Kurma menjadi pilihan populer untuk berbuka puasa karena kemampuannya mengembalikan energi tubuh dengan cepat. Buah yang telah menjadi pangan pokok masyarakat Timur Tengah selama ribuan tahun itu kaya gula alami, serat, vitamin, dan mineral yang diperlukan setelah seharian berpuasa.
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Prof. Ahmad Sulaeman, menjelaskan bahwa komponen nutrisi kurma efektif membantu pemulihan energi. “Kurma adalah sumber energi yang cepat, tinggi gula alami, dan bisa mengembalikan kadar gula darah kita ke normal,” ujar Ahmad.
Selain sebagai pengembali energi, kurma juga menyediakan serat tinggi yang menolong kelancaran pencernaan dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Konsumsi sekitar tiga butir kurma sudah dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan energi awal saat berbuka bagi kebanyakan orang.
Kurma juga mengandung mineral penting seperti kalsium dan magnesium. Kalsium berperan dalam fungsi saraf dan otot serta membantu menjaga keseimbangan elektrolit yang menurun selama puasa. Sementara magnesium berperan dalam ratusan reaksi biokimia tubuh.
Buah ini juga banyak dibahas manfaatnya bagi ibu hamil karena kandungan alami yang diduga mendukung persiapan otot rahim dan kerja hormon menjelang persalinan. Meski begitu konsumsi kurma tetap perlu disesuaikan kondisi kesehatan individu. Terutama pada ibu dengan diabetes gestasional.
Masa simpan kurma bergantung pada jenisnya. Kurma kering umumnya lebih tahan lama dibanding kurma basah. Untuk menjaga mutu, perlu memperhatikan cara penyimpanan dan pengepakan.
“Pastikan kurma disimpan di tempat yang sejuk dan tertutup rapat karena tetap memiliki masa kedaluwarsa,” kata Ahmad yang juga pakar nutrition and food safety. Saat membeli, pilih kemasan tertutup, periksa tanggal kedaluwarsa, serta teliti warna, tekstur, dan aroma buah. Kulit utuh dan aroma segar menandakan mutu baik.
Kurma bukan sekadar hidangan manis untuk membuka puasa. Melainkan sumber energi alami yang kaya nutrisi. “Kecil bentuknya, tetapi besar manfaatnya,” kata Ahmad.
