Dayak Kayan seperti Buan, makan pinang—tanpa campuran apa pun—menjadi tradisi.

Secara ilmiah, pinang terbukti antistres (baca: Antidepresi Warisan Nenek Moyang halaman 142). Boleh jadi penginang dikaruniai umur panjang dan gigi kuat. Tertarik menginang? Bagi pemula rasanya sepat dan mengelat. Untuk mengatasinya perlu sirih dan kapur. Biasanya pinang yang menyebabkan pusing itu berwarna kemerahan pada bagian biji ketika dibelah. Jika terjadi demikian segeralah menelan sedikit garam atau minum perasan limau. (Sardi Duryatmo/ Peliput: Dian Adijaya Susanto & Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img