Saturday, August 13, 2022

Kura-kura Empat Mata

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Keunikan itu menarik perhatian Leonardus Liangdy Ritliany, hobiis di Sleman, Yogyakarta. Leo rela inden selama sebulan demi 3 four eye turtle ukuran 12 cm dari seorang teman di Jakarta. Kura-kura bermata empat itu memang langka. Di tanahair, pemiliknya masih dalam hitungan jari. ‘Ia unik, 4 bulatan hijau atau kuning di belakang kepala persis mata,’ ujar pemilik CV Nugrah Pratama Labelindo itu.

Menurut Leo warna hijau atau kuning menunjukkan kelamin kura-kura air itu: jantan, hijau; betina, kuning. Sementara mata aslinya baik jantan maupun betina sama-sama hitam kecokelatan. Kedua mata ‘palsu’ itu sering digunakan sebagai alat mengelabui musuh alias mimikri. ‘Musuhnya , kucing hutan atau rubah dibuat terbengong-bengong saat 4 mata four eye turtle menatap tajam. Pada kesempatan itulah sang kura-kura kabur,’ kata drh Slamet Raharjo, MP, hobiis reptil di Yogyakarta.

Mata palsu berdasarkan pengamatan Slamet bukan sekadar alat pertahanan, tapi juga sebagai pemikat betina bagi sang jantan. Warnanya semakin cerah saat mendekati betina. Kedua mata palsu itu muncul sejak lahir, yang makin cerah sejalan bertambahnya umur. Namun, mata palsu betina kian dewasa semakin kusam.

Kepala besar

Yang kepincut kura-kura baru tak hanya Leonardus. Nun di Surabaya, Budi Wonosasmito tergila-gila pada chinese yellow edge box turtle. ‘Penampilannya mempesona, mirip ambonensis,’ ujar Budi.

Di kepala kura-kura asal China itu terdapat garis kuning. Jantan Cuora flavomarginata memiliki ekor lebar dan panjang ketimbang betina. Saat berkopulasi, pipi kuning jantan memerah bak memakai perona pipi.

Satu lagi kura-kura yang menjadi koleksi Budi adalah big headed turtle Platysternon megacephalum. Sesuai namanya kura-kura itu memiliki ukuran kepala setengah kali lebih besar dari pada karapas. Gara-gara itu big headed tak dapat bersembunyi dalam karapas saat bertemu predator. Beruntung, di atas, samping, dan kiri-kanan kepala terdapat tanduk bersisik serta taring tajam untuk melawan musuh.

Dengan cakar kuat dan ekor kecil, kura-kura yang hidup sampai 27 tahun itu piawai memanjat bebatuan, bahkan tanaman perdu dan pohon. Saat berenang ekornya akan melengkung sehingga kedua kaki seimbang.

Langka

Untuk mendatangkan ketiganya bukan perkara mudah. ‘Dibutuhkan izin dari negara asal dan harus dari penangkaran,’ kata Slamet. Harap mahfum, ketiganya masuk dalam daftar merah International Union on Th e Conservation of Nature (IUCN) lantaran populasinya terancam punah. ‘Four eye turtle masuk appendix II karena di tempat asalnya China, Laos, dan Vietnam sudah jarang,’ tambah dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada itu.

Itu membuat harga jual para penghuni air di daratan Asia itu tinggi. Untuk mendapatkan four eye turtle, Leo rela membayar seharga Rp1,7-juta/ekor. Sedangkan Budi mengeluarkan uang senilai Rp1,5-juta/ekor untuk big headed dan Rp2,5-juta/ekor untuk chinese yellow edge box turtle.

Kura-kura air lain yang mahal lantaran langka dan masuk daft ar merah IUCN adalah spotted pond turtle dan burmese eyed turtle. Keduanya kini mulai dikumpulkan kolektor di tanahair. ‘Kedua jenis itu memang belum ditangkarkan karena harus menunggu 5 tahun lagi sampai siap pijah,’ tutur Leo.

Rentan stres

Ketiga kura-kura air pendatang baru itu rentan stres. ‘Butuh tempat luas supaya dapat beradaptasi dengan lingkungan baru,’ ucap Leo. Karena itu pria berusia 44 tahun itu menaruh kura-kura air dalam boks berukuran 80 cm x 40 cm x 30 cm dengan ketinggian air 6 cm. Selain itu, air sebagai media harus bersih.

Agar terbebas dari cendawan, Leo memakai filter biologis berisi bioball dan mate. Setiap 3 hari diganti 100%. Namun, bila tidak memakai filter, ‘Sebaiknya air diganti 100% setiap hari,’ kata Budi. Bersamaan itu akuarium dicuci dan kura-kura dijemur selama 15-30 menit. ‘Big headed tidak dijemur karena ia suka suhu dingin,’ tambahnya. Suhu dijaga 24-26°C dan pH berkisar 6. Namun, untuk big headed suhu air lebih dingin, sekitar 21-22°C.

Mereka termasuk omnivora yang menyukai ikan kecil, ulat hongkong, dan buah. Makanya untuk C. flavomarginata, setiap hari Budi memberikan jangkrik dan ulat hongkong secara bergantian. ‘Kura-kura dewasa diberi tikus kecil, ‘ujar pemilik Turtle World itu. Menu itu sama dengan big headed. Sedangkan S. quadriocellata lebih memilih buah-buahan seperti apel, pepaya, dan pisang. (Lastioro Anmi Tambunan/ Peliput: A. Arie Raharjo & Nesia Artdiyasa).

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img