Monday, August 8, 2022

Kunyit Akhiri Derita Hepatitis Akut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Aktivitas sehari-hari dan hobi berkebun terpaksa ditinggalkan. Sepanjang 2002 baginya menjadi tahun penantian kesembuhan yang tak kunjung berakhir. Perhentiannya pada pengobatan tradisional, konsumsi kunyit, menghadiahkan kesehatan itu kembali padanya.

Awalnya ulu hati serasa ditusuk-tusuk sebilah bambu yang diruncingkan. Perut perih, mual, kembung, dan muntah-muntah kerap Otas alami. Kulit di sekitar kuku tampak kuning pucat. Sesungguhnya rasa sakit itu telah ia derita sejak medio 2000. Namun, saking sudah terbiasanya dengan itu, bila gejala menyerang ia menjadi tak begitu peduli. Kesibukannya dalam aktivitas sosial di wilayah Ciwidey, Bandung, dan kecintaan pada tanaman, membuat banyak waktu dihabiskan di luar rumah.

Namun, satu hari di awal 2002, sakit yang telah lama ia pandang sebelah mata menyita perhatiannya. Gejala-gejala yang mulanya ringan menjadi sakit yang tak tertahankan. Sejak itulah ia menghabiskan waktu di pembaringan. Dipan tempatnya berbaring menjadi saksi bisu Otas Kartini menanti kesembuhan.

Diagnosis dokter

Setelah lebih dari 2 tahun berperang melawan sakit, ibu dua cucu itu berobat ke dokter. “Dokter bilang saya mengidap hepatitis dan pembengkakan lambung karena virus,” ujar perempuan kelahiran 1956 itu menirukan ucapan dokter.

Hasil cek laboratorim menunjukkan, kadar bilirubin Otas meningkat hingga 3 mg%. Padahal, normalnya di bawah 1 mg%. SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) dan SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) pun di atas normal hingga mencapai 40 IU dan 35 IU. SGOT normal 17 – 20 IU, SGPT normal 15 – 17 IU.

Rupanya hepatitis yang mengendap selama 2 tahun itu telanjur menjadi akut. Penderitaannya semakin tak terperikan setelah ia terserang maag. Pantas kalau hari-hari dalam satu tahun rasanya teramat panjang bila dihabiskan untuk menahan sakit.

Kunjungan ke tempat dokter praktek langganannya di Bandung seminggu sekali dilakukan. Jika sakit kambuh tiba-tiba, Puskesmas juga kerap mejadi pilihan. Pokoknya konsumsi obat-obatan tak pernah ia tinggalkan. Anjuran dokter untuk menelan interferon—obat medis yang biasa diresepkan untuk hepatitis C—dituruti seminggu tiga kali selama 6 bulan. Namun semuanya tak membuahkan hasil.

Pengobatan alternatif, seperti akupuntur dan jamu-jamuan tak luput dari daft ar pencarian kesembuhan. Bahkan setiap mendengar nama pengobat, langsung didatangi. Lagi-lagi upaya itu pun tak bisa mengembalikan kesehatannya.

Karena riwayat rawat medis yang panjang itulah, semangat untuk terus berusaha sempat surut. Kesembuhan seakan makin jauh dari kehidupannya, sehingga kepasrahan menjadi satu-satunya jalan yang ia dan keluarga bisa lakukan. “Harapan untuk sembuh rasanya sudah tipis sekali,” ujar perempuan kelahiran Bandung itu.

Titik cerah

Tak bisa dipungkiri, sakit yang diderita Otas menimbulkan duka mendalam di benak rekan-rekannya. Tawa sederhana yang kerap ia bagi, kini jarang terdengar. Yeti Suyati, salah satunya. Rekan terbaik sekaligus tetangga dekat Otas Kartini itu turut merasa sedih. Sedikit pengalaman mengenai obat tradisional yang ia tekuni dibeberkan. Darinyalah titik cerah itu makin tampak.

Itu pertengahan 2003. Otas disarankan mengkonsumsi 3 ruas kunyit dan daun pepaya. Rupanya ramuan itu menjadi obat yang cocok untuk sakit Otas. Makanya meski rasanya pahit, Otas tak pernah lalai mengkonsumsi ramuannya.

Ramuan dibuat oleh putri kesayangannya. Sebanyak 3 ruas kunyit dan 1 helai daun pepaya dicampur 3 gelas air direbus hingga tertinggal 1,5 gelas. Selanjutnya d i b l e n d e r h i n g g a seperti jus. “Satu gelas diminum s e h a r I dua kali setelah bangun dan sebelum tidur selama satu minggu,” ucap ibu berparas cantik itu.

Konsumsi rutin itu membuahkan hasil seminggu berselang. “Badan terasa lebih enak. Saya bisa bangun,” tutur pencinta anggrek itu. Nafsu makan pun meningkat, meski dibarengi meningkatnya frekuensi buang air kecil. Yang mengejutkan, beberapa hari kemudian ibu murah senyum itu bisa melenggang ke pasar dan memasak sayur asam kesukaan putrinya.

Kini penderitaan akibat deraan penyakit komplikasi menjadi catatan sejarah tersendiri baginya. Kecintaannya pada obat-obatan tradisional menjadi simbol ungkapan syukur dan terima kasih. (Hanni Sofi a)

Antivirus

Menurut Dr Badruzzaman, Dipl.E.A., Apt., herbalis di Bandung, kunyit mengandung lebih dari 42 alkaloid yang mampu memerangi hepatitis dan tipus. Zat curcumin di dalamnya berperan sebagai antivirus yang sanggup menghadang gempuran radikal bebas penyebab penyakit yang ditimbulkan virus.

Sedangkan kandungan zat papain dalam daun pepaya berkhasiat menetralkan asam lambung. Selain itu papain merupakan basa lemah alami yang relatif tidak berbahaya dalam pemakaian jangka panjang. “Asam dalam lambung akan berikatan dengan basa lemah pada papain sehingga netral,” ujar pensiunan dosen Farmasi ITB itu.

Hal senada disampaikan R. Broto Sudibyo, B.Sc., herbalis di Yogyakarta, kunyit mengandung tanin dan kaya zat antibiotik yang berfungsi sebagai zat antiradang dan menetralkan asam lambung.

Namun menurutnya, konsumsi daun pepaya harus benar-benar diperhatikan sebab getahnya justru membuat iritasi lambung. “Di dalamnya terkandung zat pelunak daging yang bisa berbahaya jika dikonsumsi basah,” ujar alumnus perguruan tinggi di Belanda itu. (Hanni Sofi a)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img