Monday, November 28, 2022

Kupu-kupu di Ekor Oranda

Rekomendasi

 

Oranda lazim dinikmati keindahannya dari samping alias side view. Namun sekitar 25 tahun lalu penangkar di Jepang mulai mengutak-atik maskoki itu agar enak dilihat dari atas. Mereka berhasil menciptakan oranda berpangkal ekor kuat. Sayang ujung-ujung ekornya nglampreh sehingga harapan untuk mendapatkan oranda berekor butterfly tidak terwujud.

Oranda asal Jepang itu kurang menarik. Wajar tidak ada hobiis tanahair mau menangkarkan. ‘Ini karena kelemahan di ekornya,’ kata Bahar. Selain itu, sampai sekarang harga oranda Jepang relatif mahal. Ukuran 12 cm dibandrol Rp3-juta/ekor. Padahal itu bukan kualitas kontes.

Kemunculan oranda butterfly berawal saat Bahardiman mengoleksi oranda semi broadtail betina pada 2006. Oranda itu berekor lebar, tetapi jambulnya tidak berkembang. Berharap mendapatkan oranda broadtail, Bahar menyilangkan kerabat ikan mas itu dengan oranda jantan berekor biasa dan berjambul besar. Hasilnya? Sekitar 90% anakan berekor lebar, tetapi tidak berjambul.

Merah

Alumnus Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Bandung, itu kemudian menyilangkan backcross oranda ekor lebar dengan induknya. Persilangan itu belum juga menelorkan oranda broadtail berjambul dengan sirip ekor lebar dan tulang punggung kokoh. ‘Setelah silangan ketiga baru didapat yang diharapkan,’ katanya.

Nah, di antara oranda broadtail itu terdapat seekor oranda hijau berekor ngepek. ‘Kalau berenang, ekornya selalu menyentuh dasar akuarium seperti ngesot,’ ujar Bahar yang semula berniat membuang maskoki itu. Namun, semakin lama gaya renang oranda hijau itu stabil. Ekornya kian memanjang dan mengembang bak kupu-kupu. Jadilah ia oranda butterfly.

Setelah didapat oranda hijau berekor kupu-kupu, Bahar terdorong untuk menyilangkannya dengan oranda hitam. Si hitam dipilih karena juga berekor panjang. Ia juga elok ditatap dari samping dan atas. Dari hasil silangan itu muncul oranda warna hijau, hitam dan biru butterfly.

Jantan oranda hitam butterfly disilangkan kembali dengan oranda betina RW (red and white) berekor biasa (side view). Didapatlah anakan oranda warna merah besar, tetapi mayoritas side view. ‘Top view-nya sedikit, kualitasnya biasa saja,’ ujar Bahar. Dari total 3.000 ekor anakan, 14 di antaranya berekor butterfly: ada yang bercorak merah, merah-putih, hijau, dan biru. ‘Pertama lihat saya langsung suka. Ekornya benar-benar seperti kupu-kupu,’ ujar Utep Safrudin, hobiis yang memboyong oranda butterfly merah ukuran 6 cm seharga Rp1-juta.

Hingga kini Bahar baru mencetak sebanyak 87 oranda butterfly. Karena jumlahnya terbatas, peminat dibatasi hanya boleh membeli 1 ekor. Bahar mematok harga Rp800.000-Rp1,5-juta/ekor untuk oranda butterfly ukuran 6-8 cm (umur 2,5-3 bulan). Menurut Bahar, harga tinggi sepadan dengan keindahannya. Terbukti saat disertakan pada kontes maskoki Trubus November 2008, oranda butterfly memetik juara ke-2 kategori top view.

Ukuran jumbo

Selain oranda ekor kupu-kupu, Bahar juga tengah menangkarkan ranchu jumbo. Normalnya ukuran ranchu 16-20 cm. Ranchu jumbo ukurannya di atas 22 cm. Ranchu jumbo yang diciptakan Bahar bertubuh hitam legam sepanjang 18 cm dan merah solid berukuran 23 cm. ‘Maskoki-maskoki ini kemungkinan bisa tumbuh sampai ukuran 22-24 cm,’ ujar Bahar.

Ranchu hitam merupakan silangan antara black china ranchu dan black thai ranchu. Anakan disilangkan lagi dengan ranchu kaliko hijau. Kaliko hijau dipilih untuk menguatkan gen ukuran tubuh karena ia juga bersosok jumbo. Black thai diharapkan memberi sumbangan gen hitam dan tubuh berbentuk bulat. Sifat ekor, kepala, dan ukuran tubuh menitis dari black china ranchu. Nah, agar diperoleh warna hitam solid, anakan dikawinsilang dengan induk black thai.

Selain perbaikan genetis, menurut Bahar ranchu jumbo dapat muncul bila calon induk tidak dikawinkan sampai umur 8 bulan. Tujuannya agar terjadi pembuahan sempurna. Hal lain yang penting adalah pakan. Kecukupan pakan memberi pengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Pakan berupa pelet diberikan sekali sehari sebanyak 50 gram untuk 40 ekor. Cacing tanah dapat diberikan sebagai pakan tambahan dengan dosis 0,5 kg/40 ekor. (Tri Susanti/Peliput: Nesia Artdiyasa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img